Dokter Ungkap Alasan Jalan Kaki Tidak Boleh Putus-putus Jika Ingin Sehat
Ilustrasi jalan kaki. Jalan kaki yang sering berhenti ternyata membuat manfaat kesehatan tidak maksimal, dan dokter menjelaskan bagaimana ritme yang tepat agar tubuh benar-benar mendapat efeknya.(Pexels/RDNE Stock project)
15:48
26 Desember 2025

Dokter Ungkap Alasan Jalan Kaki Tidak Boleh Putus-putus Jika Ingin Sehat

Jalan kaki tidak akan memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan jika dilakukan secara putus-putus dan tanpa ritme yang jelas.

Banyak orang merasa sudah berolahraga hanya karena sering berjalan kaki dalam aktivitas harian, seperti naik tangga, berpindah ruangan di kantor, atau berjalan sebentar lalu berhenti, padahal pola tersebut belum tentu memberikan efek kesehatan yang optimal bagi tubuh.

Dokter ilmu faal olahraga klinis dr. Iwan Wahyu Utomo, AIFO.K, menjelaskan bahwa jalan kaki akan memberikan manfaat terbaik jika dilakukan secara dinamis, stabil, dan berkelanjutan, bukan terpotong-potong oleh banyak jeda.

Jalan kaki ideal harus dilakukan tanpa banyak berhenti

Menurut Iwan, perbedaan utama antara jalan kaki sebagai aktivitas harian dan jalan kaki sebagai olahraga terletak pada kontinuitas gerakan.

“Kalau olahraga itu dinamis, artinya dilakukan terus-menerus dari awal sampai akhir tanpa berhenti,” kata Iwan saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (19/12/2025).

Ia menjelaskan, secara teori, jalan kaki sebagai olahraga idealnya dilakukan minimal 30 menit tanpa henti, karena tubuh membutuhkan waktu untuk masuk ke fase pembakaran energi dan adaptasi kerja jantung.

“Kalau jalan sebentar lalu berhenti, jalan lagi lalu berhenti, manfaatnya tidak seoptimal jalan kaki yang stabil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Meski begitu, bagi orang dengan kesibukan tinggi, jalan kaki tetap bisa dibagi dalam dua sesi, misalnya pagi dan sore, asalkan setiap sesi tetap dilakukan secara dinamis dan tidak terlalu sering berhenti.

Putus-putus bikin tubuh sulit masuk zona latihan

Iwan menambahkan, jalan kaki yang terlalu sering berhenti membuat tubuh sulit mencapai intensitas yang dibutuhkan untuk meningkatkan kebugaran jantung, membakar kalori, dan memperbaiki daya tahan tubuh.

“Yang penting itu pace-nya stabil dan gerakannya terus,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa rasa lelah ringan saat jalan kaki adalah hal yang normal, tetapi selama tidak muncul keluhan seperti nyeri dada, pusing berputar, atau sesak napas berlebihan, maka aktivitas tersebut masih tergolong aman.

“Kalau sudah jalan stabil 30 menit dan tidak ada keluhan, itu tandanya intensitasnya sudah cukup dan aman,” kata Iwan.

Sebaliknya, jika saat jalan kaki muncul tanda-tanda seperti sesak napas, pusing, nyeri dada, atau nyeri sendi, maka aktivitas harus segera dihentikan dan intensitas perlu dikurangi.

Kunci jalan kaki sehat adalah ritme dan konsistensi

Sebagai dokter yang juga menangani atlet dan menjadi dokter tim Persis Solo, Iwan juga menegaskan bahwa jalan kaki bukan sekadar soal jumlah langkah, melainkan bagaimana langkah itu dilakukan.

“Jalan kaki itu harus rileks, dinikmati, tapi tetap stabil dan dinamis,” ujarnya.

Ia menyarankan agar orang yang baru mulai berolahraga tidak memaksakan diri langsung berjalan 30 menit, melainkan memulai secara bertahap.

“Bisa mulai 10 menit dulu, nanti naik jadi 15 menit, 20 menit, sampai akhirnya 30 menit per hari,” kata Iwan.

Dengan ritme yang tepat dan konsistensi, jalan kaki tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan jantung dan metabolisme, tetapi juga membantu mengurangi stres, meningkatkan energi, dan membentuk gaya hidup aktif yang lebih realistis untuk dijalani sehari-hari.

Tag:  #dokter #ungkap #alasan #jalan #kaki #tidak #boleh #putus #putus #jika #ingin #sehat

KOMENTAR