Pasar Bergejolak Imbas Isu MSCI, Moody’s, dan FTSE, Investor Ritel Harus Ambil Sikap Apa?
- Isu yang melibatkan Morgan Stanley Capital International (MSCI), perubahan outlook Moody’s, hingga sorotan FTSE Russell memberi sentimen terhadap pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun berpotensi bergerak mixed dengan volatilitas yang tinggi.
Di tengah sentimen global tersebut, muncul pertanyaan mengenai sikap yang perlu diambil investor ritel.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai tekanan global kerap memicu reaksi berlebihan di pasar, terutama dari investor ritel. Padahal, kepanikan justru menjadi kesalahan paling mahal dalam berinvestasi.
Saat potensi pergerakan IHSG cenderung mixed dan sarat volatilitas, reaksi emosional berupa kepanikan menjadi risiko terbesar bagi investor. Kondisi pasar yang tidak bergerak satu arah kerap memicu keputusan tergesa-gesa, meskipun tekanan jangka pendek belum tentu mencerminkan perubahan fundamental.
Baca juga: IHSG Dibuka di Zona Hijau, Naik 40,07 Poin ke Level 8.071
Dalam situasi seperti ini, sikap yang paling rasional bukan sekadar menunggu tanpa strategi, melainkan bersikap selektif dan taktis dengan tetap mencermati peluang yang muncul. Investor dituntut aktif membaca momentum, memilih saham secara hati-hati, serta mengatur waktu masuk pasar secara terukur agar tetap memiliki kendali di tengah dinamika pasar yang cepat berubah.
“Di tengah potensi IHSG yang bergerak mixed dengan kecenderungan volatil, kepanikan adalah musuh utama. Sikap yang paling bijak adalah selektif-taktis, bukan sekadar wait and see yang pasif,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Selasa (10/2/2026).
Ia menilai, investor ritel perlu memperbesar porsi kas dalam portofolionya. Kepemilikan kas yang memadai memberi fleksibilitas untuk tidak terburu-buru masuk pasar, sekaligus membuka peluang melakukan pembelian ketika harga saham turun ke level yang lebih menarik.
Momentum koreksi dapat dimanfaatkan untuk melakukan bottom fishing atau akumulasi saham di harga diskon saat pasar mendekati area support yang kuat, tanpa harus mengorbankan stabilitas portofolio.
“Investor ritel disarankan untuk meningkatkan rasio kas (hold cash). Memiliki kas yang cukup memberikan fleksibilitas untuk melakukan bottom fishing atau membeli saham di harga diskon saat pasar mencapai level support kuatnya,” paparnya.
Bagi investor jangka panjang, fluktuasi pasar justru dapat dimaknai sebagai peluang, bukan ancaman. Pergerakan harga yang bergejolak sering kali membuat saham-saham berkualitas ikut terkoreksi meskipun kinerja dan prospek bisnisnya tetap solid.
Kondisi tersebut membuka ruang untuk mengakumulasi saham berfundamental kokoh, khususnya emiten yang memiliki moat bisnis kuat namun saat ini diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya atau undervalued.
“Bagi investor jangka panjang, fluktuasi ini adalah kesempatan untuk memburu saham-saham dengan fundamental kokoh, terutama yang memiliki moat bisnis yang kuat namun saat ini diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya (undervalued),” beber Azharys.
Meski demikian, strategi masuk pasar perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan averaging down pada level teknikal penting agar risiko dapat dikelola dengan lebih baik. Di saat yang sama, penggunaan leverage atau transaksi margin sebaiknya dihindari karena dapat memperbesar tekanan dan risiko kerugian di tengah dinamika pasar yang masih bergerak cepat dan penuh ketidakpastian.
“Gunakan strategi entry secara bertahap (averaging down) pada level-level teknikal kunci dan hindari penggunaan leverage (margin) yang tinggi di tengah kondisi pasar yang dinamis seperti saat ini,” lanjutnya.
