IHSG Anjlok 7,71 Persen, BEI: Kami Akan Koordinasi dengan Semua Pihak
Grafik pergerakan IHSG jelang penutupan sesi pertama perdagangan Rabu (28/1/2026)(KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN/DOKUMENTASI BEI/RTI)
11:32
28 Januari 2026

IHSG Anjlok 7,71 Persen, BEI: Kami Akan Koordinasi dengan Semua Pihak

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin mengalami tekanan mendalam menjelang penutupan sesi pertama perdagangan Rabu (28/1/2026). Indeks tercatat turun 7,71 persen atau 692,47 poin ke level 8.287,76 per pukul 11.15 WIB.

Sejak pembukaan, IHSG melemah di posisi 8.393,51. Indeks sempat berupaya bangkit dan menyentuh level tertinggi harian di 8.596,17, tapi penguatan tersebut tidak bertahan lama.

Tekanan jual kembali mendominasi sehingga IHSG turun lebih dalam dan menyentuh level terendah di 8.281,57.

Merespons tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan akan melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pemangku kepentingan untuk merespons kondisi pasar yang bergejolak hari ini.

Baca juga: IHSG Anjlok, Pasar Merespons Pembekuan Indeks MSCI

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan bahwa BEI akan menempuh berbagai langkah yang diperlukan bersama para pemangku kepentingan pasar modal.

“Jadi pada hari ini pada intinya kita akan melakukan segala effort kerja sama dengan tentunya semua stakeholder kita untuk follow up hal-hal yang dipandang perlu,” ujar Nyoman saat dikonfirmasi wartawan.

Terkait arah pergerakan IHSG pada perdagangan berikutnya, ia menegaskan pihaknya masih akan mencermati dinamika pasar. “ Lihat kondisi ya,” paparnya.

Anjloknya IHSG terjadi setelah MSCI memutuskan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia.

Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran atas tingginya konsentrasi kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tercatat.

Baca juga: Rupiah Pagi Menguat, IHSG Anjlok Hampir 7 Persen

Mengutip Bloomberg, penangguhan tersebut akan berlaku hingga otoritas pasar, termasuk BEI, dinilai mampu mengatasi kekhawatiran terkait struktur kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi.

Kebijakan itu menjadi tekanan terbaru bagi pasar saham Indonesia, yang merupakan pasar modal terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Dalam pernyataannya, MSCI menyebutkan akan segera menghentikan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks-indeksnya, serta membekukan kenaikan jumlah saham yang dinilai tersedia bagi investor.

Keputusan tersebut diambil dengan alasan masih adanya persoalan mendasar terkait kelayakan investasi, termasuk kekhawatiran terhadap potensi praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mendistorsi proses pembentukan harga saham.

MSCI juga mengingatkan bahwa apabila hingga Mei 2026 Indonesia belum menunjukkan kemajuan yang memadai dalam peningkatan transparansi, lembaga tersebut akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia.

Peninjauan ulang ini berpotensi berdampak signifikan, mulai dari penurunan bobot seluruh saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index, hingga kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier (frontier market).

Pengumuman tersebut disampaikan MSCI pada Selasa (27/1/2026). Langkah ini diambil setelah MSCI menuntaskan proses konsultasi pasar terkait penilaian free float saham Indonesia.

Dalam konsultasi tersebut, sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan Monthly Holding Composition Report yang diterbitkan oleh KSEI sebagai referensi tambahan. Namun demikian, mayoritas investor justru menyampaikan kekhawatiran serius, khususnya terkait klasifikasi pemegang saham dalam data KSEI.

MSCI mencatat, meskipun terdapat perbaikan minor pada data free float yang disediakan BEI, investor menilai persoalan mendasar terkait transparansi dan struktur kepemilikan saham di pasar Indonesia masih belum sepenuhnya teratasi.

Tag:  #ihsg #anjlok #persen #kami #akan #koordinasi #dengan #semua #pihak

KOMENTAR