Menko Airlangga Ungkap 3 Mesin Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Korbankan Stabilitas
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (29/1/2026).(KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU)
13:36
7 Februari 2026

Menko Airlangga Ungkap 3 Mesin Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Korbankan Stabilitas

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan pendekatan tiga mesin pertumbuhan ekonomi (three engines of growth).

Ini sebagai bagian dari strategi menjaga akselerasi pertumbuhan sekaligus stabilitas makroekonomi di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Airlangga menegaskan, konsep ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengatur akselerasi tanpa mengorbankan stabilitas, berbeda dengan pendekatan “gas dan rem” yang digunakan pada masa pandemi Covid-19.

Baca juga: Dukung Pertumbuhan Ekonomi RI, BCA Expoversary 2026 Tebar Promo Properti hingga Otomotif

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

“Sekarang kita bicara tiga mesin pertumbuhan ekonomi, dan pendekatan itu tetap sama, bagaimana mengatur akselerasi tanpa mengorbankan stabilitas,” ujarnya dalam keterangan resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Sabtu (7/2/2026).

Tren fundamental ekonomi Indonesia

Airlangga menjelaskan, kinerja ekonomi Indonesia hingga akhir 2025 menunjukkan tren yang solid.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tercatat sebagai yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 5 persen.

Stabilitas makro juga tercermin dari inflasi yang terjaga di level 3,55 persen secara tahunan (yoy), neraca perdagangan terus mencatat surplus, serta cadangan devisa yang berada sekitar 156 miliar dollar AS.

Baca juga: Menkeu Purbaya Tetap Genjot Pertumbuhan Ekonomi Meski Outlook Moody’s Negatif

Mesin pertumbuhan pertama: penguatan industri

Ilustrasi industri tekstil. SHUTTERSTOCK/AIPCREATIVE Ilustrasi industri tekstil.

Mesin pertama diarahkan pada penguatan sektor industri, khususnya industri manufaktur dan padat karya seperti tekstil, alas kaki, furnitur, serta industri otomotif, termasuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Airlangga menyatakan, industri tekstil tetap relevan dan berkelanjutan karena kebutuhan global yang meningkat sekaligus menyerap jutaan tenaga kerja domestik.

Mesin pertumbuhan kedua: teknologi dan inovasi

Mesin kedua fokus pada pembangunan ekonomi berbasis teknologi dan inovasi melalui digitalisasi, kecerdasan buatan, bioteknologi, dan semikonduktor.

Pemerintah menekankan pentingnya investasi riset dan pengembangan (R&D) serta penguatan rantai nilai industri.

Baca juga: Indef: Pertumbuhan Ekonomi Belum Optimal Serap Tenaga Kerja

Airlangga mengatakan, konsep S-Curve menjadi pelajaran penting terkait investasi R&D, dan mengajak agar basis ekonomi Indonesia lebih banyak berorientasi pada riset dan inovasi.

“S-Curve itu pelajaran innovation, selalu ada research dan ke depan itu barangnya apa yang harus kita menjadi kuat,” kata Airlangga.

Mesin pertumbuhan ketiga: sumber daya manusia

Mesin ketiga menitikberatkan pada peningkatan produktivitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Pemerintah mendorong penguatan keterampilan tenaga kerja, termasuk penyiapan ratusan ribu tenaga kerja terampil, serta pengembangan ekosistem ekonomi baru seperti ekonomi kreatif dan gig economy, dengan fokus pada generasi muda dan mahasiswa.

Baca juga: Indef: Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Masih Ditopang Bantuan dan Stimulus

Selain itu, Airlangga juga menegaskan pentingnya ketahanan pangan sebagai bagian dari stabilitas ekonomi nasional.

Upaya penguatan produksi pangan dalam negeri dilakukan melalui pengembangan kawasan pangan dan peningkatan produktivitas pertanian untuk menjamin ketersediaan pangan di tengah potensi krisis global dan gangguan rantai pasok internasional.

Tag:  #menko #airlangga #ungkap #mesin #pertumbuhan #ekonomi #tanpa #korbankan #stabilitas

KOMENTAR