Remaja Keracunan Usai Minum Darah Sendiri akibat Ikuti Tips di Media Sosial
Ilustrasi anak sakit. Remaja ini nekat meminum darahnya sendiri demi menaikkan hemoglobin, tetapi dokter menegaskan tubuh manusia tidak bisa mencerna darah dan justru berisiko menyebabkan keracunan serius.(SHUTTERSTOCK/sumroeng chinnapan)
10:18
26 Desember 2025

Remaja Keracunan Usai Minum Darah Sendiri akibat Ikuti Tips di Media Sosial

Upaya menaikkan kadar hemoglobin dengan cara ekstrem justru berujung bahaya, setelah seorang remaja di Moskwa nekat meminum darahnya sendiri karena percaya informasi yang ia temukan di media sosial.

Kasus ini mencuat setelah remaja berusia 17 tahun tersebut melakukan pengambilan darah secara mandiri lalu meminumnya, dengan harapan tubuh menjadi lebih kuat dan kadar hemoglobin meningkat, sebagaimana dilaporkan media Rusia, Mockba24.

Alih-alih mendapat manfaat, kondisinya justru memburuk dalam waktu singkat. Ia mengalami muntah bercampur darah, demam tinggi, dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit dengan diagnosis keracunan akut hingga harus menjalani perawatan intensif.

Setelah kondisinya stabil, remaja tersebut mengaku melakukan tindakan itu dengan niat “baik” untuk kesehatan.

Namun, tenaga medis menilai tindakannya sangat berisiko dan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, termasuk konsultasi kejiwaan.

Kasus ini kembali memicu perbincangan soal maraknya tren kesehatan berbahaya yang menyebar di media sosial, terutama di kalangan remaja yang mudah terpengaruh konten singkat tanpa dasar medis.

Mengapa minum darah tidak menaikkan hemoglobin?

Dokter spesialis penyakit dalam Andrey Kondrakhin, kandidat doktor ilmu kedokteran, menegaskan bahwa darah sama sekali tidak bisa dicerna oleh sistem pencernaan manusia.

“Darah yang masuk ke lambung justru bersifat iritatif dan tidak diserap tubuh. Kandungan zat besi dan sel-sel darah di dalamnya membuat darah diperlakukan tubuh sebagai zat agresif,” jelas Kondrakhin, dikutip dari Mockba24.

Ia menjelaskan bahwa plasma darah dan komponen pembentuknya tidak dirancang untuk diproses melalui saluran cerna.

“Tubuh tidak tahu bagaimana cara mencerna darah. Ini proses yang sangat kompleks dan tidak mungkin terjadi di saluran pencernaan,” ujarnya.

Akibatnya, darah hanya akan melewati usus hampir tanpa perubahan, meski warnanya bisa berubah karena pengaruh asam lambung. Kandungan zat besi di dalam hemoglobin pun tidak akan terserap.

“Yang terjadi justru mual, muntah, bahkan keracunan. Cara ini sama sekali tidak bermanfaat untuk mengatasi anemia,” tegas Kondrakhin.

Risiko tambahan: Infeksi hingga kerusakan organ

Bahaya tidak berhenti di situ. Kondrakhin juga menyoroti tindakan pengambilan darah secara mandiri yang sangat berisiko.

“Pengambilan darah hanya boleh dilakukan di fasilitas medis. Jika dilakukan sendiri, risiko infeksi sangat tinggi karena membuka jalan masuk bagi mikroorganisme berbahaya ke dalam tubuh,” katanya.

Luka terbuka, alat tidak steril, dan kurangnya pengetahuan medis dapat menyebabkan komplikasi serius, mulai dari infeksi lokal hingga gangguan sistemik.

Cara medis menangani anemia yang benar

Dokter spesialis penyakit dalam Lyudmila Lapa menjelaskan bahwa hemoglobin adalah protein penting dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

“Jika zat besi berkurang, kadar hemoglobin turun dan terjadilah anemia. Gejalanya meliputi lemas, cepat lelah, dan pucat,” ujar Lapa.

Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah, termasuk mengecek kadar hemoglobin, ferritin, dan transferrin.

Dokter juga perlu menelusuri penyebab kekurangan zat besi, yang sering kali berkaitan dengan perdarahan tersembunyi, gangguan pembuluh darah, atau penyakit saluran cerna.

“Penanganan anemia harus melalui obat yang diresepkan dokter. Selain itu, pola makan bisa diperbaiki dengan menambahkan sumber zat besi seperti hati, daging, apel, dan gandum,” jelas Lapa.

Jangan percaya tren kesehatan tanpa dasar

Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua informasi kesehatan di internet aman untuk diikuti, apalagi jika bertentangan dengan prinsip medis dasar.

Alih-alih mencoba metode ekstrem, dokter menekankan pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika mengalami keluhan, terutama yang berkaitan dengan darah dan metabolisme tubuh.

Tubuh manusia memiliki mekanisme yang kompleks, dan jalan pintas yang terlihat “alami” atau “logis” di media sosial justru bisa berujung pada kondisi yang mengancam nyawa.

Tag:  #remaja #keracunan #usai #minum #darah #sendiri #akibat #ikuti #tips #media #sosial

KOMENTAR