Vaksinasi HPV Anak Jadi Prioritas Demi Eliminasi Kanker Serviks 2030
– Kementerian Kesehatan RI terus memperkuat strategi pencegahan kanker serviks dengan menempatkan vaksinasi HPV pada anak di bawah usia 15 tahun sebagai prioritas utama.
Langkah ini dinilai krusial untuk memutus rantai penularan Human Papillomavirus (HPV), yang menjadi penyebab utama kanker leher rahim, sejak usia dini.
Kanker serviks hingga kini masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia. Setiap tahun, diperkirakan terdapat lebih dari 36.000 kasus baru yang terdeteksi.
Ironisnya, sekitar 70 persen dari kasus tersebut baru diketahui saat sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi ini membuat risiko kematian meningkat secara signifikan, karena penanganan menjadi jauh lebih sulit.
Baca juga: Efektif, Uji Coba Pengambilan Sampel Mandiri untuk Deteksi Kanker Serviks
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D. menegaskan, vaksinasi HPV pada anak menjadi fondasi penting untuk menekan angka kanker serviks di masa depan.
“70 persen dari mereka yang telah terdiagnosis itu sudah masuk ke dalam stadium yang lanjut. Kemudian, 50 persen di antaranya meninggal dunia, karena tidak dilakukan screening,” ujarnya dalam Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim dengan pendekatan DNA HPV dan model hub-and-spoke, di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026).
Data tersebut menjadi alasan kuat mengapa pencegahan sejak dini melalui vaksinasi HPV harus diprioritaskan.
Vaksin bukan hanya melindungi individu, tetapi juga membangun kekebalan kelompok dalam jangka panjang.
Baca juga: Vaksin HPV Nonavalent, Perlindungan Terbaru Cegah Kanker Serviks Menurut Dokter
Strategi nasional 90-75-90 untuk eliminasi kanker serviks
Dalam upaya mengeliminasi kanker serviks, Kementerian Kesehatan mengusung strategi 90-75-90.
Menurut Dante, strategi ini menjadi peta jalan yang jelas dan terukur dalam menekan beban penyakit kanker serviks di Indonesia.
“Jadi 90 persen dari semua anak-anak di bawah 15 tahun harus divaksinasi HPV untuk mencegah terjadinya kanker cervix ini di masa yang akan datang,” kata Dante.
Kemudian 75 persen adalah screening bagi mereka yang berusia 30–65 tahun. Lalu, 90 persen dari mereka yang sudah teridentifikasi lesi pra kanker harus diobati.
Strategi ini menunjukkan bahwa pencegahan kanker serviks tidak hanya bergantung pada satu pendekatan.
Baca juga: Berapa Dosis Vaksin HPV yang Harus Diberikan? Ini Penjelasannya...
Vaksinasi, skrining, dan pengobatan harus berjalan bersamaan agar hasilnya maksimal.
Vaksinasi melindungi generasi muda, skrining mendeteksi dini pada kelompok usia produktif, dan pengobatan memastikan mereka yang sudah terpapar tidak berkembang menjadi kanker.
Dengan pola ini, Indonesia menargetkan eliminasi kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat dalam beberapa dekade ke depan.
Fokus vaksinasi anak di bawah 15 tahun
Saat ini, Kementerian Kesehatan memaksimalkan pemberian vaksin HPV pada anak-anak usia 15 tahun ke bawah.
“Sekarang kami maksimalkan yang usia 15 tahun ke bawah, karena mereka belum menikah. Salah satu faktor risikonya adalah infeksi akibat hubungan seksual, harapannya mereka yang sudah vaksin lebih kuat dan tidak terinfeksi,” jelas Dante.
HPV ditularkan terutama melalui kontak seksual. Dengan memberikan vaksin sebelum anak memasuki usia aktif secara seksual, perlindungan yang terbentuk akan jauh lebih optimal.
Baca juga: Bagaimana Prosedur Pemberian Vaksin HPV di Indonesia? Ini Penjelasannya...
Vaksin membantu tubuh membangun antibodi sehingga risiko infeksi HPV, yang dapat berkembang menjadi kanker serviks, bisa ditekan secara signifikan.
Tak hanya untuk anak perempuan, vaksinasi juga ditargetkan pada anak laki-laki. Hal ini penting untuk memutus rantai penularan virus di masyarakat secara keseluruhan.
Dengan cakupan vaksinasi yang luas, diharapkan tercipta perlindungan kolektif yang kuat.
Kementerian Kesehatan menargetkan pada tahun 2030, sebanyak 90 persen anak perempuan dan laki-laki di Indonesia sudah mendapatkan vaksin HPV.
Target ini sejalan dengan strategi global eliminasi kanker serviks yang dicanangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Baca juga: Self-Sampling HPV DNA: Terobosan Pencegahan Kanker Serviks
Capaian skrining dan peran Cek Kesehatan Gratis
Selain vaksinasi, skrining tetap menjadi pilar penting dalam upaya pencegahan kanker serviks.
Dante mengungkapkan bahwa capaian skrining nasional kini menunjukkan peningkatan yang signifikan.
“Secara nasional, kami sudah melakukan screening lebih dari 600 ribu perempuan di Indonesia. Dulu di tahun-tahun sebelumnya hanya tembus 100 ribuan saja,” ungkapnya.
Lonjakan angka skrining ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat mulai meningkat dan sistem layanan kesehatan semakin siap menjangkau lebih banyak perempuan. Namun, pemerintah tidak ingin berhenti sampai di situ.
Program Cek Kesehatan Gratis diharapkan menjadi pintu masuk bagi lebih banyak perempuan untuk memeriksakan diri.
Dengan skrining yang semakin luas, kasus-kasus kanker serviks bisa terdeteksi lebih awal, sehingga peluang kesembuhan menjadi jauh lebih besar.
Baca juga: Bisa Sebabkan Kanker Serviks, Ketahui Gejala hingga Risiko Infeksi HPV
Tag: #vaksinasi #anak #jadi #prioritas #demi #eliminasi #kanker #serviks #2030