Ramai Disebut Superflu, Kemenkes Tegaskan Gejalanya Tak Lebih Parah dari Flu Musiman
Ilustrasi superflu. 4 kelompok anak yang berisiko tinggi jika terkena superflu.(Freepik/pressfoto)
12:36
2 Januari 2026

Ramai Disebut Superflu, Kemenkes Tegaskan Gejalanya Tak Lebih Parah dari Flu Musiman

Istilah “superflu” belakangan ramai diperbincangkan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kasus influenza di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menegaskan bahwa influenza A(H3N2) subclade K yang beredar saat ini tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan flu musiman.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menyampaikan bahwa penilaian tersebut didasarkan pada evaluasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta data epidemiologi yang tersedia hingga akhir Desember 2025.

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan,” ujar dr. Prima dalam keterangan resmi Kemenkes, dikutip pada Jumat (2/1/2026).

Gejala 'superflu' serupa flu musiman

Dokter Prima menjelaskan, gejala yang ditimbulkan oleh influenza A(H3N2) subclade K umumnya serupa dengan flu musiman.

Keluhan yang paling sering muncul meliputi demam, batuk, pilek, sakit kepala, serta nyeri tenggorokan.

Beredar secara global sejak pertengahan 2025

Secara global, peningkatan kasus influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring masuknya musim dingin.

Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025.

Hingga kini, subclade K telah dilaporkan beredar di lebih dari 80 negara.

Di kawasan Asia, varian ini ditemukan di sejumlah negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025.

Meski influenza A(H3) menjadi varian dominan, kasus influenza di negara-negara Asia tersebut justru menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

Situasi di Indonesia dinilai terkendali hingga saat ini

Kondisi serupa juga terlihat di Indonesia. Berdasarkan hasil surveilans nasional, influenza A(H3) menjadi varian yang paling banyak ditemukan, namun tren kasus influenza nasional tercatat menurun dalam dua bulan terakhir.

Melalui pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi,” kata dr. Prima.

Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak meliputi Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak.

Dari total 843 spesimen positif influenza yang diperiksa, sebanyak 348 sampel menjalani pemeriksaan WGS.

Seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan saat ini masih bersirkulasi secara global dalam sistem surveilans WHO.

Kemenkes imbau masyarakat tetap waspada

Meski situasi dinilai terkendali, Kemenkes menegaskan akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan dalam merespons dinamika perkembangan influenza.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.

Vaksin influenza dinilai tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza.

Selain itu, masyarakat diminta untuk tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, menerapkan etika batuk dan bersin, serta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila gejala memburuk atau tidak membaik dalam lebih dari tiga hari.

Tag:  #ramai #disebut #superflu #kemenkes #tegaskan #gejalanya #lebih #parah #dari #musiman

KOMENTAR