Psikiater Ingatkan, Perilaku Seksual Sehat Harus Privat dan Terkontrol
Perilaku seksual yang sehat tidak hanya ditentukan oleh adanya kesepakatan antarindividu, tetapi juga oleh konteks ruang dan dampaknya terhadap orang lain.
Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa pemahaman tentang perilaku seksual sehat perlu diluruskan agar masyarakat tidak menyederhanakan konsep konsen hanya sebagai persetujuan antar pelaku.
“Perilaku seksual yang sehat selalu melibatkan tanggung jawab sosial, bukan hanya kepuasan pribadi,” kata Lahargo dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Rabu (21/1/2026).
Seksualitas sehat tidak lepas dari kontrol diri
Dalam perspektif psikologi, seksualitas mencakup lebih dari sekadar dorongan biologis.
Menurut Lahargo, seksualitas juga melibatkan identitas, orientasi, perilaku, serta nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
Dorongan seksual dinilai sebagai hal yang manusiawi, tetapi cara mengekspresikannya harus berada dalam kendali diri dan mempertimbangkan orang lain.
“Seksualitas itu manusiawi, tetapi ekspresinya harus beradab,” ujar Lahargo.
Prinsip dasar perilaku seksual yang sehat
Ilustrasi perilaku seksual. Perilaku seksual yang sehat harus dilakukan di ruang privat dan dalam kendali diri agar tidak merugikan orang lain.
Lahargo menjelaskan terdapat beberapa prinsip utama yang menjadi dasar perilaku seksual sehat dalam kesehatan mental dan seksologi.
Perilaku seksual harus dilakukan secara konsensual, artinya semua pihak yang terlibat memahami dan menyetujui tindakan tersebut secara sadar.
Aktivitas seksual juga harus dilakukan di ruang privat dan sesuai konteks, bukan di ruang publik yang diakses oleh orang lain tanpa persetujuan mereka.
Selain itu, perilaku seksual tidak boleh menimbulkan rasa tidak aman, trauma, jijik, atau ketidaknyamanan pada pihak lain.
Prinsip penting lainnya adalah kontrol diri, yaitu kemampuan menahan dorongan seksual agar tidak menguasai akal sehat dan penilaian moral.
Mengapa konsen tidak hanya antar pelaku?
Menurut Lahargo, salah satu kesalahan pemahaman yang sering terjadi adalah menganggap konsen hanya berlaku di antara dua orang yang terlibat langsung.
Padahal, dalam konteks ruang publik, konsen juga berkaitan dengan orang lain yang berada di sekitar.
“Ketika aktivitas seksual dilakukan di ruang publik, orang lain secara tidak langsung dipaksa menjadi saksi tanpa persetujuan mereka,” kata Lahargo.
Kondisi ini membuat perilaku tersebut bermasalah, meskipun dilakukan atas dasar kesepakatan antar pelaku.
Ruang publik memiliki batas sosial
Ruang publik memiliki fungsi sosial sebagai ruang aman, netral, dan bebas dari eksploitasi seksual.
Lahargo menjelaskan bahwa perilaku seksual eksplisit di ruang publik dapat melanggar batas sosial dan hak orang lain untuk merasa aman.
Dampaknya tidak hanya berupa rasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi memicu trauma, terutama pada anak-anak dan penyintas kekerasan seksual.
Dalam konteks ini, perilaku seksual di ruang publik dapat dikategorikan sebagai bentuk pelecehan seksual tidak langsung.
Perilaku sehat bukan soal orientasi seksual
Lahargo menegaskan perilaku seksual sehat atau tidak sehat tidak ditentukan oleh orientasi seksual. Orientasi seksual tidak otomatis berkaitan dengan pelanggaran norma atau etika.
“Perilaku yang melanggar batas bisa dilakukan oleh siapa saja jika kontrol diri dan empati gagal,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menyamaratakan atau menstigma kelompok tertentu.
Edukasi seksualitas perlu diperkuat
Menurut Lahargo, pemahaman tentang perilaku seksual sehat perlu diperkuat melalui edukasi yang tepat dan berbasis ilmu.
Edukasi ini penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kebebasan seksual selalu dibatasi oleh hak orang lain.
“Seksualitas membutuhkan tanggung jawab, terutama di ruang bersama,” kata dia.
Pemahaman yang utuh diharapkan dapat membantu masyarakat bersikap tegas terhadap perilaku yang melanggar batas, tanpa kehilangan empati dan nalar.
Tag: #psikiater #ingatkan #perilaku #seksual #sehat #harus #privat #terkontrol