Peluang Terbuka dan Tantangan Berat UMKM Kopi Indonesia di WEF Davos 2026
UMKM kopi lokal dari Indonesia tampil di WEF Davos. (Istimewa)
17:36
30 Januari 2026

Peluang Terbuka dan Tantangan Berat UMKM Kopi Indonesia di WEF Davos 2026

Kopi artisan asal Medan, Coffeenatics menjadi salah satu wajah UMKM Indonesia yang ditampilkan di Paviliun Indonesia pada ajang World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, beberapa waktu lalu. Kehadiran pelaku usaha kecil di forum ekonomi dunia ini menyoroti peluang sekaligus tantangan UMKM lokal dalam menembus pasar global yang semakin kompetitif.

Partisipasi Coffeenatics difasilitasi Grab Indonesia, yang membawa mitra UMKM sebagai bagian dari narasi ekonomi digital inklusif. WEF Davos selama ini dikenal sebagai ruang dialog strategis bagi pemimpin negara, pelaku usaha, dan organisasi internasional untuk membahas arah ekonomi global, termasuk peran digitalisasi dan keberlanjutan.

Di tengah perlambatan ekonomi global dan meningkatnya perhatian pada rantai pasok berkelanjutan, kehadiran UMKM kopi dari Indonesia menjadi simbol potensi sektor ekonomi rakyat untuk terlibat dalam percakapan lintas negara. Namun, pengamat menilai, tampil di forum global juga menuntut kesiapan standar kualitas, konsistensi pasokan, serta tata kelola usaha yang belum tentu mudah dipenuhi oleh UMKM.

Coffeenatics merupakan usaha kopi artisan yang berdiri sejak 2015 dan berbasis di Medan serta Jakarta. Selain menyasar pasar domestik, produk mereka telah memasuki pasar Singapura.

Perusahaan ini bekerja sama dengan petani kopi di Sumatera dan Bali. Sekaligus mengembangkan pelatihan bagi komunitas kopi lokal.

Executive Director dan Co-Founder Coffeenatics Harris Hartanto Tan menilai, kehadiran di Davos memberi pengalaman baru bagi pelaku UMKM. Forum internasional membuka akses jejaring dan pemahaman terhadap standar global yang semakin relevan bagi industri kopi.

”Bagi UMKM, tantangannya bukan hanya ekspansi, tetapi kesiapan sumber daya manusia dan dampak sosial yang dihasilkan,” ujar Harris Hartanto Tan melalui keterangannya.

Di sisi lain, Grab Indonesia menyatakan kehadirannya di WEF Davos 2026 tidak hanya untuk membawa UMKM. Tapi juga untuk terlibat dalam diskusi mengenai masa depan ekonomi digital.

Chief Executive Officer Grab Indonesia Neneng Goenadi tampil dalam salah satu panel yang membahas peran teknologi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Grab mengaitkan partisipasi ini dengan program Grab untuk Indonesia senilai Rp 100 miliar, yang mencakup perlindungan sosial bagi mitra, insentif kinerja, serta pengembangan kapasitas melalui pelatihan digital.

Program tersebut sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperluas jangkauan perlindungan sosial dan mendorong ekonomi digital. Meski demikian, tantangan ekonomi inklusif masih menjadi pekerjaan rumah besar. Digitalisasi UMKM kerap dihadapkan pada kesenjangan literasi teknologi, akses pembiayaan, hingga ketergantungan pada platform.

Data Grab mencatat lebih dari 200 ribu UMKM telah terdigitalisasi dalam ekosistemnya, dengan kontribusi terhadap jutaan lapangan kerja sejak 2018. Kehadiran UMKM Indonesia di WEF Davos 2026 memperlihatkan peluang bagi pelaku usaha daerah untuk naik kelas.

”Namun, kesinambungan dampak dan pemerataan manfaat ekonomi digital tetap bergantung pada kolaborasi jangka panjang antara pemerintah, platform teknologi, dan pelaku usaha itu sendiri,” ucap Neneng Goenadi.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah

Tag:  #peluang #terbuka #tantangan #berat #umkm #kopi #indonesia #davos #2026

KOMENTAR