MA Batalkan Sebagian Besar Tarif Trump, Wall Street Langsung Melaju
Ilustrasi Wall Street, bursa saham AS New York Stock Exchange. (UNSPLASH/DAVID VIVES)
06:12
21 Februari 2026

MA Batalkan Sebagian Besar Tarif Trump, Wall Street Langsung Melaju

- Saham-saham di Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Jumat (20/2/2026) waktu setempat (Sabtu pagi WIB), setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan menolak kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Putusan MA tersebut berpotensi memberi kelegaan bagi perusahaan yang terbebani biaya lebih tinggi akibat bea masuk serta meredakan kekhawatiran atas inflasi yang masih membandel di ekonomi AS.

Indeks S&P 500 ditutup naik 0,69 persen pada level 6.909,51, sementara Nasdaq Composite menguat 0,9 persen ke 22.886,07.

Dow Jones Industrial Average bertambah 230,81 poin atau 0,47 persen berakhir di posisi 49.625,97. Indeks 30 saham itu sempat turun 200 poin di awal sesi menyusul data ekonomi yang mengecewakan, sebelum akhirnya berbalik naik.

Baca juga: Mahkamah Agung AS Batalkan Sebagian Besar Tarif Trump

Mahkamah Agung membatalkan sebagian besar kebijakan tarif luas Trump berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA), dengan mayoritas hakim menyatakan undang-undang tersebut “tidak memberi kewenangan kepada Presiden untuk memberlakukan tarif.” Sebagai respons, Trump mengumumkan akan memberlakukan “tarif global” baru sebesar 10 persen.

“Sekarang saya akan mengambil arah berbeda, mungkin arah yang seharusnya saya ambil sejak awal,” kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih setelah putusan pengadilan tinggi.

“Saya akan mengambil jalur yang sebenarnya bisa saya tempuh sejak awal, yang bahkan lebih kuat daripada pilihan awal kami,” tambah dia.

Saham anggota “Magnificent Seven”, Amazon, melonjak lebih dari 2 persen setelah putusan tersebut. Menurut Wedbush Securities, hingga 70 persen barang yang dijual Amazon bersumber dari China, dan perusahaan itu telah mulai merasakan dampak tarif terhadap harga sejumlah produk. Saham lain yang diperkirakan diuntungkan oleh putusan ini juga menguat, seperti Home Depot dan Five Below.

“Dalam kasus Amazon secara khusus, banyak barang mereka diimpor dari China, sehingga tarif akan membuat harga di Amazon naik bagi konsumen, dan ketika harga naik, orang membeli lebih sedikit barang tersebut,” ujar Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management.

“Tidak lagi menghadapi masalah itu menjadi sumber antusiasme, menurut saya,” lanjut dia.

Meski putusan Mahkamah Agung terhadap kebijakan Trump sebagian besar sudah diperkirakan oleh Wall Street, masih ada sejumlah pertanyaan, termasuk apakah tarif yang telah dibayarkan dengan tarif lebih tinggi harus dikembalikan. Putusan Mahkamah Agung tidak menyinggung hal tersebut.

“Sekarang pengadilan tingkat bawah harus menentukan apa yang akan terjadi pada pihak yang telah membayar tarif dan apakah pemerintah harus membayar pengembalian dana besar,” kata analis riset senior sekaligus ahli strategi alokasi aset FBB Capital Partners, Michael Brenner.

“Jika itu terjadi, secara efektif itu bisa menjadi bentuk stimulus ekonomi,” tambahnya.

Sebelumnya pada hari yang sama, pelaku pasar menerima gambaran suram mengenai pertumbuhan ekonomi AS. Produk domestik bruto (PDB) meningkat 1,4 persen pada kuartal keempat, jauh di bawah perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 2,5 persen. Sebaliknya, pertumbuhan 4,4 persen pada kuartal ketiga jauh melampaui ekspektasi.

Menurut Departemen Perdagangan, penutupan pemerintahan federal yang memecahkan rekor menjadi penyebab utama perlambatan tersebut. Penghentian operasional yang berlangsung sepanjang paruh pertama kuartal keempat itu diperkirakan memangkas sekitar 1 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi.

Selain data PDB, laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE)—indikator inflasi pilihan Federal Reserve—menunjukkan inflasi tetap stabil pada Desember. Tidak termasuk harga pangan dan energi yang bergejolak, inflasi inti PCE tercatat 3 persen, sesuai ekspektasi tetapi masih jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.

Dengan penguatan pada Jumat, Dow mencatat kenaikan 0,3 persen sepanjang pekan. S&P 500 naik 1,1 persen, sementara Nasdaq yang didominasi saham teknologi memutus tren penurunan lima pekan beruntun dengan kenaikan 1,5 persen.

Trump selama ini memuji tarif sebagai sumber besar pendapatan federal dan alat negosiasi strategis dengan mitra maupun lawan dagang. Ia bahkan mengklaim pendapatan tarif dapat menggantikan pajak penghasilan dan sempat mengusulkan cek dividen tarif sebesar 2.000 dollar AS bagi warga.

“Kami telah menerima, dan akan segera menerima, lebih dari 600 miliar dollar AS dari tarif,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

Namun, sejumlah estimasi menunjukkan angka lebih rendah. Bipartisan Policy Center memperkirakan pendapatan tarif bruto AS pada 2025 sekitar 289 miliar dollar AS. Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS melaporkan telah mengumpulkan sekitar 200 miliar dollar AS sepanjang 20 Januari hingga 15 Desember. Khusus tarif berbasis IEEPA, pemerintah menyebut telah mengumpulkan sekitar 129 miliar dollar AS hingga 10 Desember.

Menjelang putusan, Trump sempat memperingatkan konsekuensi serius jika kebijakannya dibatalkan. “Jika Mahkamah Agung memutuskan melawan Amerika Serikat dalam berkah Keamanan Nasional ini, KITA HANCUR!” tulisnya pada 12 Januari.

Namun, Mahkamah Agung akhirnya mengambil sikap berbeda, menegaskan batas kewenangan presiden dalam kebijakan tarif dan memperkuat peran Kongres dalam urusan perpajakan serta perdagangan internasional.

Baca juga: OJK Ungkap Influencer yang Terlibat Kasus “Saham Gorengan”, Begini Modusnya

Tag:  #batalkan #sebagian #besar #tarif #trump #wall #street #langsung #melaju

KOMENTAR