Pungutan Ekspor Sawit Capai Rp 3 Triliun Per Bulan, Untuk Biayai UKMK hingga Peremajaan
- Pungutan ekspor produk sawit yang rata-rata mencapai hingga Rp 3 triliun per bulan menjadi amunisi utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) untuk membiayai berbagai program strategis, mulai dari peremajaan sawit rakyat (PSR) hingga pengembangan usaha kecil, mikro, dan koperasi (UKMK).
Dana yang dihimpun Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit itu disebut seluruhnya dikembalikan untuk mendukung keberlanjutan dan citra positif industri sawit nasional.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menyebut pungutan ekspor tersebut bukan sekadar instrumen fiskal, melainkan sumber pembiayaan utama program-program sawit yang berdampak langsung ke masyarakat.
Baca juga: POPSI Wanti-wanti B50: Pungutan Ekspor Naik, Petani Sawit Terancam
Hal itu disampaikan dalam Workshop Media Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2026 bertajuk “Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK” yang digelar Majalah Hortus di Depok, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, dana yang dikumpulkan dari eksportir sawit itu dialokasikan untuk program Peremajaan Sawit Rakyat, beasiswa pendidikan, riset, hingga pengembangan UKMK berbasis sawit. Dengan rata-rata penerimaan Rp 2 triliun-Rp 3 triliun per bulan.
“Dana itu dipungut dari ekspor, namun seluruhnya dikembalikan untuk program terkait sawit, seperti PSR (Peremajaan Sawit Rakyat), beasiswa, riset, serta pengembangan UKM atau UKMK,” ujar Helmi lewat keterangan pers, Jumat (20/2/2026).
Ia menambahkan, penguatan UKMK menjadi salah satu strategi penting untuk menjawab kampanye negatif terhadap industri sawit, mulai dari isu lingkungan seperti banjir dan hilangnya habitat orangutan hingga tudingan eksploitasi pekerja anak.
“Kami punya tanggung jawab bagaimana membangun narasi yang positif terhadap sawit. Salah satunya melalui penguatan UKM atau UKMK,” paparnya.
Helmi mengeklaim intensitas kampanye positif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Jika pada 2018 pencarian UKMK sawit masih terbatas, kini jumlah pelaku dan produk turunan sawit semakin banyak dan mudah ditemukan. Kegiatan promosi dan workshop bahkan digelar hampir setiap bulan.
“Kalau 2018 mungkin kalau kita klik UKMK sawit itu gak ada mungkin ya. Tapi kalau sekarang, kalau bapak/ibu klik cari UKMK sawit di Google itu sudah sangat banyak sekali karena kita hampir setiap bulan bahkan setiap minggu ada kegiatan-kegiatan kita untuk mengkampanyekan kebaikan-kebaikan sawit ini,” beber Helmi.
BPDP juga menggandeng kalangan kampus untuk menumbuhkan wirausaha muda berbasis sawit, salah satunya bekerja sama dengan Universitas Andalas.
Dari program tersebut, muncul kisah mahasiswa asal Pasaman Barat yang mengikuti pelatihan pada masa pandemi 2020-2021 dan pada 2025 berhasil menjadi eksportir lidi sawit.
Ia menggandeng kelompok ibu-ibu sebagai pemasok bahan baku.
Di sisi lain, dukungan juga diberikan melalui fasilitasi pameran nasional seperti Inacraft. Tiga UKMK binaan BPDP dari Aceh, Malang, dan Yogyakarta memperoleh fasilitas booth gratis, termasuk akomodasi dan transportasi. Padahal, biaya partisipasi pameran tersebut bisa mencapai Rp 19 juta hingga Rp 24 juta per booth.
“Biasanya kalau gak dibawa bayar sendiri Rp 19 sampai Rp 23 juta. Kalau dia menjadi anggotanya Inacraft Rp 19 juta, kalau gak menjadi anggota Rp 24 juta untuk mendapatkan booth. Nah itu kemarin kita fasilitasi,” katanya.
Salah satu contoh datang dari Kulon Progo, Yogyakarta, di mana sekitar 60-70 ibu-ibu mengembangkan batik dan lilin berbahan malam sawit dengan pendampingan alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dari omzet awal ratusan juta rupiah, kini usaha tersebut telah menembus miliaran rupiah.
Dalam pameran Inacraft terbaru, transaksi mereka mencapai Rp 55 juta hanya dalam dua hingga tiga hari.
“Sekarang sudah miliaran setelah kemudian mengembangkan batiknya dari sawit. Termasuk kemarin ikut kita bawa di pameran, itu transaksinya Rp 55 juta selama dua hari atau tiga hari. Itu termasuk yang sangat laku di pameran Inacraft,” ucap dia.
Baca juga: Tekstil hingga Sawit, Produk RI Dapat Tarif 0 Persen dari AS
Tag: #pungutan #ekspor #sawit #capai #triliun #bulan #untuk #biayai #ukmk #hingga #peremajaan