7 Cara Lindungi Anak dari Paparan Timbal di Lingkungan
Ilustrasi(Freepik)
13:54
23 Januari 2026

7 Cara Lindungi Anak dari Paparan Timbal di Lingkungan

– Paparan timbal pada anak sering terjadi tanpa disadari karena sumbernya bisa berasal dari benda-benda di sekitar rumah. Gejalanya juga tak selalu terlihat.

Padahal, zat beracun ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak jika tidak dicegah sejak dini.

Direktur Kesehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Then Suyanti, MM menegaskan, pencegahan paparan timbal harus dimulai dari perilaku sehari-hari di rumah. 

Ia menyebut bahwa anak dapat terpapar timbal dari berbagai sumber, termasuk mainan. Berikut tujuh cara yang dapat dilakukan orangtua untuk melindungi anak dari bahaya paparan timbal.

Cara lindungi anak dari paparan timbal

1. Membersihkan rumah dan barang dengan kain basah secara rutin

Membersihkan rumah secara rutin menjadi langkah penting untuk mengurangi debu yang mungkin mengandung timbal. 

Debu dari cat yang mengelupas, tanah yang terkontaminasi, atau partikel dari luar rumah dapat menempel di lantai, meja, mainan, dan perabot.

Epidemiolog dari Vital Strategies, Edwin Siswono menjelaskan, anak-anak rentan menelan timbal karena kebiasaan memasukkan benda ke mulut.

“Prinsipnya, paparan timbal ini bisa terhirup dan tertelan. Anak-anak itu masih sering memasukkan mainan atau barang di sekitarnya ke mulut, maka sebaiknya rutin dibersihkan,” katanya dalam pemaparan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) pada anak di Indonesia dan Risalah Kebijakan di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).

Membersihkan dengan kain basah lebih dianjurkan dibandingkan sapu kering karena dapat mengikat debu agar tidak beterbangan dan terhirup oleh anak.

2. Mencuci tangan sebelum makan

Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan menjadi salah satu cara paling sederhana tetapi sangat efektif mencegah masuknya timbal ke tubuh anak. 

Timbal dapat menempel di tangan anak setelah bermain di lantai, tanah, atau memegang benda yang terkontaminasi. Then menegaskan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga harus diketatkan. Sebab, timbal ini menempel ke barang, jadi sering mencuci tangan pakai sabun,” ujarnya.

Dengan membiasakan anak mencuci tangan, risiko timbal yang tertelan bersama makanan dapat ditekan.

3. Mengganti pakaian setelah bekerja

Orangtua yang bekerja di lingkungan berisiko, seperti bengkel atau pabrik cat, perlu lebih waspada. Debu atau partikel timbal dapat menempel di pakaian dan terbawa pulang ke rumah.

“Jika orangtuanya bekerja di bengkel atau pabrik cat, sebaiknya ganti baju dan bersihkan diri sebelum pegang atau main dengan anak,” Edwin

Kebiasaan ini mencegah perpindahan timbal dari tempat kerja ke lingkungan rumah, yang tanpa disadari bisa menjadi sumber paparan bagi anak.

4. Membuka alas kaki sebelum masuk rumah

Tanah di sekitar rumah berpotensi mengandung timbal, terutama jika berada dekat bengkel, area industri, atau lokasi pembakaran limbah. 

Alas kaki yang digunakan di luar rumah dapat membawa partikel timbal ke dalam rumah.

Dengan membiasakan membuka alas kaki sebelum masuk, risiko penyebaran debu timbal di dalam rumah dapat dikurangi. 

Langkah sederhana ini membantu menjaga kebersihan lantai tempat anak sering bermain.

5. Mengonsumsi makanan bergizi

Asupan gizi yang baik berperan penting dalam membantu tubuh anak melawan dampak paparan timbal. Edwin menekankan pentingnya nutrisi dalam menjaga daya tahan tubuh anak.

“Jangan lupakan juga kebutuhan gizi anak harus lengkap agar sistem imunnya kuat. Timbal yang masuk ke tubuh anak masih bisa tertolong sedikit dengan konsumsi kalsium dan zat besi,” ujarnya.

Timbal diketahui berkompetisi dengan zat besi di dalam tubuh. Jika kadar zat besi rendah, risiko anemia akan meningkat.

Oleh karena itu, makanan yang kaya zat besi dan kalsium, seperti sayuran hijau, daging, ikan, telur, dan susu, menjadi sangat penting.

6. Menggunakan produk berstandar BPOM dan SNI

Pemilihan produk yang aman menjadi langkah krusial, terutama untuk mainan anak dan produk yang sering bersentuhan langsung dengan tubuh. 

“Paparan timbal itu bisa lewat mainan dan alat masak, jadi kalau memilih produk harus ada label SNI, karena itu memang jaminan minimal dari negara untuk keamanan suatu produk.”

Selain mainan, produk kosmetik, peralatan makan, dan barang rumah tangga lain juga sebaiknya memiliki izin edar dari BPOM dan memenuhi standar keamanan. Langkah ini membantu meminimalkan risiko paparan timbal dari produk sehari-hari.

7. Memeriksakan anak ke posyandu secara rutin

Pemeriksaan rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan penting untuk memantau tumbuh kembang anak. 

Meski paparan timbal sering tidak menunjukkan gejala langsung, pemantauan kesehatan secara berkala dapat membantu mendeteksi masalah sejak dini, seperti anemia atau gangguan pertumbuhan.

Posyandu juga menjadi tempat edukasi bagi orangtua mengenai gizi, kebersihan lingkungan, dan upaya pencegahan paparan zat berbahaya, termasuk timbal.

Upaya melindungi anak dari paparan timbal membutuhkan konsistensi dan kesadaran dari seluruh anggota keluarga. 

Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten ini, risiko paparan timbal pada anak dapat ditekan, sekaligus membantu menjaga tumbuh kembang dan kualitas kesehatan anak dalam jangka panjang.

Tag:  #cara #lindungi #anak #dari #paparan #timbal #lingkungan

KOMENTAR