Keluarga Lisa Mariana Keracunan Kepiting Alaska, Ini Penjelasan Medis dan Risikonya
Tangkapan layar akun Instagram Lisa Mariana @lisamarianaaa. Insiden keracunan yang dialami keluarga Lisa Mariana setelah mengonsumsi kepiting alaska menjadi pengingat bahwa seafood berisiko tinggi bila tidak ditangani dengan benar.(Instagram/@lisamarianaaa)
15:06
30 Januari 2026

Keluarga Lisa Mariana Keracunan Kepiting Alaska, Ini Penjelasan Medis dan Risikonya

Keluarga Lisa Mariana mengalami keracunan setelah mengonsumsi kepiting alaska yang dikirim ke rumah mereka, hingga membuat sang ibu harus menjalani perawatan medis.

Peristiwa ini diungkap langsung Lisa melalui media sosial dan segera memicu perhatian publik soal keamanan pengolahan makanan laut berisiko tinggi.

Baca juga: Keracunan Makanan, Ini Makanan dan Minuman yang Bantu Pemulihan Menurut Pakar

Kronologi keracunan diungkap lewat media sosial

Peristiwa keracunan kepiting alaska tersebut pertama kali diungkap Lisa Mariana melalui akun Instagram pribadinya, @lisamarianaaa, pada Rabu (28/1/2026).

Dalam unggahan itu, Lisa menjelaskan bahwa keluarganya mengonsumsi kepiting alaska yang dikirim oleh sebuah restoran, sebelum kemudian mengalami gejala keracunan.

“Kemarin dikirim kepiting alaska sama salah satu resto. Kita semua tahu kepiting alaska itu harus ada di suhu tertentu. Satu keluarga saya kena bakteri sampai ibu saya dirawat,” tulis Lisa.

Lisa juga menyampaikan harapannya agar pelaku usaha makanan laut lebih memahami standar keamanan pangan, khususnya untuk seafood berisiko tinggi, serta melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Baca juga: Beda Keracunan dan Alergi Makanan pada Anak, Ini Kata IDAI

Mengapa kepiting alaska rentan menyebabkan keracunan?

Ilustrasi kepiting. Insiden keracunan yang dialami keluarga Lisa Mariana setelah mengonsumsi kepiting alaska menjadi pengingat bahwa seafood berisiko tinggi bila tidak ditangani dengan benar.UNSPLASH/MAE MU Ilustrasi kepiting. Insiden keracunan yang dialami keluarga Lisa Mariana setelah mengonsumsi kepiting alaska menjadi pengingat bahwa seafood berisiko tinggi bila tidak ditangani dengan benar.

Dikutip dari laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Jumat (5/8/2022), makanan laut, termasuk kepiting, sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kebersihan selama proses penyimpanan dan distribusi.

Dalam keterangan resmi Kemenkes, keracunan makanan laut kerap terjadi akibat pengawetan atau pendinginan yang tidak sesuai standar.

Pasalnya, mikroorganisme dan toksin dapat berkembang bila makanan laut tidak disimpan dengan baik, dan ini berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Risiko tersebut meningkat pada produk premium seperti kepiting alaska yang memerlukan suhu dingin stabil sejak distribusi hingga penyajian.

Baca juga: Waspadai Efek Jangka Panjang Keracunan Makanan

Gejala keracunan makanan laut

Mengutip laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Senin (18/3/2024), gejala keracunan makanan laut umumnya muncul dalam waktu singkat setelah konsumsi.

Keluhan yang sering dialami meliputi:

  • Mual
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Diare
  • Sakit kepala
  • Rasa lemas

Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami sesak napas, penurunan kesadaran, bahkan pingsan, sehingga membutuhkan penanganan medis segera.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta berisiko mengalami gejala lebih berat.

Baca juga: Jenis Bakteri dan Virus yang Sering Sebabkan Keracunan Makanan

Kapan harus mencari pertolongan medis?

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila gejala keracunan tidak membaik atau semakin berat.

Penanganan dini dinilai penting untuk mencegah komplikasi, terutama bila muncul gangguan pernapasan, nyeri perut hebat, atau penurunan kesadaran.

Sebagian besar kasus keracunan makanan dapat ditangani dengan baik bila mendapatkan pertolongan tepat waktu.

Baca juga: Keracunan Makanan pada Anak: Kenali Gejala, Penyebab, dan Pertolongan Pertama

Pentingnya standar keamanan pangan

Kasus yang dialami keluarga Lisa Mariana menjadi pengingat pentingnya penerapan standar keamanan pangan secara konsisten.

Pengawasan ketat pada proses pengolahan, penyimpanan, dan penyajian makanan laut sangat diperlukan.

Edukasi kepada pelaku usaha dan masyarakat dinilai krusial agar konsumsi seafood tetap aman dan tidak menimbulkan risiko kesehatan.

Keamanan pangan, menurut Kemenkes, merupakan tanggung jawab bersama demi melindungi konsumen dan mencegah kejadian serupa.

Baca juga: Keracunan Vitamin B6 Bisa Ganggu Saraf, Begini Penjelasan dan Cara Mencegahnya

Tag:  #keluarga #lisa #mariana #keracunan #kepiting #alaska #penjelasan #medis #risikonya

KOMENTAR