Baca juga: FTSE Russell Tunda Review Indeks Indonesia, Ini Respon Bos BEI
Untuk diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan kembali bernegosiasi dengan MSCI pada Rabu (11/2/2026) untuk membahas sejumlah usulan perubahan kebijakan pasar modal Indonesia. Pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dialog antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO) yang digelar pada 2 dan 5 Februari 2026, menyusul penyampaian proposal resmi kepada MSCI.
Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyebut terdapat tiga pokok usulan yang akan dibahas secara mendalam. Pertama, granularisasi kategori investor agar lebih detail dan mencerminkan struktur kepemilikan pasar yang sebenarnya. Saat ini terdapat sembilan kategori dalam struktur Single Investor Identification (SID) di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), yang akan diperluas menjadi 28 subkategori.
Kedua, perluasan keterbukaan informasi kepemilikan saham dari sebelumnya hanya di atas 5 persen menjadi di atas 1 persen. Ketiga, peningkatan ketentuan minimum free float emiten dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
IHSG sendiri terkoreksi tajam sepanjang sepekan terakhir. Hingga penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), IHSG turun 4,73 persen ke level 7.935, dengan arus dana asing di pasar reguler mencatat outflow Rp 1,2 triliun.
Tekanan utama datang dari sentimen MSCI yang masih menyoroti isu transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Lembaga tersebut memberi sinyal risiko penurunan status Indonesia ke kategori frontier market apabila sejumlah persyaratan tidak terpenuhi, sehingga memicu sikap hati-hati investor asing.
Di sisi lain, FTSE Russell menunda peninjauan indeks Indonesia periode Maret 2026 di tengah proses reformasi pasar modal yang sedang berlangsung. Penundaan dilakukan setelah menerima masukan dari Komite Penasihat Eksternal serta mencermati reformasi yang diumumkan OJK dan BEI sejak akhir Januari 2026.
FTSE Russell menangguhkan sementara implementasi penambahan dan penghapusan saham Indonesia dalam indeks globalnya, termasuk perubahan klasifikasi saham kapitalisasi besar, menengah, dan kecil, hingga penyesuaian bobot investability dan jumlah saham beredar. Namun demikian, penghapusan konstituen akibat merger, akuisisi, suspensi, kebangkrutan, atau delisting tetap dilakukan, begitu pula distribusi dividen.
Baca juga: IHSG Ditutup Menguat 1,22 Persen ke 8.031, Mayoritas Saham Naik
Meski demikian, pengelola pasar modal memastikan kebijakan tersebut tidak mengubah komitmen regulator dan pelaku pasar untuk melanjutkan reformasi sesuai rencana.
“Dalam pertemuan kami dengan FTSE kemarin dapat kami sampaikan bahwa FTSE memberikan support atas rencana aksi yang sedang dilakukan oleh BEI bersama dengan OJK dan SRO,” katanya.
Menurutnya, FTSE Russell lebih menekankan pada aspek implementasi agar berjalan sesuai timeline yang telah disampaikan. “Kami tentu mengapresiasi dukungan dari FTSE. Kita juga dapat memahami bahwa FTSE juga tidak menyampaikan concern terkait country classification,” ucapnya.
Sementara itu, revisi outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif dinilai tidak serta-merta berdampak buruk bagi pasar modal domestik. Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2.
“Terkait dengan outlook, kami tentu secara mikro di pasar melihat bahwa sejauh ini fundamental perusahaan-perusahaan tercatat kita masih kuat,” ungkap Jeffrey.
BEI pun kembali mengingatkan investor agar tetap rasional dalam menyikapi dinamika pasar dengan menjadikan analisis fundamental sebagai dasar utama pengambilan keputusan investasi.
“Jadi seperti yang selalu kami sampaikan kepada para investor untuk selalu secara rasional memperhatikan fundamental perusahaan dan selalu menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Mungkin itu respons kami,” tuturnya.
Tag: #pasar #bergejolak #imbas #msci #moodys #ftse #investor #ritel #harus #ambil #sikap