Self-Sampling HPV DNA: Terobosan Pencegahan Kanker Serviks
Ilustrasi kanker serviks. Virus HPV bisa memicu kanker serviks tanpa gejala awal, sehingga penting bagi perempuan untuk rutin pap smear dan vaksinasi sebagai langkah pencegahan.(Freepik)
13:18
20 Januari 2026

Self-Sampling HPV DNA: Terobosan Pencegahan Kanker Serviks

KANKER serviks merupakan salah satu kanker yang paling dapat dicegah. Namun ironisnya, setiap tahun sekitar 36.000 perempuan Indonesia terkena kanker serviks dan 21.000 orang di antaranya meninggal dunia.

Penyakit ini bermula dari infeksi HPV yang bisa berkembang menjadi lesi prakanker yang jika pada tahap ini tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini, maka bisa berpotensi menjadi kanker stadium lanjut.

Sayangnya, fakta di lapangan menyebutkan bahwa cakupan skrining nasional pada 2023 baru
mencapai 27 persen, dan sekitar 70 persen kasus baru diketahui saat sudah terlambat.

Padahal, dengan deteksi dini melalui metode skrining yang tersedia, angka kasus seharusnya
bisa ditekan secara signifikan.

Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Indonesia bersama sejumlah pemangku kepentingan telah menetapkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Serviks 2023–2030, sejalan dengan target WHO 90–70–90: 90 persen anak perempuan mendapat vaksinasi HPV, 70 persen perempuan menjalani skrining, dan 90 persen kasus yang terdeteksi mendapatkan pengobatan.

Namun, target ambisius ini menghadapi hambatan yang tidak sedikit. Dari sisi tenaga medis, jumlah dokter onkologi ginekologi masih terbatas, yaitu hanya 152 di seluruh provinsi.

Selain itu, kesadaran masyarakat masih rendah, akses skrining kanker serviks dan pengobatannya masih terbatas.

Kondisi ini menegaskan bahwa tanpa ekosistem yang matang, baik dari infrastruktur maupun strategi yang mendorong partisipasi aktif, upaya pencegahan kanker serviks akan berjalan lambat.

Oleh karena itu, pemilihan metode skrining yang tepat menjadi kunci untuk meningkatkan partisipasi sekaligus efektivitas program nasional.

Jika Indonesia serius mengejar target eliminasi pada tahun 2030, maka penerapan metode skrining dengan interval lebih panjang seperti tes DNA HPV bisa merupakan suatu solusi.

Saat ini, skrining kanker serviks dapat dilakukan melalui beberapa metode, mulai Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), Pap Smear, hingga tes DNA HPV.

Skrining melalui Tes DNA HPV memiliki keunggulan akurasi yang lebih baik dan interval skrining yang lebih panjang, yakni hingga lima tahun sekali, sehingga bisa meningkatkan kepatuhan skrining kanker serviks dan memungkinkan deteksi dini kanker serviks lebih baik.

Dengan hasil tes DNA HPV yang negatif, perempuan tidak perlu menjalani skrining ulang dalam interval lima tahun dan relatif aman dari kanker serviks dalam kurun waktu tersebut.

Interval yang panjang ini menjadi penting, mengingat kecenderungan masyarakat yang masih enggan melakukan skrining secara teratur.

Di balik kelebihannya, metode skrining melalui tes DNA HPV memerlukan berbagai kesiapan secara logistik, terutama karena sampel harus dianalisis di laboratorium khusus dan proses penyampaian hasil tes dan follow up ke pasien yang membutuhkan waktu.

Di sinilah peran platform Satu Sehat oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bisa memainkan peranan penting jika dikembangkan secara optimal.

Platform ini dapat menjadi sistem pencatatan terpusat yang memonitor riwayat skrining, hasil diagnostik, serta tindak lanjut klinis secara real-time, membantu mengidentifikasi celah skrining, memandu intervensi lokal, dan melacak perjalanan skrining setiap perempuan sepanjang hidup.

Tes HPV DNA menawarkan keunggulan penting dibanding metode skrining konvensional seperti IVA atau Pap Smear karena sensitivitasnya lebih tinggi untuk mendeteksi lesi pra-kanker serviks sehingga lebih banyak kasus ditemukan lebih dini.

