IHSG 'Kebakaran' Imbas Kabar MSCI, Saham-saham Idola Pasar Mendadak ARB!
Ilustrasi IHSG anjlok imbas MSCI [Suara.com/Alfian Winanto]
11:35
28 Januari 2026

IHSG 'Kebakaran' Imbas Kabar MSCI, Saham-saham Idola Pasar Mendadak ARB!

Baca 10 detik
  • Pada Rabu (28/1/2026), IHSG anjlok karena MSCI membekukan perubahan indeks terkait isu transparansi kepemilikan saham.
  • MSCI menyoroti keraguan investor global mengenai klasifikasi kepemilikan publik yang belum akurat di Indonesia.
  • Pembekuan MSCI menghentikan kenaikan FIF dan penambahan saham baru dalam indeks investasi pasar modal global.

Pasar modal Indonesia diguncang sentimen negatif yang sangat kuat pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2026).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau terjun bebas setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis hasil konsultasi global yang mengejutkan terkait penilaian free float dan kelayakan investasi (investability) saham-saham emiten di Indonesia.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG langsung tersungkur ke level 8.393 pada pukul 09.15 WIB. Pergerakan indeks sangat volatil dengan titik terendah menyentuh 8.349.

Hingga pukul 10.10 WIB, IHSG masih berupaya bertahan di kisaran level 8.500, namun tekanan jual masih terlihat sangat masif di seluruh sektor.

Kejatuhan ekstrem ini merupakan respons spontan pelaku pasar terhadap keputusan MSCI yang memilih untuk membekukan sementara seluruh perubahan indeks yang melibatkan sekuritas asal Indonesia.

Keputusan ini diambil setelah mayoritas investor global menyuarakan keraguan serius terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Meski BEI telah berupaya meningkatkan keterbukaan informasi, para pemodal internasional menilai data tersebut belum mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya. Beberapa poin krusial yang disoroti MSCI meliputi:

  1. Ketidakandalan Klasifikasi: Laporan bulanan KSEI dianggap belum cukup kuat untuk membedakan antara kepemilikan publik yang murni dengan pihak yang terafiliasi.
  2. Risiko Transaksi Terkoordinasi: Adanya kekhawatiran mengenai perilaku perdagangan yang terencana secara sembunyi-sembunyi yang dianggap merusak pembentukan harga yang wajar.
  3. Transparansi Struktur: Investor mendesak adanya pemantauan yang lebih ketat terhadap konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi di tangan segelintir pihak.

Poin-poin Kebijakan Pembekuan MSCI

Langkah tegas MSCI ini berlaku efektif segera, termasuk untuk periode tinjauan indeks (rebalancing) Februari 2026. Adapun batasan yang diterapkan adalah:

  • Pemberhentian Kenaikan FIF & NOS: MSCI membekukan seluruh peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham (Number of Shares).
  • Tanpa Anggota Baru: Tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
  • Moratorium Migrasi Segmen: Tidak ada kenaikan kelas emiten dari indeks Small Cap ke Standard Index.

Langkah ini diambil untuk menekan risiko turnover indeks dan memberikan waktu bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk melakukan perbaikan transparansi secara substansial.

Daftar Saham yang Terbanting (Top Losers)

Keputusan pahit dari MSCI ini memicu aksi jual besar-besaran, terutama pada saham-saham yang sebelumnya diprediksi akan masuk atau naik kelas dalam indeks global tersebut.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Sempat menjadi primadona, harga saham BUMI dibuka anjlok hingga 14,53% ke posisi Rp294 per lembar saham.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): Terkoreksi tajam 15% ke level Rp98.600.

PT XL Axiata Tbk (EXCL): Merosot 14,92% ke harga Rp3.820.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Tergerus 14,81% ke level Rp2.300.

Sektor Perbankan: Saham blue chip seperti BBCA melemah 6% ke Rp7.050, diikuti oleh BMRI yang terkoreksi 4,99%.

Saham-saham lain juga menyentuh ARB (Auto Rejection Bawah) seperti RAJA, BUVA, RATU, BULL, INET, DEWA, COIN dan masih banyak lagi.

Kondisi ini menuntut langkah cepat dari regulator, baik BEI maupun OJK, untuk memulihkan kepercayaan investor global melalui kebijakan transparansi kepemilikan yang lebih kredibel agar pasar modal Indonesia tidak semakin terisolasi dari arus modal asing.


DISCLAIMER: Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga yang sangat tajam, terutama saat terjadi perubahan kebijakan indeks global dan sentimen makroekonomi. Artikel ini disusun sebagai referensi berita pasar modal dan bukan merupakan ajakan untuk menjual atau membeli saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #ihsg #kebakaran #imbas #kabar #msci #saham #saham #idola #pasar #mendadak

KOMENTAR