5 Fakta tentang Superflu, Influenza dengan Penularan Cepat
Ilustrasi flu. Kasus flu meningkat tajam dan ramai disebut ?super flu?, namun dokter menegaskan kondisi ini disebabkan varian yang lebih mudah menular, bukan virus baru.(Freepik/benzoix)
21:06
30 Desember 2025

5 Fakta tentang Superflu, Influenza dengan Penularan Cepat

Istilah superflu belakangan ramai diperbincangkan seiring meningkatnya kasus influenza di sejumlah negara, terutama di Amerika Serikat.

Lonjakan kasus ini dikaitkan dengan beredarnya virus influenza A tipe H3N2, varian yang dikenal memiliki tingkat penularan tinggi dan kerap mendominasi musim flu.

Meski disebut “super”, para ahli menegaskan bahwa superflu bukan virus baru dan bukan istilah medis resmi.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan varian influenza yang menyebar lebih cepat dan berkontribusi pada peningkatan kasus flu, terutama di tengah tingginya mobilitas masyarakat dan aktivitas di kerumunan.

Dikutip dari Today.com direktur medis National Foundation for Infectious Diseases, Dr. Robert Hopkins Jr., menjelaskan bahwa H3N2 merupakan virus influenza yang sudah lama dikenal dan terus mengalami mutasi.

Kondisi inilah yang membuat varian tersebut tetap menjadi perhatian karena berpotensi memicu penyakit yang lebih berat pada kelompok rentan. Berikut sejumlah fakta tentang superflu yang perlu diketahui.

1. Superflu bukan sepenuhnya virus baru

Superflu bukan nama resmi dalam dunia medis.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan virus influenza A tipe H3N2, khususnya varian subclade K, yang penularannya tergolong cepat dan berkontribusi pada lonjakan kasus flu.

Direktur medis dari National Foundation for Infectious Diseases, Dr. Robert Hopkins Jr., menjelaskan bahwa H3N2 merupakan virus influenza yang sudah lama dikenal dan terus mengalami mutasi.

"Mengetahui bahwa ada strain mutasi baru di luar sana dan H3N2 umumnya menyebabkan penyakit yang lebih parah sangat mengkhawatirkan," ujar Dr. Hopkins, dikutip dari Today.com, Selasa (30/12/2025).

2. Penularannya tergolong cepat

Salah satu alasan varian ini disebut superflu adalah tingkat penularannya yang tinggi.

Influenza menyebar melalui droplet dari batuk dan bersin, serta kontak dengan permukaan benda yang terkontaminasi virus.

Menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Nastiti Kaswandani Sp.A(K), satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke dua hingga tiga orang di sekitarnya, terutama jika berada di ruang tertutup atau kerumunan.

Selain itu, lonjakan kasus influenza juga terjadi secara luas di Amerika Serikat.

Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa aktivitas flu meningkat tajam di hampir seluruh negara bagian.

Beberapa wilayah bahkan mencatat aktivitas flu pada level tinggi hingga sangat tinggi, termasuk New York dan Distrik Columbia.

Di New York State saja, 71.123 kasus positif tercatat hanya dalam satu minggu sejak 13 Desember-20 Desember 2025, menjadikannya angka mingguan tertinggi sejak pencatatan dimulai.

Lonjakan tersebut turut memicu peningkatan tajam kunjungan ke unit gawat darurat dan rawat inap akibat penyakit mirip flu, menjadikan kunjungan UGD tertinggi selama 10 tahun di New York.

Ilustrasi anak sakit.Dok. Freepik/DC Studio Ilustrasi anak sakit.

3. Gejalanya mirip flu biasa

Secara klinis, superflu tidak bisa dibedakan dari influenza A pada umumnya.

Gejalanya meliputi demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri tenggorokan, pilek, batuk, serta badan pegal.

“Dari pemeriksaan klinis saja, dokter tidak bisa memastikan apakah ini superflu atau bukan. Pemeriksaan laboratorium lanjutan diperlukan,” dr. kata Nastiti, dikutip dari Antara.

4. Kelompok rentan tetap perlu waspada

Seperti influenza pada umumnya, superflu berisiko menimbulkan komplikasi serius pada kelompok rentan, antara lain:

  • Balita dan anak-anak
  • Lansia
  • Ibu hamil

Penderita penyakit kronis, seperti penyakit jantung, kanker, dan gangguan imunitas
Kelompok ini disarankan untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala berat atau tidak membaik.

5. Antisipasi pencegahan melalui PHBS dan vaksin

Para ahli menekankan bahwa langkah pencegahan influenza tidak berubah, meski varian virus terus bermutasi. Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi kunci utama, antara lain:

  • Menggunakan masker saat sakit
  • Rajin mencuci tangan
  • Menerapkan etika batuk dan bersin
  • Menghindari kontak dekat dengan orang sakit
  • Istirahat dan hidrasi yang cukup

Mencegah lebih baik

Selain itu, vaksin influenza tahunan tetap direkomendasikan. IDAI menyebutkan vaksin influenza terbukti menurunkan risiko keparahan dan kematian akibat influenza, meskipun virus terus bermutasi setiap tahun.

Vaksin influenza dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan perlu diulang setiap tahun sesuai rekomendasi medis.

Tag:  #fakta #tentang #superflu #influenza #dengan #penularan #cepat

KOMENTAR