Penyebab Orang yang Kecanduan Judi Online Lihai Menutupi Kebiasaannya
- Banyak pasangan mengaku kaget ketika mengetahui suami atau istrinya terjerat judi online (judol). Salah satu pola yang kerap muncul adalah kebiasaan berbohong soal aktivitas dan kondisi keuangan.
Padahal dalam pernikahan, kejujuran, terutama terkait finansial, merupakan fondasi utama kepercayaan. Lalu, mengapa pelaku judol justru cenderung lihai menyembunyikan kebiasaannya?
“Namanya hal-hal yang dilarang atau tidak sesuai dengan norma, setiap orang pasti tidak ingin diketahui, atau pengin selalu bela bahwa apa yang dilakukan itu benar,” ujar Yustinus psikolog Joko Dwi Nugroho, M.Psi., saat dihubungi beberapa waktu lalu.
Hal tersebut berkaitan erat dengan mekanisme pertahanan diri dan sistem adiksi yang sudah terbentuk.
Menurut psikolog klinis di RS Dr. Oen Solo Baru ini, setiap orang pada dasarnya cenderung menutup-nutupi perilaku yang bertentangan dengan norma sosial.
Baca juga: Mengapa Banyak Pelaku Judol Pria Berkeluarga
Mekanisme pertahanan diri
Keinginan untuk tetap terlihat “baik” di hadapan pasangan membuat pelaku berusaha menyembunyikan aktivitasnya, termasuk memanipulasi informasi keuangan.
Ketika ketahuan pun mereka akan menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti penyangkalan. Selain itu, mereka juga kerap mengecilkan dampak perilakunya.
“Misalnya, ‘Cuman sedikit kok nggak apa-apa,” tutur dosen Fakultas Psikologi di Universitas Setia Budi Surakarta ini.
Dengan cara ini, pelaku berusaha meyakinkan diri sendiri sekaligus pasangan bahwa situasinya tidak serius, padahal perilaku adiktif sudah berjalan.
Baca juga: 4 Pembeking Situs Judol agar Tak Diblokir Kominfo Ajukan Kasasi ke MA
Bukan tidak sayang, tapi terlalu kecanduan
Yang sering disalahpahami dari kebiasaan membohongi pasangan perihal keuangan keluarga adalah karena sudah tidak menyayangi suami atau istrinya.
Kendati demikian, Joko menerangkan bahwa kebohongan bukan semata-mata karena hal itu, melainkan karena efek kecanduan.
“Ironisnya bukan karena mereka enggak sayang sama pasangan ya, tapi karena sistem adiksinya itu sudah lebih kuat daripada rasa bersalahnya,” tutur dia.
Meskipun secara emosional masih memiliki rasa sayang, kontrol diri sudah melemah akibat kecanduan judol.
“Kalau ditanya ya mereka sayang, tapi mereka tidak bisa mengontrol diri mereka terhadap sistem adiksi yang sudah menguasai dirinya,” tambah Joko.
Dalam kondisi adiksi, dorongan untuk berjudi bekerja laiaknya kebutuhan mendesak. Otak lebih fokus pada sensasi dan harapan kemenangan, sedangkan konsekuensi, termasuk risiko merusak hubungan, menjadi nomor dua.
Baca juga: 4 Tanda Hubungan Harus Diakhiri Akibat Judi Online
Apakah harus langsung berpisah?
Menurut Joko, faktor paling krusial yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk bercerai adalah ada atau tidaknya kesadaran diri dan komitmen untuk berubah dari pasangan yang terlibat judol.
“Kalau ada insight atau komitmen untuk berubah, atau dia walaupun mungkin masih dalam proses. Nah, kita bisa mendorong, kemudian memberikan kesempatan kedua,” tutur dia.
Kesempatan kedua bukan berarti tanpa syarat. Harus ada batasan tegas, misalnya transparansi keuangan, pendampingan psikologis, atau kesediaan mengikuti rehabilitasi jika diperlukan.
Judul termasuk perilaku adiktif. Oleh karena itu, komitmen untuk berubah menjadi faktor penentu apakah pernikahan berujung pada perceraian atau tidak.
Baca juga: Pasangan Ketahuan Judi Online, Memaafkan atau Tinggalkan?
“Kalau dia berjanji tapi masih berulang-ulang terus, bahkan manipulatif, dan akhirnya berakibat merusak finansial keluarga, tidak ada transparansi,” tutur Joko.
Pola repetitif tanpa perubahan menunjukkan rendahnya kesiapan untuk pulih. Terlebih jika sudah disarankan rehabilitasi tetapi ditolak.
Selain itu, perceraian patut dipertimbangkan jika dampaknya sudah cukup merusak kondisi finansial keluarga, serta kesehatan mental anak.
Misalnya karena judol sudah membuat kondisi finansial semakin memburuk lantaran utang terus bertambah, bahkan sampai menggadaikan aset keluarga tanpa izin.
Indikasi lain adalah ketika ada reaksi defensif yang berujung agresi saat ditegur, bahkan sampai terjadi kekerasan, baik emosional, verbal, atau bahkan fisik, serta kebutuhan dasar anak seperti makan dan pendidikan sudah tidak bisa terpenuhi.
Baca juga: Bertahan dengan Pasangan Pecandu Judol, Ini Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Tag: #penyebab #orang #yang #kecanduan #judi #online #lihai #menutupi #kebiasaannya