Bulog: Biaya Distribusi MinyaKita Ke Pelosok Tembus Rp 7.000 Per Liter
Harga MinyaKita di Pati di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah(KOMPAS.com/ Kafi)
19:04
1 Februari 2026

Bulog: Biaya Distribusi MinyaKita Ke Pelosok Tembus Rp 7.000 Per Liter

- Perusahaan negara, PT Perum Bulog menyebut, biaya distribusi MinyaKita ke daerah pelosok mencapai Rp 7.000 per liter.

Adapun Bulog menjadi salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mendapat tugas mendistribusikan sebagian MinyaKita dengan margin keuntungan Rp 1.000 per liter.

Direktur Pemasaran Bulog, Febby Novita mengatakan biaya distribusi itu tinggi karena harus menggunakan transportasi darat dan laut, salah satunya saat memasok MinyaKita ke Sorong, Papua Barat Daya.

“Itu kan kalau pakai kapal, pakai laut, pakai darat itu kan berapa dihitungnya? Ada Rp 7.000 perak loh kemarin itu,” kata Febby saat ditemui di kawasan Srengseng, Jakarta Barat, Minggu (1/2/2026).

Baca juga: Sidak Pasar di Bandung, Amran Temukan Harga MinyaKita di Atas HET

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2025, Bulog membeli MinyaKita dari produsen minyak goreng dengan harga Rp 13.500 per liter.

Bulog lalu langsung menjual MinyaKita itu ke pengecer di pasar dengan harga Rp 14.500 di seluruh wilayah Indonesia. Sementara, pengecer menjual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter.

Artinya, dari setiap distribusi itu Bulog mendapatkan margin keuntungan Rp 1.000 per liter.

Febby menuturkan, semakin sedikit volume MinyaKita yang didistribusikan, maka ongkos pengiriman semakin tinggi.

Sementara, daerah-daerah terpencil yang menjadi sasaran penugasan Bulog juga tidak bisa menerima pasokan terlalu minyak banyak.

“Minyak itu kalau makin dikit kita kirim mungkin ya, ya kan kita juga nggak bisa ngirim terlalu banyak misalnya ke daerah terpencil karena dia kan tempatnya juga terbatas.

Menghadapi situasi tersebut, Bulog menerapkan skema “subsidi silang”. 

Keuntungan dari pendistribusian minyak di daerah tidak terpencil seperti Jawa digunakan untuk menutup kerugian biaya distribusi di daerah terpencil seperti di Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan sebagian pulau di Kalimantan.

Jika menerapkan hitung-hitungan normal, dengan biaya distribusi Rp 7.000 per liter harga MinyaKita di daerah terpencil seharusnya mencapai lebih dari Rp 20.000 per liter.

Namun, Bulog tetap menjual MinyaKita kepada pengecer di pasar terpencil dengan harga Rp 14.500 per liter. 

Dengan demikian, masyarakat di sana tetap bisa membeli MinyaKita Rp 15.700 per liter dari pengecer di pasar.

“Kita berkomitmen lah membantu masyarakat untuk ketersediaan dan keterjangkauan. Kalau hitung-hitungan bisnis mungkin orang malas, iya kan,” kata Febby.

“Mana ada sih orang pasti taruh lah ya, saya enggak tahu ya, saya enggak ngerti juga tuh swasta ngitung kayak gimana, tapi kalau kita jadi pengusaha murni sih pasti ya sudahlah enggak usah dikirim, tapi kan kasihan gitu,” tambahnya.

Diketahui, Permendag Nomor 43 Tahun 2025 memerintahkan produsen mendistribusikan 35 persen domestic market obligation (DMO) melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang pangan.

Adapun MinyaKita merupakan merk dagang Kementerian Perdagangan. Produksi tetap dilakukan perusahaan minyak goreng yang wajib memenuhi DMO.

Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, dari 35 persen DMO MinyaKita untuk BUMN, Bulog mendapatkan jatah distribusi 70 persen.

Jumlah itu setara 700.000 kilo liter per tahun atau sekitar 60.000 kilo liter per bulan.

“Untuk pembagiannya sesuai arahan dari Bapak Mentan Bulog dipercayakan 70 persen dari 35 persen itu,” kata Rizal saat ditemui kawasan bisnis Bulog, d'GAT55, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026).

Tag:  #bulog #biaya #distribusi #minyakita #pelosok #tembus #7000 #liter

KOMENTAR