IHSG Ambles ke Level 8.500-an, Mayoritas Saham Melemah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tertekan tajam pada awal perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026). Sejak pembukaan, IHSG bergerak di zona merah dan ambles jauh ke bawah level psikologis 9.000.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat menyentuh level terendah harian (low intraday) di 8.393 sebelum bergerak fluktuatif.
Hingga sekitar pukul 09.17 WIB, IHSG berada di level 8.579,57, turun 400,66 poin atau 4,46 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Tekanan jual yang kuat membuat pergerakan IHSG berlangsung volatil sejak awal sesi. Indeks bergerak di kisaran 8.393–8.600, dengan aksi jual terlihat mendominasi hampir seluruh sektor saham berkapitalisasi besar.
Baca juga: IHSG Ditutup Menguat 0,05 Persen ke Level 8.980,23
Kondisi pasar yang tertekan juga tercermin dari pergerakan saham secara keseluruhan. Hingga pagi hari, tercatat hanya 50 saham yang menguat, sementara 641 saham melemah, dan 267 saham tidak mengalami perubahan.
Seiring pelemahan IHSG, sejumlah indeks utama turut terpuruk. Indeks LQ45 anjlok 3,72 persen ke level 843,50, sementara KOMPAS100 melemah 4,11 persen ke posisi 1.188,69.
Tekanan juga terasa pada indeks saham berbasis syariah. Jakarta Islamic Index (JII) turun tajam 6,25 persen ke level 576,78, sedangkan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terkoreksi 5,73 persen ke posisi 311,71.
Pelemahan serempak juga terjadi pada indeks lainnya. IDX30 turun 2,29 persen ke level 434,01, JII70 melemah 5,35 persen ke posisi 213,90, dan IDX80 terkoreksi 4,35 persen ke level 131,70.
Baca juga: Wall Street Ditutup Bervariasi, S&P 500 Cetak Rekor ATH, Ditopang Saham Teknologi
Di pasar reguler, tekanan jual tercermin dari aktivitas transaksi. Hingga pagi hari, volume perdagangan mencapai sekitar 13,60 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 9,90 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat lebih dari 812.000 kali, sementara kapitalisasi pasar menyusut ke kisaran Rp 15.563 triliun.
Pelemahan tajam IHSG pada perdagangan hari ini terjadi setelah indeks pada sesi sebelumnya masih mampu bertahan di zona hijau.
Pada perdagangan Senin (26/1/2026), IHSG ditutup menguat 0,27 persen ke level 8.975,33. Namun, penguatan tersebut belum cukup kuat menahan tekanan jual yang kembali mendominasi pasar pada awal sesi hari ini.
Di sisi lain, sentimen pasar juga dipengaruhi pengumuman dari penyedia indeks global MSCI.
MSCI menyatakan akan menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks, efektif mulai rebalancing Februari 2026.
Baca juga: Harga Emas Pecah Rekor 5.000 Dollar AS, Saham ANTM hingga EMAS Menguat
MSCI menyampaikan akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
Selain itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari kategori Small Cap ke Standard. Kebijakan ini diambil untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas.
“Sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna,” tulis MSCI dalam pengumuman yang dirilis pada Selasa (27/1/2026) malam.
Dalam pengumuman terpisah, MSCI juga menyampaikan langkah untuk mengurangi potensi reverse turnover pada Index Review Mei 2026 yang dapat timbul akibat penerapan metodologi pembulatan free float yang ditingkatkan.
“Oleh karena itu, pada Index Review Februari 2026, MSCI hanya akan menerapkan perubahan free float yang bersifat signifikan,” jelas MSCI.
Baca juga: Efek Rebalancing MSCI Membebani IHSG, Saham Big Cap Tertekan, Analis Rekomendasikan Saham Defensif
Secara spesifik, perubahan yang diimplementasikan terbatas pada Foreign Inclusion Factor (FIF) atau Domestic Inclusion Factor (DIF) dengan kriteria tertentu, yakni perubahan absolut sebesar 0,15 atau lebih.
Kebijakan tersebut juga mencakup penurunan FIF/DIF untuk sekuritas dengan FIF/DIF pro forma di bawah 0,15, serta penurunan yang disebabkan oleh perubahan Foreign Ownership Limit (FOL) atau faktor penyesuaian lainnya.
Sementara itu, untuk sekuritas yang perubahan FIF/DIF-nya tidak diimplementasikan dalam Index Review Februari 2026, MSCI menegaskan tidak akan menerapkan perubahan pada Number of Shares (NOS).