Mengapa Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Bikin Obsesi?
- Menyukai seseorang yang tidak menunjukkan ketertarikan yang sama sering kali terasa menyakitkan dan membingungkan.
Secara logis, kebanyakan orang tentu menginginkan pasangan yang hadir, responsif, dan menghargai perasaan.
Namun dalam praktiknya, justru ketidakhadiran, balasan pesan yang lama, atau sikap yang ambigu sering membuat perasaan semakin kuat.
Fenomena ini bukan sekadar soal selera yang buruk atau kecenderungan menyabotase diri sendiri. Menurut para terapis, ada mekanisme psikologis yang membuat otak manusia justru tertarik pada ketidakpastian.
Berikut penjelasan psikologis mengapa kamu bisa terjebak terobsesi pada cinta bertepuk sebelah tangan:
Baca juga: 15 Tanda Seseorang Naksir Kamu Secara Diam-diam
Mengapa kamu terus mengejar orang yang tak menyukaimu balik?
1. Pola kelekatan cemas (Anxious Attachment)
Salah satu penyebab paling umum adalah gaya kelekatan cemas. Psikoterapis Angela Sitka, LMFT menjelaskan, orang dengan pola ini sangat sensitif terhadap tanda-tanda penolakan, sekecil apa pun.
Jika seseorang anak tumbuh dengan orangtua yang cenderung jauh secara emosional, otaknya belajar bahwa cinta tidak selalu aman atau bisa diandalkan. Pola ini terbawa hingga dewasa dan muncul dalam hubungan romantis.
“Kecemasan dan ketidakpastian bisa memperkuat ketertarikan dan terasa seperti ‘percikan cinta’,” ujar Sitka, dikutip SELF Magazine, Jumat (19/2/2026).
Ia menambahkan, untuk meredakan kecemasan tersebut, seseorang justru terdorong mengejar orang yang menjauh.
Ketegangan emosional ini sering disalahartikan sebagai chemistry, padahal sebenarnya otak sedang merespons stres.
Baca juga: Berapa Lama Waktu yang Ideal untuk Move On Setelah Putus?
Ilustrasi
2. Ketakutan pada kedekatan emosional
Bagi sebagian orang, tertarik pada sosok yang tidak tersedia secara emosional justru berkaitan dengan ketakutan akan komitmen.
Terapis berlisensi Morgan Hancock, LMFT menjelaskan, kedekatan emosional dapat terasa mengancam.
“Saat seseorang menjaga jarak, itu bisa terasa melegakan karena kita kembali memegang kendali dan tidak perlu terlalu terbuka,” kata Hancock.
Ketika tekanan untuk berkomitmen berkurang, hubungan justru terasa lebih aman dan menarik, meski secara emosional tidak memuaskan.
Baca juga: Psikolog Sebut Empati Itu Penting, Tapi Jangan Sampai Bikin Lelah Emosional
3. Daya tarik sesuatu yang sulit diraih
Secara psikologis, manusia cenderung menilai sesuatu lebih berharga ketika terasa langka atau sulit diperoleh. Prinsip ini juga berlaku dalam hubungan romantis.
Sitka menjelaskan, obsesi pada cinta bertepuk sebelah tangan sering disertai dorongan untuk membuktikan diri.
“Ada sensasi berjuang demi perhatian mereka, seolah-olah jika akhirnya diperhatikan, itu berarti kita istimewa atau berhasil menang,” ujarnya.
Akibatnya, perhatian kecil yang seharusnya biasa saja justru terasa sangat bermakna.
Baca juga: 5 Alasan Kamu Tak Perlu Menghubungi Lagi Setelah Di-Ghosting
4. Terjebak pada fantasi, bukan realitas
Alasan lain adalah symbolic idealization, yaitu ketika seseorang mewakili gambaran ideal dalam pikiran kita, bukan berdasarkan perilaku nyata mereka.
Mungkin orang tersebut terlihat sempurna di atas kertas, seperti karier mapan, latar keluarga baik, atau nilai hidup yang tampak sejalan.
“Dalam kondisi ini, kita lebih merespons versi ideal yang kita bayangkan, bukan siapa mereka sebenarnya saat ini,” kata Sitka.
Fantasi ini membuat kita sulit menilai apakah hubungan tersebut benar-benar sehat.
5. Efek penguatan tidak teratur (Intermittent Reinforcement)
Ketika seseorang menunjukkan perhatian secara tidak konsisten, hangat lalu menghilang, otak merespons dengan lebih kuat. Pola ini dikenal dalam psikologi sebagai intermittent reinforcement.
“Karena tidak bisa diprediksi, perhatian kecil terasa jauh lebih istimewa,” jelas Sitka.
Setelah hari-hari tanpa kabar, satu pesan manis bisa membuat seseorang kembali berharap dan mengejar, meski pola ketidakpastian terus berulang.
Baca juga: 6 Dampak Ghosting bagi Kesehatan Mental, dari Stres hingga Trauma
Mengapa pola ini perlu disadari?
Para ahli menekankan, kuatnya perasaan bukan indikator utama hubungan yang sehat. Konsistensi, kejelasan, dan timbal balik justru lebih penting untuk koneksi jangka panjang.
Sitka menyarankan refleksi diri dengan pertanyaan sederhana, yaitu apa yang kamu rasakan di tubuhmu saat mereka tidak membalas pesan? Cemas, sedih, atau panik?
Jika kamu berhenti berinisiatif, apakah mereka akan berusaha mendekat atau justru menghilang?
Menyadari pola ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan sebagai langkah awal membangun hubungan yang lebih aman secara emosional.
Ketertarikan pada orang yang tidak membalas perasaan adalah pengalaman manusiawi, tetapi memahami akar psikologisnya dapat membantumu memilih hubungan yang lebih sehat dan saling menghargai.
Baca juga: Mengenal Hopeless Romantic: Arti, Ciri-Ciri, dan Dampaknya dalam Hubungan
Tag: #mengapa #cinta #bertepuk #sebelah #tangan #bikin #obsesi