Bukan Hanya di India, Ini Alasan Mengapa Indonesia Jadi Hotspot Alami Virus Nipah
Kelelawar buah inang virus Nipah. Epidemiolog menjelaskan kapan keberadaan kelelawar buah bisa menjadi ancaman dan bagaimana penularan virus Nipah terjadi.(SHUTTERSTOCK/Natalia Golovina)
21:36
28 Januari 2026

Bukan Hanya di India, Ini Alasan Mengapa Indonesia Jadi Hotspot Alami Virus Nipah

Kementerian Kesehatan menegaskan hingga kini belum ada kasus konfirmasi virus Nipah di Indonesia.

Pemerintah menyatakan tetap meningkatkan kewaspadaan karena faktor risiko ekologis di Tanah Air.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan hingga 23 Januari 2026, tidak ditemukan kasus Nipah di Indonesia.

“Saat ini belum ada laporan kasus konfirmasi penyakit virus Nipah di Indonesia,” ujar Aji dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (28/1/2026).

Baca juga: Bukan Lima Kasus, Ini Penjelasan Resmi India Soal Situasi Terkini Wabah Virus Nipah

Kelelawar buah dan virus Nipah

Epidemiolog Griffith University Australia, Dr. Dicky Budiman B.Med, MScPH, PhD, menjelaskan bahwa virus Nipah merupakan virus zoonotik, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

“Reservoir alaminya adalah kelelawar buah, khususnya dari genus Pteropus,” kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Rabu.

Ia menegaskan, virus Nipah bukan virus baru. Penyakit ini pertama kali dikenali pada 1998–1999 di Malaysia dan sejak itu menimbulkan wabah berulang di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Baca juga: Situasi Terkini Virus Nipah di Indonesia, Epidemiolog Ingatkan Gejala dan Pencegahannya

Apakah keberadaan kelelawar buah berbahaya?

Ilustrasi virus Nipah. Epidemiolog menjelaskan kapan keberadaan kelelawar buah bisa menjadi ancaman dan bagaimana penularan virus Nipah terjadi.Google Gemini AI Ilustrasi virus Nipah. Epidemiolog menjelaskan kapan keberadaan kelelawar buah bisa menjadi ancaman dan bagaimana penularan virus Nipah terjadi.

Menurut Dicky, keberadaan kelelawar buah tidak otomatis berbahaya. Risiko muncul ketika terjadi kontak berisiko antara manusia dan hewan pembawa virus.

“Indonesia memang punya faktor risiko alami karena kelelawar buah hidup luas di wilayah kita. Tapi yang harus dicegah adalah agar virus itu tidak menginfeksi manusia,” jelasnya.

Ia menyebut, risiko meningkat akibat perubahan lingkungan seperti deforestasi, meningkatnya interaksi manusia dengan satwa liar, serta konsumsi buah atau produk pangan yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar.

Virus Nipah juga bisa menular melalui hewan perantara, seperti babi, serta melalui kontak erat antar manusia, terutama di lingkungan keluarga atau fasilitas kesehatan tanpa perlindungan memadai.

Baca juga: Waspada Virus Nipah dengan Gejala Mirip Flu yang Berakibat Fatal, Ini Penjelasan Kemenkes

Siapa yang perlu waspada?

Dicky menyebut beberapa kelompok dengan risiko lebih tinggi, antara lain peternak, pekerja peternakan, tenaga kesehatan, keluarga perawat pasien, serta masyarakat yang mengonsumsi pangan mentah atau tinggal dekat hutan.

“Penularan antar manusia memang tidak sering, tapi bisa terjadi jika ada kontak erat dengan cairan tubuh penderita,” ujarnya.

Pencegahan jadi kunci

Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk virus Nipah. Karena itu, pencegahan menjadi langkah utama. Dicky mengingatkan masyarakat untuk:

  • Tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan hewan
  • Mencuci dan mengupas buah sebelum dimakan
  • Menghindari konsumsi nira atau produk hewani mentah
  • Menjaga kebersihan tangan

“Jika mengalami demam tinggi disertai gangguan pernapasan atau saraf, terutama setelah kontak dengan hewan atau dari wilayah berisiko, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” katanya.

Ia menegaskan, virus Nipah menjadi pengingat penting bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung.

Baca juga: Sering Dikira Flu Biasa, Kenali Gejala Virus Nipah yang Bisa Menyerang Otak

Tag:  #bukan #hanya #india #alasan #mengapa #indonesia #jadi #hotspot #alami #virus #nipah

KOMENTAR