Risiko Diabetes dan Hipertensi Usia Dewasa Mengintai Anak Stunting
Dua anak kembar stunting yang mendapatkan bantuan gizi, Senin (5/5/2025) (KOMPAS.COM/FITRI ANGGIAWATI)
15:36
28 Januari 2026

Risiko Diabetes dan Hipertensi Usia Dewasa Mengintai Anak Stunting

- Stunting pada anak ternyata tidak berhenti sebagai persoalan berat dan tinggi badan saja. Kondisi ini berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes dan hipertensi saat dewasa.

“Kalau menurut penelitian, risikonya itu kira-kira dua sampai tiga kali lipat lebih besar untuk mengalami diabetes dan hipertensi,” tutur dokter spesiali anak dari Primaya Hospital Kelapa Gading, dr Susanti Himawan saat diwawancarai via Google Meet, Rabu (28/1/2026).

Ia menyebutkan, bukti ilmiah menunjukkan anak-anak stunting mengalami perubahan metabolisme tubuh yang berlangsung dalam jangka panjang.

Salah satu perubahan metabolisme tubuh tersebut adalah meningkatnya resistensi insulin, kondisi ketika tubuh tidak merespons insulin secara efektif, yang menjadi salah satu faktor utama terjadinya diabetes.

“Sehingga kalau stunting, terutama pada masa balita yang berlanjut lama hingga masa remaja nanti, ketika remaja bisa menjadi resiko diabetes karena masalah resistensi insulin tersebut,” terang dr. Susanti.

Baca juga: Stunting Bukan Urusan Kaum Ibu Saja

 

Dokter spesialis anak sekaligus konselor laktasi, dr. Susanti Himawan, Sp.A, yang berpraktik di Primaya Hospital Kelapa Gading.dok. Primaya Hospital Group Dokter spesialis anak sekaligus konselor laktasi, dr. Susanti Himawan, Sp.A, yang berpraktik di Primaya Hospital Kelapa Gading.

Stunting dan risiko hipertensi

Selain diabetes, stunting juga dikaitkan dengan risiko hipertensi. Hal ini masih berhubungan dengan kelainan metabolisme jangka panjang yang terjadi dalam tubuh anak stunting.

Menurut dokter yang juga berpraktik sebagai konselor laktasi ini, kelainan metabolisme tersebut menyebabkan predisposisi, atau penempatan dari lemak, menjadi pada tempat yang tidak seharusnya.

“Jadi, lemak-lemaknya dia memang kan adanya sedikit nih karena terjadi malnutrisi kronis, tapi lemaknya itu disimpannya pada lemak organ dalam atau lemak visceral,” jelas dr. Susanti.

Baca juga: Protein Hewani Jadi Kunci Cegah Stunting, Ini Penjelasan IDAI

Lemak visceral adalah lemak yang tersimpan di sekitar organ dalam. Jika kondisi ini berlangsung lama, risiko tekanan darah tinggi meningkat.

“Hal ini yang menyebabkan, pada akhirnya nanti kalau berlangsung jangka panjang, bisa terjadi hipertensi. Jadi memang benar ada kaitannya antara stunting dengan diabetes dan hipertensi,” ucap dia.

Karena itu, penanganan stunting sejak dini sangatlah penting agar dampak jangka panjang tersebut bisa dicegah, lantaran risiko terkena diabetes dan hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak stunting.

Apa itu stunting?

Setelah memahami risikonya, dr. Susanti menekankan betapa pentingnya untuk meluruskan pemahaman mengenai stunting di kalangan masyarakat, yang masih banyak kekeliruan.

Ia mengatakan bahwa tidak semua anak bertubuh pendek otomatis mengalami stunting. Ini berkaitan dengan perbedaan antara “stunting” dan “stunted”.

Baca juga: Malnutrisi Ganda: Saat Stunting dan Obesitas Berjalan Beriringan

“Stunted dengan stunting itu berbeda ya. Jadi, kalau perawakan pendek secara umum, itu dibilangnya ‘stunted’, sedangkan ‘stunting’ itu memang dia perawakan pendek yang disebabkan oleh malnutrisi kronis, atau memang penyakit kronis yang berulang,” jelas dr. Susanti.

Ia juga menegaskan bahwa anak dengan kelainan hormonal yang menyebabkan tubuhnya pendek tidak termasuk kategori stunting.

Ilustrasi diabetes. Pencegahan diabetes tidak selalu dimulai dari obat, tetapi dari perubahan kecil dalam pola hidup sehari-hari yang konsisten dan terukur.Pexels/Nataliya Vaitkevich Ilustrasi diabetes. Pencegahan diabetes tidak selalu dimulai dari obat, tetapi dari perubahan kecil dalam pola hidup sehari-hari yang konsisten dan terukur.

Stunting erat kaitannya dengan kekurangan gizi dalam waktu lama. Anak yang dalam periode panjang tidak mendapatkan asupan gizi memadai, dapat mengalami hambatan pertumbuhan tinggi badan.

“Anak yang kurus lama karena kurang gizi yang lama, dia lama-lama menjadi pendek. Baru itu dibilangnya stunting,” pungkas dr. Susanti.

Baca juga: Bahaya Anemia: Tubuh Terlihat Sehat tapi Kekurangan Zat Besi

Kondisi stunting di Indonesia

Saat ini, kondisi stunting di Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dikutip dari situs web Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

Angka prevalensi nasional berhasil ditekan hingga 19,8 persen pada tahun 2024. Capaian tersebut merupakan hasil intervensi yang dilakukan selama lima tahun terakhir.

Tag:  #risiko #diabetes #hipertensi #usia #dewasa #mengintai #anak #stunting

KOMENTAR