Stasiun Jatake Resmi Beroperasi, Jadi Pemberhentian KRL Tanah Abang-Rangkasbitung
Stasiun Jatake mulai beroperasi sebagai stasiun pemberhentian KRL Tanah Abang-Rangkasbitung hari ini, Rabu (28/1/2026).
"Stasiun Jatake dirancang untuk mempermudah akses masyarakat Pagedangan dan sekitarnya menuju pusat aktivitas ekonomi, dengan waktu tempuh yang lebih efisien dan biaya transportasi yang terjangkau," kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam siaran resmi, Kamis (22/1/2026).
Stasiun yang berada di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang ini melayani rute greenline, tepatnya diapit antara Stasiun Parungpanjang dan Stasiun Cicayur.
- Permudah Akses Tangerang–Jakarta, Stasiun Jatake Siap Beroperasi Akhir Januari 2026
- Sempat Dibatalkan, KRL Tanah Abang-Rangkasbitung Kembali Normal Hari Ini
Dikutip dari Kompas.com (28/1/2026), rencananya hari ini Stasiun Jatake akan diresmikan oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, didampingi oleh Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin.
Adapun rute perjalanan line commuter Tanah Abang-Rangkasbitung menjadi Tanah Abang (Titik Awal) - Palmerah – Kebayoran – Pondok Ranju – Jurang Mangu – Sudimara – Rawa Buntu – Serpong - Cisauk – Cicayur - Jatake - Parung Panjang – Cilejit – Daru – Tenjo – Tigaraksa – Cikoya – Maja – Citeras - Rangkasbitung (Titik Akhir).
Seberapa penting kehadiran Stasiun Jatake?
Stasiun Jatake merupakan koridor utama pergerakan harian masyarakat, antara wilayah penyangga dan pusat aktivitas ekonomi Jakarta.
Berdasarkan data BPS Januari 2026, Kabupaten Tangerang dihuni sekitar 3,46 juta jiwa, dengan 67,82 persen penduduk berada pada usia produktif (15–59 tahun).
Komposisi demografi tersebut membentuk pola mobilitas harian yang tinggi. Khususnya bagi pekerja dan pelaku usaha yang beraktivitas lintas wilayah menuju Jakarta.
Pada 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Tangerang tercatat 76,74 dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,94 persen.
- Perjalanan KRL Tanjung Priok dan Cikarang Kembali Normal Pagi Ini
- Cara ke Mal Bintaro Xchange, Bisa Naik KRL dan Bus Royaltrans
Angka ini mencerminkan dinamika pasar kerja yang aktif dan kebutuhan akses transportasi yang efisien.
Sementara itu dari sisi ekonomi, Kabupaten Tangerang merupakan salah satu mesin aktivitas kawasan metropolitan.
Struktur ekonomi daerah menunjukkan basis kegiatan yang erat dengan mobilitas komuter.
Pihak KAI memaparkan, industri Pengolahan menjadi kontributor terbesar perekonomian (33,74 persen), disusul Konstruksi (16,36 persen) dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (11,35 persen) pada 2024.
Sejalan dengan itu, produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita Kabupaten Tangerang pada 2024 tercatat Rp 54,73 juta.
Angka ini menandakan skala aktivitas ekonomi yang besar, serta kebutuhan konektivitas yang andal untuk menopang produktivitas harian.
Potret Stasiun Jatake di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten.
Baca juga: Panduan Wisata ke BXSea, Oseanarium Terbesar di Tangsel, Bisa Naik KRL
Kondisi tersebut tercermin pada tren peningkatan jumlah pengguna Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung dalam jangka panjang.
Pada 2018, jumlah pengguna Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung tercatat sebesar 54,17 juta orang. Jumlah ini meningkat menjadi 55,63 juta orang pada 2019.
Pandemi COVID-19 menekan mobilitas hingga 26,83 juta orang pada 2020.
Lalu, sejak 2021, pergerakan masyarakat kembali meningkat secara konsisten dengan 42,11 juta pengguna pada 2021.
