Virus Nipah Jadi Sorotan Global, Banyak Negara Waspada Pandemi
Negara-negara di Asia mulai meningkatkan kewaspadaan setelah terdeteksi kasus virus Nipah di Benggala Barat, India.
Otoritas kesehatan di sejumlah negara memantau perkembangan situasi dan memperketat pengawasan, mengingat virus ini dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi.
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular antara hewan dan manusia, terutama melalui kelelawar buah dan babi.
Infeksi pada manusia dapat menimbulkan gejala yang bervariasi, mulai dari demam hingga gangguan saraf berat seperti radang otak, yang berpotensi berujung pada kematian, menurut pakar di Cleveland Clinic.
Di Thailand, pemerintah setempat mengonfirmasi lima orang telah terinfeksi virus Nipah. Otoritas kesehatan menegaskan langkah pemantauan dan pencegahan terus diperkuat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional India juga mengkonfirmasi wabah tersebut, dengan menulis bahwa wabah itu "tidak besar" dan terbatas pada dua "distrik di Kerala Kozhikode dan Malappuram."
Beberapa negara juga telah siaga dengan menerapkan aturan pelacakan dan pencegahan yang serupa dengan yang diterapkan selama pandemi COVID.
Pemerintah Thailand telah mengeluarkan kebijakan pemantauan para pelancong yang masuk ke negaranya.
"Jika para pelancong ditemukan mengalami demam tinggi atau memiliki gejala yang sesuai dengan infeksi virus Nipah, pemeriksaan tambahan akan dilakukan di pos pemeriksaan pengendalian penyakit menular internasional," demikian isi pernyataannya.
Nepal turut meningkatkan kewaspadaan nasional dengan memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara internasional dan pos lintas batas darat dengan India.
Ilustrasi
Kewaspadaan di Indonesia
Pakar epidemiologi dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman, mengatakan, meski belum ada kasus yang ditemukan di Indonesia, hewan pembawa virus Nipah, yakni kelelawar buah, sudah ditemukan di wilayah Asia Tenggara. Kewaspadaan pun sudah ditingkatkan di wilayah Asia Selatan, terutama India dan Bangladesh.
”Potensi pandemi memang lebih rendah dibandingkan virus yang menular secara airborne (lewat udara), tetapi kewaspadaan mesti dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya atau masuknya kasus ini di Indonesia dan terjadi wabah lokal,” katanya seperti dikutip dari Kompas.id.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, darah, atau urine.
Penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi, termasuk daging hewan yang dimasak kurang matang.
Selain dari hewan ke manusia, virus Nipah juga dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dengan pasien, terutama melalui cairan tubuh.
Tag: #virus #nipah #jadi #sorotan #global #banyak #negara #waspada #pandemi