Bukan Soal Mahal, Ini yang Sering Terlewat Saat Memilih Makanan Anak Menurut IDAI
Makanan anak tak cukup dinilai dari harga atau merek. IDAI ingatkan orangtua perlu cermat membaca kategori, komposisi, dan klaim gizi pada label.(dok. freepik)
21:06
28 Januari 2026

Bukan Soal Mahal, Ini yang Sering Terlewat Saat Memilih Makanan Anak Menurut IDAI

  Dokter dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), keberadaan nomor BPOM saja tidak cukup untuk memastikan makanan benar-benar sesuai bagi anak, terutama bayi dan balita.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Dr. dr. Klara Yuliarti, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), menegaskan bahwa orang tua perlu memahami lebih jauh cara membaca label pangan, mulai dari kategori produk hingga klaim gizi yang tertera.

“Kalau kita tidak paham aturannya, kita juga tidak tahu apa yang bisa kita interpretasikan dari label makanan,” ujar dr. Klara dalam diskusi media, Selasa (27/1/2026).

Nomor BPOM ada, tapi kategorinya bisa keliru

Menurut dr. Klara, tidak semua pangan yang memiliki izin edar BPOM otomatis cocok untuk anak.

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah tidak mengecek kategori pangan.

Produk pangan terbagi menjadi pangan segar, pangan olahan siap saji, dan pangan olahan kemasan.

Hanya pangan olahan kemasan yang memang diwajibkan memiliki izin BPOM atau IRT, tergantung skala produksinya.

Masalah muncul ketika produk yang seharusnya masuk kategori pangan diet khusus atau pangan medis justru dijual bebas dengan tampilan menyerupai makanan anak sehari-hari.

“Dari kemasan saja seharusnya sudah bisa dicurigai. Kalau benar produk medis khusus, informasi nilai gizinya pasti sangat lengkap dan detail,” jelas dr. Klara.

Anak di bawah 3 tahun termasuk populasi khusus

IDAI menekankan bahwa anak di bawah usia tiga tahun termasuk populasi khusus yang harus mendapat perlindungan lebih ketat.

Artinya, standar keamanan dan klaim pada makanan untuk kelompok usia ini jauh lebih ketat dibandingkan pangan umum.

Produk untuk bayi dan balita tidak boleh sembarangan mencantumkan klaim kesehatan, apalagi klaim penurunan risiko penyakit.

“MPASI dan susu formula tidak boleh mengklaim manfaat kesehatan seperti menurunkan risiko penyakit. Itu sudah diatur secara tegas,” kata dr. Klara.

Baca juga: Anak Rentan Sakit di Musim Hujan, IDAI Bagikan Tips Menjaga Daya Tahan Tubuh

Membaca komposisi: urutan itu penting

Kesalahan lain yang sering terlewat adalah tidak memperhatikan urutan bahan dalam daftar komposisi.

Bahan yang ditulis paling awal menandakan jumlah terbanyak dalam produk.

“Kalau gula tercantum di urutan awal, artinya kandungannya cukup tinggi,” ujar dr. Klara.

Ia juga mengingatkan bahwa gula memiliki banyak nama, seperti sukrosa, maltodekstrin, hingga istilah karbohidrat. Ini kerap membuat orang tua keliru menilai seberapa besar asupan gula yang dikonsumsi anak.

Gula tidak selalu buruk, tapi harus dipahami

Menurut dr. Klara, gula alami seperti laktosa dalam susu tidak sama dengan gula tambahan.

Laktosa dibutuhkan tubuh, terutama untuk perkembangan otak anak. Namun, gula tambahan seperti sukrosa perlu dibatasi.

WHO merekomendasikan asupan gula tambahan tidak lebih dari 10 persen dari total energi harian.

Sayangnya, banyak produk minuman atau makanan anak yang kandungan gulanya sudah melampaui batas ini dalam satu porsi saja.

“Kalau dari satu produk saja sudah tinggi gula, artinya anak tidak boleh mendapatkan tambahan gula lagi dari makanan lain,” jelasnya.

Klaim “sumber” dan “tinggi” gizi itu berbeda

Klara juga menyoroti kesalahan umum dalam memahami klaim gizi. Istilah “sumber kalsium” dan “tinggi kalsium” memiliki arti yang berbeda.

“Klaim ‘sumber’ berarti hanya memenuhi batas minimal. Kalau ‘tinggi’, kandungannya dua kali lipat lebih besar dari syarat minimal,” jelasnya.

Tanpa pemahaman ini, orang tua bisa salah mengira produk tertentu sudah cukup memenuhi kebutuhan gizi anak, padahal masih perlu dilengkapi dari makanan lain.

Anak kenyang belum tentu gizinya cukup

IDAI mengingatkan bahwa rasa kenyang bukan indikator kecukupan gizi. Banyak anak merasa kenyang setelah mengonsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat sederhana, tetapi rendah protein dan zat gizi mikro.

Akibatnya, anak enggan makan makanan utama di rumah, seperti nasi, lauk berprotein, dan sayuran. Dalam jangka panjang, pola ini dapat berkontribusi pada masalah gizi seperti stunting, anemia, hingga gizi tidak seimbang.

Baca juga: IDAI Tekankan Pentingnya ASI bagi Bayi Korban Banjir

Orangtua perlu aktif dan kritis

Di tengah keterbatasan pengawasan produk yang jumlahnya sangat banyak, IDAI mendorong peran aktif masyarakat, termasuk orang tua dan tenaga kesehatan, untuk melaporkan produk bermasalah ke BPOM.

Kini, BPOM juga menyediakan layanan pengecekan produk secara daring agar konsumen bisa memastikan status dan kategori pangan secara mandiri.

“Tidak semua makanan kemasan itu buruk. Tapi orang tua perlu cermat memilih, terutama untuk anak usia dini,” tutup dr. Klara.

Tag:  #bukan #soal #mahal #yang #sering #terlewat #saat #memilih #makanan #anak #menurut #idai

KOMENTAR