Wabah Virus Nipah Meningkat di India, Indonesia Perketat Kewaspadaan
Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa hingga pertengahan Januari 2026, belum ditemukan kasus konfirmasi virus Nipah pada manusia di Indonesia.
Meski demikian, pemantauan diperketat karena virus Nipah tergolong penyakit infeksi emerging dengan tingkat kematian tinggi dan potensi penularan lintas negara.
Situasi global ini membuat kesiapsiagaan sistem surveilans kesehatan menjadi krusial.
Perkembangan kasus global jadi perhatian
Berdasarkan laporan Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, wabah virus Nipah kembali dilaporkan di beberapa wilayah India, termasuk negara bagian Kerala dan Bengala Barat.
Dalam laporan situasi tersebut, otoritas kesehatan India mencatat adanya kasus konfirmasi dan ratusan kontak erat yang harus menjalani pemantauan ketat, sehingga memicu peningkatan kewaspadaan di kawasan Asia Selatan.
Perkembangan ini menjadi perhatian komunitas kesehatan global karena virus Nipah termasuk penyakit infeksi emerging dengan potensi wabah berulang.
Indonesia masih bebas kasus, pemantauan diperketat
Kelelawar buah inang virus Nipah. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap virus Nipah meski belum ada kasus di Indonesia.
Perkembangan kasus di India turut menjadi dasar penguatan kewaspadaan di Indonesia.
Berdasarkan dokumen Perkembangan Situasi Penyakit Infeksi Emerging Minggu Epidemiologi ke-3 Tahun 2026 yang dirilis Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, hingga pertengahan Januari 2026 belum ditemukan laporan kasus konfirmasi virus Nipah pada manusia di Indonesia.
Meski demikian, Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa pemantauan dilakukan secara aktif melalui sistem surveilans penyakit infeksi emerging, terutama pada pintu masuk negara dan fasilitas kesehatan.
Apa itu virus Nipah dan mengapa perlu diwaspadai?
Menurut Kementerian Kesehatan RI, virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai reservoir alaminya.
Virus ini dapat menyebabkan spektrum penyakit yang luas, mulai dari infeksi tanpa gejala hingga gangguan pernapasan akut dan radang otak atau ensefalitis.
World Health Organization (WHO) mengklasifikasikan virus Nipah sebagai priority pathogen karena tingkat kematiannya yang tinggi, yaitu berkisar 40–75 persen, serta ketiadaan vaksin dan terapi spesifik.
Cara penularan yang perlu diwaspadai
Mengacu pada dokumen Kemenkes RI dan keterangan WHO, virus Nipah dapat menular melalui beberapa jalur utama, antara lain:
- Kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau cairan tubuhnya, seperti air liur dan urine
- Konsumsi buah atau makanan yang terkontaminasi oleh kelelawar buah
- Kontak erat dengan pasien terinfeksi, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas pelayanan kesehatan
WHO menegaskan bahwa penularan antarmanusia telah dilaporkan dalam sejumlah wabah, khususnya ketika pengendalian infeksi tidak optimal.
Langkah pencegahan yang disarankan
Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi risiko virus Nipah. Langkah pencegahan yang disarankan meliputi:
- Tidak mengonsumsi nira atau air aren yang diambil langsung dari pohonnya, karena kelelawar berpotensi mengontaminasi sadapan nira pada malam hari, sehingga nira perlu dimasak sebelum dikonsumsi.
- Mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi, serta membuang buah yang menunjukkan tanda gigitan atau kontaminasi kelelawar.
- Mengonsumsi daging ternak yang dimasak hingga benar-benar matang dan menghindari konsumsi daging mentah atau setengah matang.
- Menerapkan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin, serta memakai masker apabila mengalami gejala, terutama bagi kelompok rentan.
- Menghindari kontak langsung dengan hewan ternak yang berpotensi terinfeksi virus Nipah, seperti babi dan kuda, dan menggunakan alat pelindung diri (APD) jika kontak tidak dapat dihindari.
- Menggunakan sarung tangan dan pelindung diri bagi petugas pemotongan hewan saat menyembelih atau memotong hewan yang diduga terinfeksi virus Nipah, serta memastikan hewan terinfeksi tidak dikonsumsi.
- Menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) secara ketat bagi tenaga kesehatan, keluarga yang merawat pasien, serta petugas laboratorium yang menangani spesimen pasien terinfeksi.
WHO juga menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat serta penguatan surveilans sebagai kunci mencegah masuk dan penyebaran virus Nipah.
Tetap waspada, ikuti informasi resmi
Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa Indonesia hingga kini masih bebas kasus virus Nipah, namun tetap meningkatkan kewaspadaan seiring dinamika kasus di luar negeri.
Pemerintah mengajak masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dari otoritas kesehatan dan tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum terverifikasi.
Tag: #wabah #virus #nipah #meningkat #india #indonesia #perketat #kewaspadaan