Child Grooming, Bahaya yang Datang Diam-diam dari Hubungan yang Terlihat Aman
Ilustrasi anak. Child grooming sering bermula dari perhatian yang tampak peduli, tetapi dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang pada korban.(Freepik)
18:06
18 Januari 2026

Child Grooming, Bahaya yang Datang Diam-diam dari Hubungan yang Terlihat Aman

Child grooming sering tidak disadari karena hadir bukan dalam bentuk kekerasan, melainkan perhatian yang tampak hangat dan peduli.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa manipulasi psikologis ini berlangsung bertahap dan dapat meninggalkan luka jangka panjang yang baru terasa ketika korban beranjak dewasa.

Fenomena ini kembali disorot melalui buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, yang mengingatkan bahwa bahaya bagi anak tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan.

Apa itu child grooming?

Child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan secara sengaja oleh pelaku dengan membangun kepercayaan, kedekatan emosional, dan ketergantungan pada anak.

Tujuan akhirnya adalah eksploitasi, baik secara emosional, psikologis, maupun seksual.

Berbeda dari kekerasan yang terjadi secara tiba-tiba, grooming berlangsung bertahap dan sering kali tidak disadari oleh korban.

Pelaku dapat tampil sebagai orang dewasa yang paling peduli, mentor yang paling memahami, atau figur aman ketika anak merasa kesepian.

“Grooming bukan soal sentuhan dulu, tapi soal kepercayaan yang dicuri perlahan,” ujar Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).

Ketika kedekatan berubah menjadi jerat

Ilustrasi anak. Child grooming sering bermula dari perhatian yang tampak peduli, tetapi dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang pada korban.Freepik Ilustrasi anak. Child grooming sering bermula dari perhatian yang tampak peduli, tetapi dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang pada korban.

Dalam proses grooming, anak perlahan diarahkan untuk merasa bahwa pelaku adalah satu-satunya tempat aman.

Kedekatan yang dibangun membuat anak merasa bersalah jika menjauh, takut kehilangan perhatian, dan ragu mempercayai orang lain.

Pada tahap ini, batas antara nyaman dan tidak nyaman mulai kabur.

“Ketidaknyamanan yang diabaikan hari ini bisa menjadi luka besar di masa depan,” ujarnya.

Mengapa child grooming terjadi?

Menurut Lahargo Kembaren, child grooming bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan ekspresi kebutuhan psikologis yang bermasalah pada pelaku.

Pelaku kerap memiliki kebutuhan akan kontrol dan kekuasaan atas emosi serta keputusan anak.

Selain itu, terdapat distorsi kognitif yang membuat pelaku membenarkan tindakannya, seperti merasa dirinya “menyayangi” atau menganggap anak yang “lebih dulu nyaman”.

“Luka yang tidak disadari bisa berubah menjadi luka yang diwariskan,” kata Lahargo.

Ia juga menyoroti bahwa sebagian pelaku pernah menjadi korban di masa lalu, tetapi luka yang tidak disembuhkan kemudian berubah menjadi pola menyakiti.

Dampak yang baru terasa bertahun-tahun kemudian

Dampak child grooming sering tidak muncul secara langsung.

Banyak korban baru menyadari bahwa mereka pernah dimanipulasi ketika telah dewasa, terutama saat mengalami kesulitan dalam membangun relasi yang sehat.

Secara psikologis, korban dapat mengalami kebingungan emosi, rasa bersalah berlebihan, dan trauma relasional.

Dalam relasi, korban cenderung mudah terjebak dalam hubungan tidak sehat, sulit mengenali batasan, dan takut berkata tidak.

“Grooming tidak hanya mencuri masa kecil, tapi juga memengaruhi cara seseorang mencintai dirinya sendiri dan berelasi dengan orang lain,” ujar Lahargo.

Peran orangtua sebagai benteng utama

Dalam pencegahan child grooming, parenting menjadi faktor protektif paling penting.

Lahargo menekankan pentingnya membangun ruang aman bagi anak, bukan ruang yang dipenuhi rasa takut. Anak perlu tahu bahwa ia boleh bercerita tanpa dihakimi dan tidak akan dimarahi karena jujur.

“Anak yang aman bercerita, lebih sulit dimanipulasi,” ujarnya.

Selain itu, orangtua perlu membantu anak mengenali bahasa emosi, membedakan rasa nyaman dan tidak nyaman, serta memahami perbedaan antara rahasia yang aman dan rahasia yang berbahaya.

Normalisasi pembicaraan tentang batasan tubuh juga menjadi kunci penting.

“Menghormati anak bukan membuatnya manja, tapi membuatnya aman,” kata dr. Lahargo.

Hadir, bukan mengontrol

Pendekatan orangtua tidak seharusnya berupa pengawasan ketat yang menekan anak.

Yang dibutuhkan adalah keterlibatan konsisten, mengenal lingkar pertemanan anak, aktivitas digitalnya, serta figur signifikan dalam hidupnya.

“Kedekatan orangtua adalah benteng pertama, bukan pengawasan ketat,” tegas Lahargo.

Luka yang perlu disadari bersama

Broken Strings mengingatkan bahwa luka masa kecil sering kali tidak bersuara, tetapi beresonansi panjang dalam kehidupan dewasa.

Child grooming bukan hanya isu kriminal, melainkan persoalan relasional, psikologis, dan parenting yang membutuhkan kesadaran kolektif.

“Perhatian yang sehat membebaskan. Perhatian yang berbahaya mengikat,” tutup Lahargo.

Tag:  #child #grooming #bahaya #yang #datang #diam #diam #dari #hubungan #yang #terlihat #aman

KOMENTAR