Hasil HPV DNA negatif juga memberi “jaminan” yang lebih kuat sehingga interval skrining
bisa lebih panjang, tapi tetap aman.

Keunggulannya tidak hanya pada akurasi, tetapi juga pada penerapan program. Metode ini lebih konsisten antar fasilitas karena tidak terlalu bergantung pada subjektivitas pemeriksa.

Bahkan, tes HPV DNA membuka peluang self-sampling yang dapat menurunkan hambatan rasa malu, takut, maupun keterbatasan akses layanan.

Dengan cakupan yang meningkat dan tindak lanjut yang teratur, skrining menjadi lebih efisien, lebih nyaman bagi perempuan, dan lebih efektif menurunkan beban kanker serviks.

Hasil pilot project yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bersama Jhpiego, Roche dan Bio Farma di Surabaya dan Sidoarjo menunjukkan bahwa metode self-sampling HPV DNA jelas mampu menjawab kebutuhan pengguna.

Hampir seluruh perempuan yang diskrining (sekitar 99,9 persen) berhasil mengumpulkan sampel secara mandiri, dan sebagian besar pengambilan sampel (96,6 persen) dilakukan di Posyandu atau balai warga.

Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi inovasi teknologi, edukasi, dan pendampingan yang tepat dapat mendorong partisipasi perempuan sekaligus mengurangi hambatan sosial dan budaya dalam pengambilan sampel, sehingga cakupan skrining kanker serviks dapat lebih banyak.

Meski self-sampling HPV DNA menawarkan kenyamanan dan berpotensi meningkatkan partisipasi, keberhasilannya tetap bergantung pada edukasi yang tepat sasaran.

Literasi bahwa kanker serviks bisa dicegah dan dideteksi dini perlu ditanamkan sejak dini dan idealnya menjadi bagian dari kurikulum wajib di tingkat SMP dan SMA.

Di saat yang sama, peningkatan cakupan skrining juga menuntut keterlibatan jejaring yang lebih luas: mulai dari Puskesmas, Pustu, Posyandu, hingga Posbindu, sebagai garda terdepan yang dapat mengurangi stigma dan membangun kepercayaan perempuan untuk melakukan skrining.

Dengan pendekatan ini, perempuan tidak hanya terdorong untuk memeriksa diri, tetapi juga dibekali pengetahuan untuk menjaga kesehatannya sepanjang hidup.

Remaja putri hari ini yang kelak menjadi calon ibu akan membawa kebiasaan sehat itu ke keluarganya, dan ikut mencetak generasi berikutnya yang lebih unggul dan sehat.

Peningkatan partisipasi perempuan dalam skrining kanker serviks memerlukan langkah terukur dan terintegrasi oleh semua lapisan masyarakat.

Cakupan vaksinasi dan skrining bisa dijadikan sebagai bagian dari agenda bersama antara pemerintah dan semua pemangku kepentingan kesehatan.

Dengan demikian, semua pejabat, mulai dari gubernur hingga wali kota, akan terdorong untuk aktif memfasilitasi program, mulai dari penyediaan akses, edukasi, pendampingan dan pengawasan.

Strategi ini menjadi sangat penting karena organisasi profesi kesehatan tidak memiliki otoritas langsung, sehingga sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk mempercepat upaya eliminasi kanker serviks.

Cakupan dan keberhasilan skrining kanker serviks bisa dijadikan indikator keberhasilan pemerintah daerah dan pejabat lain.

Dengan hanya tersisa lima tahun menuju target 2030, waktu semakin terbatas. Self-sampling HPV DNA menawarkan peluang untuk menjangkau perempuan yang selama ini enggan atau sulit mengikuti skrining konvensional.

Namun, tanpa dukungan sistemik dari tenaga kesehatan terlatih, kampanye edukasi yang efektif, hingga integrasi dengan program nasional maka metode ini bisa menjadi sia-sia.

Tanpa langkah terintegrasi yang nyata, inovasi akan berhenti sebagai wacana, sementara perempuan yang paling membutuhkan perlindungan akan terus berada di luar jangkauan sistem kesehatan.

Semoga pada 2030, Indonesia termasuk negara yang bisa mencapai target
WHO.

Tag:  #self #sampling #terobosan #pencegahan #kanker #serviks

KOMENTAR