Literasi Keuangan Pelajar Masih Rendah, Pendekatan Keluarga dan Sekolah Kian Penting
–Literasi keuangan di kalangan pelajar Indonesia masih menjadi tantangan serius di tengah pesatnya perkembangan layanan keuangan digital. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa baru mencapai 56,42 persen.
Angka ini mencerminkan masih terbatasnya pemahaman generasi muda dalam mengelola keuangan secara bijak. Mereka semakin akrab dengan dompet digital, transaksi non-tunai, hingga berbagai pilihan finansial berbasis aplikasi.
Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk mencari pendekatan edukasi keuangan yang tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari anak. Salah satu pendekatan yang mulai dikembangkan adalah model pembelajaran berbasis ekosistem, yang melibatkan sekolah, keluarga, dan pelaku jasa keuangan secara terintegrasi.
Pendekatan ini diterapkan dalam program edukasi literasi keuangan JA SparktheDream yang memasuki tahun pelaksanaan keempat. Program tersebut menargetkan lebih dari 2.300 siswa sekolah menengah pertama di sejumlah wilayah, antara lain Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Cimahi, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, dan Denpasar.
Kegiatan edukasi direncanakan berlangsung hingga November 2026. Berbeda dari metode konvensional, pembelajaran dalam program ini tidak hanya disampaikan melalui sesi tatap muka di kelas.
Materi juga diperkaya dengan platform pembelajaran daring serta aktivitas berbasis rumah yang melibatkan peran orang tua. Melalui pendekatan tersebut, siswa didorong untuk mempraktikkan langsung pengetahuan keuangan yang diperoleh, seperti mencatat pengeluaran sederhana, berdiskusi mengenai prioritas kebutuhan, hingga memahami proses pengambilan keputusan finansial sehari-hari.
Aktivitas rumah dinilai menjadi elemen penting agar literasi keuangan tidak berhenti pada tataran teori. Dengan pendampingan orang tua, anak-anak diharapkan mampu membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan keuangan yang mereka ambil.
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy F. Manik menjelaskan, anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Paparan terhadap berbagai produk dan layanan keuangan terjadi sejak usia dini, seiring masifnya penggunaan gawai dan internet.
”Di era digital, anak-anak semakin cepat terpapar pada berbagai pilihan finansial beserta risiko yang menyertainya. Karena itu, pembelajaran keuangan perlu dibuat relevan dengan realitas mereka, sekaligus melibatkan keluarga dan sekolah sebagai satu kesatuan ekosistem,” ujar Rudy F. Manik di Jakarta, Senin (9/2).
Sejak pertama kali dijalankan pada 2023, program ini telah menjangkau hampir 6.000 siswa. Penguatan peran sekolah juga menjadi perhatian utama, terutama melalui pelibatan guru dalam proses pembelajaran.
Guru tidak hanya berperan sebagai pendamping di kelas, tetapi juga dibekali metode dan materi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia Utami Anita Herawati menilai keterlibatan guru menjadi investasi jangka panjang dalam penguatan literasi keuangan di sekolah. Pendekatan ini memungkinkan materi keuangan diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran secara kontekstual dan berkesinambungan.
”Melalui program ini, guru memperoleh metodologi dan pendekatan yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan sekolah. Kehadiran fasilitator dan sukarelawan dari dunia kerja juga memberi perspektif nyata, sehingga siswa dapat melihat keterkaitan antara teori dan praktik di kehidupan sehari-hari,” kata Utami.
Dalam kesempatan tersebut, perencana keuangan bersertifikat Dewi R.D. Amelia menekankan bahwa pengelolaan keuangan tidak ditentukan besar kecilnya penghasilan. Melainkan kebiasaan dan keputusan yang diambil sehari-hari. Literasi keuangan perlu diajarkan secara praktis agar mudah dipahami dan diterapkan anak maupun keluarga.
”Pengelolaan keuangan dimulai dari hal sederhana, seperti memahami ke mana uang digunakan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyiapkan perlindungan keuangan. Keputusan-keputusan kecil yang diambil sejak dini akan sangat memengaruhi rasa aman dan ketenangan di masa depan,” ucap Dewi.
Di tengah kompleksitas ekosistem keuangan digital saat ini, para pemangku kepentingan menilai bahwa kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci dalam membekali anak dengan kemampuan finansial yang memadai.
Edukasi keuangan yang hidup di ruang kelas sekaligus dipraktikkan di rumah diharapkan dapat membentuk generasi muda yang lebih kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan mereka.
Upaya semacam ini dipandang sebagai langkah awal untuk menjawab tantangan rendahnya literasi keuangan nasional, sekaligus mempersiapkan generasi muda menghadapi dinamika ekonomi dan keuangan di masa depan.
Tag: #literasi #keuangan #pelajar #masih #rendah #pendekatan #keluarga #sekolah #kian #penting