Vokalis Element Lucky Widja Meninggal Dunia, Ini Penjelasan soal Cuci Darah yang Dijalaninya
Lucky Widja sempat menderita TB ginjal di tahun 2022. Vokalis Element Lucky Widja meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani terapi cuci darah akibat gangguan ginjal.(Instagram @luckywidja)
10:24
26 Januari 2026

Vokalis Element Lucky Widja Meninggal Dunia, Ini Penjelasan soal Cuci Darah yang Dijalaninya

Vokalis band Element, Lucky Widja, meninggal dunia pada Minggu (25/1/2026) setelah berjuang melawan gangguan ginjal yang membuatnya harus menjalani terapi cuci darah.

Kepergian Lucky kembali menyoroti beratnya hidup pasien dengan gangguan ginjal kronis yang bergantung pada cuci darah sebagai terapi penopang kehidupan.

Perjuangan Lucky Widja melawan gangguan ginjal

Kabar duka wafatnya Lucky pertama kali disampaikan oleh rekan satu bandnya, Ferdy Tahier, melalui unggahan di media sosial.

Dalam pesan perpisahannya, Ferdy menyinggung kondisi kesehatan Lucky yang dalam beberapa tahun terakhir harus menjalani cuci darah dan menggunakan bantuan oksigen, seperti diberitakan Kompas.com, Senin (26/1/2026).

Sebelum meninggal dunia, Lucky diketahui menderita tuberkulosis (TB) ginjal sejak 2022, penyakit langka yang menyerang hampir seluruh saluran kemih.

Kondisi tersebut membuat fungsi ginjal Lucky menurun drastis, ditandai dengan penyusutan salah satu ginjal dan pembengkakan pada ginjal lainnya.

Ketika ginjal tak lagi bekerja normal

Ilustrasi ginjal. Vokalis Element Lucky Widja meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani terapi cuci darah akibat gangguan ginjal.Shutterstock/Sasirin Pamai Ilustrasi ginjal. Vokalis Element Lucky Widja meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani terapi cuci darah akibat gangguan ginjal.

Gangguan ginjal kronis terjadi ketika ginjal tidak lagi mampu menyaring racun dan kelebihan cairan dari darah secara optimal.

Dalam kondisi ini, terapi pengganti ginjal seperti cuci darah menjadi langkah penting untuk mempertahankan fungsi tubuh dan mencegah komplikasi yang lebih berat.

Mengutip National Kidney Foundation, cuci darah atau hemodialisis merupakan terapi penyelamat nyawa yang membantu menggantikan sebagian fungsi ginjal yang telah rusak.

Apa itu cuci darah dan bagaimana cara kerjanya

Hemodialisis bekerja dengan mengalirkan darah pasien ke dalam mesin khusus yang dilengkapi dialyzer atau ginjal buatan.

Di dalam alat tersebut, sisa metabolisme dan cairan berlebih disaring sebelum darah dikembalikan ke tubuh.

Melansir Cleveland Clinic, prosedur ini umumnya dilakukan dua hingga tiga kali dalam sepekan, dengan durasi sekitar tiga sampai empat jam per sesi, tergantung kondisi pasien.

Siapa yang perlu menjalani cuci darah

Tidak semua penderita gangguan ginjal harus langsung menjalani cuci darah, tetapi terapi ini dibutuhkan ketika fungsi ginjal telah menurun ke tahap lanjut.

Cuci darah umumnya diperlukan pada pasien gagal ginjal stadium akhir, ketika fungsi ginjal tersisa sekitar 10–15 persen dan tidak lagi mampu menjaga keseimbangan cairan serta membuang racun dari tubuh.

Cuci darah juga dapat diberikan pada kondisi gagal ginjal akut yang berat, terutama bila terjadi penumpukan racun, gangguan elektrolit, atau kelebihan cairan yang mengancam nyawa.

Dikutip dari laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, Selasa (2/8/2022), keputusan memulai cuci darah didasarkan pada kondisi klinis pasien, hasil pemeriksaan laboratorium, serta munculnya gejala seperti sesak napas, pembengkakan, kelelahan berat, dan mual.

Tantangan fisik selama menjalani cuci darah

Meski bersifat menyelamatkan nyawa, cuci darah bukan tanpa tantangan.

Pasien hemodialisis kerap mengalami kelelahan, tekanan darah rendah, pusing, mual, hingga kram otot setelah prosedur.

Cuci darah tidak menyembuhkan penyakit ginjal, melainkan membantu menjaga keseimbangan tubuh ketika ginjal sudah tidak mampu pulih.

Dampak pada kualitas hidup pasien

Pasien gagal ginjal kronis yang menjalani cuci darah sering mengalami penurunan kualitas hidup.

Gejala seperti gangguan tidur, gatal-gatal, sesak napas, penurunan nafsu makan, dan kelelahan berkepanjangan dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Selain dampak fisik, kondisi mental pasien juga perlu mendapat perhatian karena depresi dan stres psikologis kerap menyertai perjalanan panjang cuci darah.

Pentingnya deteksi dini penyakit ginjal

Banyak kasus gangguan ginjal baru terdeteksi ketika sudah memasuki tahap lanjut.

TB ginjal, seperti yang dialami Lucky Widja, termasuk penyakit yang jarang dan sering terlambat dikenali karena gejalanya tidak selalu khas di tahap awal.

Pemeriksaan fungsi ginjal secara rutin dan penerapan gaya hidup sehat menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang berujung pada kebutuhan cuci darah jangka panjang.

Tag:  #vokalis #element #lucky #widja #meninggal #dunia #penjelasan #soal #cuci #darah #yang #dijalaninya

KOMENTAR