Balita dan Lansia Paling Berisiko Terkena Superflu, Terapkan Pencegahan Sama Seperti Covid-19
JawaPos.com-Balita dan lansia menjadi dua kelompok usia yang paling berisiko terpapar influenza yang belakangan ramai disebut sebagai superflu. Meski istilah superflu bukan terminologi medis, tingkat penularan influenza yang diindikasi merupakan jenis A H3N2 subklade K cepat menular. Langkah pencegahannya pada prinsipnya sama seperti saat menghadapi pandemi Covid-19.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Nastiti Kaswandani, menjelaskan bahwa dari sisi usia, risiko terpapar superflu tertinggi memang berada pada dua kelompok tersebut.
“Kelompok risiko tinggi ada dua, yang pertama adalah balita, dan yang kedua adalah lansia. Kalau terkena infeksi influenza, keparahannya bisa lebih tinggi dibanding kelompok usia lain,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (30/12).
Di luar balita dan lansia, risiko tinggi juga mengintai mereka yang memiliki penyakit penyerta atau kondisi medis tertentu. Kelompok ini meliputi pasien dengan penyakit jantung, baik penyakit jantung bawaan pada anak maupun penyakit kardiovaskular pada orang dewasa, pasien kanker, penderita HIV, penyakit autoimun, hingga pasien yang mengonsumsi obat-obatan penekan sistem imun, termasuk obat-obatan reumatik tertentu.
Menurut dr. Nastiti, munculnya istilah superflu dipicu oleh temuan varian influenza A H3N2 subklade K yang diduga memiliki kemampuan penularan lebih cepat.
“Kalau flu A biasa bisa menularkan ke dua sampai tiga orang, varian ini disinyalir bisa lebih. Tapi sejauh ini belum ada penelitian yang membuktikan secara pasti, karena kasusnya memang baru terlihat meningkat,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada bukti bahwa varian tersebut menyebabkan keparahan yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza A lainnya. Gejalanya masih serupa, mulai dari demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, hingga gangguan saluran pernapasan.
“Keparahannya masih mirip dengan varian flu A lain, dan belum terbukti lebih mematikan,” kata dr. Nastiti.
Terkait perlindungan, imunisasi influenza dinilai masih efektif. Hingga kini, belum ditemukan bukti bahwa subklade K kebal terhadap vaksin influenza.
“Laporan yang ada justru menunjukkan bahwa kerentanan lebih tinggi terjadi pada mereka yang tidak mendapatkan imunisasi influenza,” ujarnya.
Anggota Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI ini juga mengingatkan bahwa anggapan influenza sebagai penyakit ringan adalah keliru. Di negara maju sekalipun, terutama di wilayah dengan musim dingin, influenza masih menjadi salah satu penyebab kematian yang signifikan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit penyerta.
Berdasarkan laporan Global Influenza Surveillance, peningkatan kasus influenza di belahan bumi utara seperti Amerika, Kanada, dan Eropa biasanya terjadi pada bulan Oktober hingga Februari, seiring musim dingin. Sementara di belahan bumi selatan, lonjakan kasus terjadi pada Juni hingga Agustus. Di Indonesia, meski tidak memiliki musim dingin, influenza ditemukan sepanjang tahun, dengan sedikit peningkatan pada bulan-bulan akhir tahun.
“Kita di Indonesia tidak kekurangan kasus, tetapi kemampuan deteksi kita memang belum sebaik negara maju. Influenza ada sepanjang tahun, sehingga imunisasi bisa dilakukan kapan saja, terutama setelah usia enam bulan,” jelas dr. Nastiti.
Untuk pencegahan kasus superflu, langkah-langkahnya dinilai tidak berbeda dengan yang diterapkan saat pandemi Covid-19. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi kunci utama, mulai dari penggunaan masker saat sakit, etika batuk dan bersin dengan menutup hidung dan mulut, rajin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menjaga jarak dari orang yang sakit, hingga membersihkan permukaan benda yang sering disentuh.
“Influenza sangat mudah menular melalui percikan ludah, batuk, bersin, dan permukaan benda. Jadi pencegahannya sama seperti Covid-19. Ditambah dengan imunisasi influenza, itu sangat membantu menurunkan risiko penularan dan keparahan,” pungkas dr. Nastiti. (*)
Tag: #balita #lansia #paling #berisiko #terkena #superflu #terapkan #pencegahan #sama #seperti #covid