Ilmuwan Usulkan Cara Baru Menilai Obesitas, Tak Lagi Bertumpu pada BMI
Ilustrasi obesitas. Para ahli menilai obesitas perlu diukur lebih dari sekadar tinggi dan berat badan karena dampaknya berkaitan langsung dengan lemak tubuh.(Unsplash)
13:42
22 Januari 2026

Ilmuwan Usulkan Cara Baru Menilai Obesitas, Tak Lagi Bertumpu pada BMI

Indeks massa tubuh atau BMI yang selama ini digunakan sebagai standar penilaian obesitas dinilai tidak lagi akurat, setelah para ilmuwan internasional mendorong cara ukur baru yang menitikberatkan pada lemak perut sebagai indikator risiko kesehatan yang lebih relevan.

Temuan ini disampaikan oleh lebih dari 50 pakar di bidang nutrisi, endokrinologi, dan kesehatan masyarakat dalam laporan yang dimuat di jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinolog.

Para ahli menilai, pendekatan lama yang hanya mengandalkan berat dan tinggi badan tidak cukup untuk menggambarkan kondisi kesehatan seseorang secara menyeluruh.

BMI dinilai terlalu sederhana

BMI selama puluhan tahun digunakan sebagai alat utama untuk menentukan apakah seseorang berada dalam kategori berat badan sehat, kelebihan berat badan, atau obesitas.

Namun, laporan The Lancet menyebut metode ini memiliki keterbatasan serius karena tidak memperhitungkan komposisi dan distribusi lemak tubuh.

“Pengukuran obesitas berbasis BMI dapat mengarah pada penilaian yang keliru, baik dengan melebihkan maupun meremehkan risiko kesehatan,” tulis tim peneliti dalam laporan tersebut.

Sebagai contoh, atlet dengan massa otot besar bisa masuk kategori obesitas meski kadar lemak tubuhnya rendah, sementara seseorang dengan BMI normal dapat memiliki lemak berlebih di sekitar organ vital.

Lemak perut dianggap lebih mewakili risiko

Ilustrasi obesitas. Para ahli menilai obesitas perlu diukur lebih dari sekadar tinggi dan berat badan karena dampaknya berkaitan langsung dengan lemak tubuh.Freepik/atlascompany Ilustrasi obesitas. Para ahli menilai obesitas perlu diukur lebih dari sekadar tinggi dan berat badan karena dampaknya berkaitan langsung dengan lemak tubuh.

Komisi ilmuwan yang menyusun laporan tersebut menyebut lemak di area perut jauh lebih mencerminkan dampak obesitas terhadap kesehatan.

Lemak visceral, yaitu lemak yang menyelimuti organ dalam, diketahui berkaitan erat dengan diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan gangguan metabolik.

Pengukuran lemak perut dapat dilakukan melalui lingkar pinggang, rasio pinggang-pinggul, rasio pinggang-tinggi badan, atau pemeriksaan pencitraan medis.

“Distribusi lemak tubuh memberikan informasi yang lebih bermakna tentang fungsi organ dan risiko penyakit dibanding angka BMI semata,” tulis peneliti.

Obesitas diposisikan sebagai penyakit

Laporan tersebut juga menyoroti perdebatan lama tentang definisi obesitas.

Selama ini, obesitas kerap dipandang sebagai faktor risiko penyakit lain, bukan sebagai penyakit itu sendiri.

Komisi ilmuwan ini mengusulkan agar obesitas klinis dipahami sebagai kondisi penyakit kronis yang secara langsung memengaruhi fungsi organ dan jaringan akibat kelebihan lemak tubuh.

Pendekatan ini bertujuan membantu dokter dalam membuat keputusan klinis yang lebih tepat, termasuk menentukan prioritas terapi dan intervensi kesehatan masyarakat.

Dampak bagi diagnosis dan kebijakan kesehatan

Melansir People, perubahan cara menilai obesitas ini berpotensi mengubah praktik medis dan kebijakan kesehatan publik.

Penilaian yang lebih akurat memungkinkan diagnosis yang lebih tepat sasaran, sekaligus mengurangi stigma terhadap orang dengan BMI tinggi tetapi kondisi kesehatannya baik.

Para peneliti menegaskan fokus penanganan obesitas seharusnya bergeser dari sekadar angka timbangan ke dampaknya terhadap kesehatan dan kualitas hidup.

“Tujuan utamanya adalah memahami bagaimana kelebihan lemak memengaruhi tubuh, bukan sekadar mengelompokkan berat badan,” tulis peneliti.

Usulan ini menandai perubahan besar dalam cara dunia medis memandang obesitas.

Penilaian yang lebih menyeluruh diharapkan mampu menghasilkan diagnosis yang lebih adil, akurat, dan berorientasi pada kesehatan jangka panjang.

Dengan pendekatan baru ini, para ilmuwan berharap penanganan obesitas dapat lebih efektif dan berfokus pada risiko nyata yang dihadapi setiap individu.

Tag:  #ilmuwan #usulkan #cara #baru #menilai #obesitas #lagi #bertumpu #pada

KOMENTAR