Rugi Rp 550 Miliar pada 2025, Bulog: Nanti Keuntungan 2,5 Triliun
PT Perum Bulog mencatatkan kerugian Rp 550 miliar dalam pembukuan keuangan tahun 2025.
Informasi terkait kerugian itu sebelumnya disinggung dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Bulog dengan Komisi VI DPR RI beberapa waktu lalu.
“Kemarin memang waktu RDP kita ditanya, kita kan enggak bisa tutup-tutupin yang kerugian Rp 550 miliar. Itu baru angka sementara,” kata Direktur Keuangan Bulog, Hendra Susanto saat ditemui awak media di kawasan bisnis Bulog, d'GAT55, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026).
Menurut Hendra, Bulog mencatatkan kerugian Rp 550 miliar itu karena masih mengikuti aturan margin fee Rp 50 per kilogram dari setiap penugasan yang diberikan pemerintah.
Dalam waktu ke depan, setelah margin fee resmi ditetapkan menjadi 7 persen dari setiap penugasan yang diberikan pemerintah, Bulog memperkirakan akan membukukan keuntungan Rp 2,4 sampai Rp 2,5 triliun per tahun.
“Jadi akan sangat sehat bagi Bulog,” tutur Hendra.
Ia memandang, dalam setiap penugasan dari pemerintah seharusnya ada dua komponen yakni cost plus dan margin.
Pasal 19 H Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah menyatakan, Bulog mendapatkan kompensasi dan margin keuntungan yang wajar.
Berdasarkan hasil perhitungan Bulog bersama ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), margin fee yang wajar diterima Bulog adalah 7 persen dari setiap penugasan pemerintah. “Itu sama dengan penerima subsidi yang lain. Nah ini makanya kita usulkan,” kata Hendra.
Lebih lanjut, Hendra meminta dukungan dari publik agar bisa menjadi perusahaan BUMN yang sehat dan terus mendukung mimpi besar Presiden Prabowo Subianto menjaga swasembada pangan.
Pihaknya juga berharap Bulog bisa terus menyerap beras dan menyalurkan beras petani dalam volume besar dengan baik.
“Ini sedang kita usahakan dan mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama peraturan itu sudah bisa ditetapkan, sehingga Bulog bisa memberikan manfaat yang lebih besar pada negara,” tutur Hendra.
Pemerintah Putuskan Margin Fee 7 Persen
Adapun pemerintah telah memutuskan margin fee Bulog sebesar 7 persen dari setiap penugasan yang diberikan.
Keputusan itu diketok dalam Rapat Koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang dihadiri kementerian terkait, Kementerian Keuangan, dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
“Nah, dihitung-hitung antara Menteri Keuangan, dari BPKP ketemu angka 10 persen diminta, tapi disetujuinya 7 persen nanti ngambil fee,” kata Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Senin (12/1/2025).
Hasil dari kenaikan margin fee menjadi 7 persen disebut akan digunakan untuk mewujudkan program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) satu harga di seluruh Indonesia.
Saat ini, pemerintah masih menerapkan harga beras SPHP dengan harga Rp 12.500 untuk Zona 1, Rp 13.100 untuk Zona 2, dan Rp 13.500 untuk Zona 3.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, pihaknya mengusulkan margin fee menjadi 7 persen untuk meningkatkan layanan.
Dengan kebijakan itu, Bulog berharap bisa menjual beras dengan harga sama seperti halnya Pertamina menjual bahan bakar minyak (BBM) satu harga di seluruh SPBU tanah air.
“Yaitu, kalau naik margin fee, Bulog akan meningkat layanannya menjadikan beras yang satu harga, dari Sabang sampai Merauke,” kata Rizal dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Tag: #rugi #miliar #pada #2025 #bulog #nanti #keuntungan #triliun