Kemudian, sebanyak 43,32 juta pengguna pada 2022, meningkat menjadi 62,09 juta pada 2023, naik menjadi 70,00 juta pada 2024, dan mencapai 77,55 juta pengguna sepanjang 2025.
Pola tersebut, menegaskan Commuter Line sebagai moda utama mobilitas ekonomi harian masyarakat penyangga Jakarta.
Baca juga: Cara ke Mal Bintaro Xchange, Bisa Naik KRL dan Bus Royaltrans
Di antaranya, seperti: pekerja sektor industri, jasa, logistik, hingga pelaku UMKM dan perdagangan, yang membutuhkan akses cepat, terjangkau, dan terjadwal.
Kata Anne, peningkatan kebutuhan transportasi massal berkorelasi erat dengan karakter demografi dan struktur aktivitas ekonomi Kabupaten Tangerang.
Kawasan Tanah Abang, sebagai pusat perdagangan tekstil dan grosir nasional memiliki keterkaitan ekonomi yang kuat dengan wilayah penyangga.
Potret Stasiun Jatake di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten.
Pedagang, pekerja sektor perdagangan, serta pelaku UMKM dari Kabupaten Tangerang melakukan perjalanan rutin menuju kawasan tersebut.
Kehadiran Stasiun Jatake, dinilai memperpendek akses dari kantong-kantong permukiman dan kegiatan di Pagedangan dan sekitarnya.
Sehingga, mendukung kelancaran aktivitas perdagangan dan produktivitas ekonomi harian.
Sementara itu, bagi pekerja formal, Stasiun Jatake memperkuat pilihan tinggal di kawasan hunian penyangga yang lebih terjangkau, dibandingkan pusat kota Jakarta, tanpa mengorbankan kepastian perjalanan.
Baca juga: Mengapa KRL Tidak Berhenti di Stasiun Gambir?
Hal ini relevan dengan karakter Kabupaten Tangerang yang memiliki luas wilayah 959,61 kilometer persegi dan terbagi dalam 29 kecamatan.
Sehingga, membutuhkan simpul transportasi yang mampu mengonsolidasikan pergerakan masyarakat dari berbagai kawasan permukiman menuju koridor layanan massal.
Untuk diketahui, Stasiun Jatake dibangun melalui skema creative financing antara KAI dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (Sinar Mas Land) dengan konsep Transit Oriented Development (TOD).
Stasiun ini berdiri di atas lahan seluas 2.435 meter persegi, memiliki bangunan tiga lantai, dan dirancang melayani hingga 20.000 penumpang per hari.
Area parkir kendaraan roda dua, roda empat, dan sepeda telah disiapkan, serta tersedia lahan pengembangan lanjutan seluas sekitar 4.000 meter persegi untuk mendukung integrasi antarmoda.
Stasiun Jatake di Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) yang ditargetkan beroperasi Januari 2026.
Dari sisi desain, Stasiun Jatake mengusung konsep modern tropis dengan sirkulasi udara alami di area publik, serta pemanfaatan panel surya untuk mendukung efisiensi energi.
Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan stasiun yang tidak hanya fungsional, namun juga adaptif terhadap kenyamanan pelanggan.
Saat ini, Stasiun Jatake memasuki tahap uji fungsi dan simulasi operasional bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
Tahap ini dilakukan untuk memastikan seluruh aspek keselamatan, keamanan, dan kesiapan layanan memenuhi standar sebelum stasiun mulai beroperasi.
“Stasiun Jatake memperkuat jaringan layanan Commuter Line dan mendukung pergerakan ekonomi masyarakat Kabupaten Tangerang sebagai wilayah penyangga Jakarta. Kami optimistis kehadiran stasiun ini meningkatkan efisiensi mobilitas dan produktivitas masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Anne.
Tag: #stasiun #jatake #resmi #beroperasi #jadi #pemberhentian #tanah #abang #rangkasbitung