3 Penyebab Munculnya Relationship Anxiety Meski Hubungan Stabil
- Hubunganmu stabil, tidak ada pertengkaran besar, komunikasi berjalan, dan pasangan terlihat konsisten.
Namun entah mengapa, pikiranmu justru dipenuhi kecemasan, takut ditinggalkan, khawatir pasangan berubah, atau terus mencari tanda bahwa hubungan ini akan berakhir.
Kondisi ini dikenal sebagai relationship anxiety, yaitu kecemasan dalam hubungan yang muncul bahkan ketika secara objektif semuanya tampak baik-baik saja.
Menurut para terapis, kecemasan ini bukan tanda kamu terlalu drama atau tidak bersyukur, melainkan cara otak melindungi diri dari kemungkinan terluka.
“Ironisnya, semakin seseorang berusaha ‘mengamankan’ hubungannya dengan kewaspadaan berlebihan, semakin besar stres dan miskomunikasi yang tercipta,” ujar Melina Alden, terapis berbasis di Santa Monica, disadur SELF Magazine, Jumat (20/2/2026).
Baca juga: 5 Bahasa Cinta, Mana yang Paling Penting dalam Hubungan?
Lalu, apa yang sebenarnya membuat kecemasan ini muncul?
3 Penyebab munculnya relationship anxiety
1. Luka hubungan di masa lalu yang belum pulih
Salah satu pemicu paling umum dari relationship anxiety adalah pengalaman hubungan sebelumnya yang menyakitkan.
Pernah diselingkuhi, di-ghosting, atau ditinggalkan secara tiba-tiba saat merasa semuanya baik-baik saja, dapat meninggalkan bekas psikologis yang dalam. Menurut Alden, otak akan belajar dari pengalaman tersebut.
“Otakmu bisa terbiasa untuk mengantisipasi bahaya atau penolakan, sehingga situasi netral sekalipun memicu kecemasan dalam hubungan,” jelasnya.
Akibatnya, dalam hubungan baru yang sehat, kamu tetap merasa waspada. Pesan yang dibalas lebih lama dari biasanya bisa terasa mengancam.
Baca juga: Jangan Ancam Putus Saat Bertengkar, Ini Dampak Buruknya bagi Hubungan
Perubahan kecil dalam nada bicara pasangan dapat langsung ditafsirkan sebagai tanda ketertarikan yang memudar. Bukan karena pasanganmu bermasalah, melainkan karena sistem sarafmu masih bekerja berdasarkan pengalaman lama.
Dalam konteks ini, kecemasan bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa tubuhmu belum sepenuhnya merasa aman untuk percaya kembali.
Baju lebaran couple elegan
2. Kebiasaan berpikir terburuk dalam segala hal (Catastrophizing)
Bagi sebagian orang, relationship anxiety hanyalah satu bagian dari pola kecemasan yang lebih luas.
Jika kamu terbiasa mengkhawatirkan segalanya, mulai dari kesalahan kecil di pekerjaan hingga komentar sepele, hubungan asmara pun tidak luput dari pola pikir tersebut.
Alden menjelaskan, orang dengan kecenderungan catastrophizing sering melompat dari ketidakpastian kecil ke kesimpulan besar.
“Pikiran mereka bisa berpindah dari ‘Dia belum membalas chat’ menjadi ‘Dia pasti mulai kehilangan perasaan’ dalam waktu singkat,” ujarnya.
Baca juga: Bucin dan Posesif, Apa Bedanya? Ini Penjelasan Psikolog
Mencari kepastian memang bisa memberi rasa lega sesaat. Namun jika akar kecemasannya tidak disadari, pola ini akan terus berulang.
Sayangnya, kecemasan yang tidak disadari justru dapat menciptakan ketegangan baru dalam hubungan yang awalnya stabil.
3. Takut merasa terlalu aman dan terluka lagi
Meskipun terdengar paradoks, rasa aman dalam hubungan justru bisa memicu kecemasan bagi sebagian orang. Ketika segalanya berjalan lancar, muncul ketakutan tersembunyi, bagaimana kalau ini semua tiba-tiba hilang?
“Kerentanan bisa memicu ketakutan mendasar seperti, ‘Jika aku membiarkan diriku merasa aman, aku akan terluka,’” kata Alden.
Ketakutan ini membuat sebagian orang secara tidak sadar tetap berada dalam mode siaga, seolah dengan terus cemas, mereka bisa mengurangi rasa sakit di masa depan.
Baca juga: Bisakah Hubungan Diperbaiki Setelah Terjadi Perselingkuhan? Ini Kata Ahli
Padahal, kecemasan semacam ini sering kali menciptakan masalah yang sebelumnya tidak ada, mulai dari rasa curiga berlebihan hingga kebutuhan akan validasi yang tak pernah terasa cukup.
Alih-alih melindungi diri, kamu justru kehilangan kesempatan untuk menikmati hubungan yang sehat apa adanya.
Bagaimana mengelola relationship anxiety?
Untuk mencegah satu pikiran cemas berkembang menjadi krisis hubungan, Alden menyarankan melakukan reality check.
Tanyakan pada diri sendiri, apakah ada bukti nyata bahwa sesuatu benar-benar salah? atau apakah ini pola yang berulang, atau hanya kejadian satu kali?
Mengalihkan fokus pada pengalaman positif bersama juga penting. Menghabiskan waktu berkualitas, melakukan aktivitas sederhana bersama, atau sekadar menikmati momen tanpa analisis berlebihan dapat membantu sistem sarafmu merasa lebih aman.
Hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa kecemasan sama sekali, melainkan hubungan di mana kamu belajar membedakan antara sinyal nyata dan ketakutan yang dibentuk oleh masa lalu.
Baca juga: Waspadai 6 Kebiasaan Kecil yang Bisa Memicu Kecemasan, Apa Saja?
Tag: #penyebab #munculnya #relationship #anxiety #meski #hubungan #stabil