BCA Investasi Triliunan Rupiah untuk Keamanan Siber
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) bernilai triliunan rupiah untuk memperkuat infrastruktur teknologi informasi, termasuk sistem keamanan siber, seiring dominasi transaksi digital dalam layanan perbankan perseroan.
SPV IT Security BCA, Ferdinan Marlim, mengatakan bahwa perlindungan sistem teknologi BCA dibangun dengan konsep keamanan berlapis guna meminimalkan celah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
“Teknologi yang kita pasang itu banyak sekali dan kita menganut konsep proteksi berlapis. Proteksi memang harus berlapis untuk memastikan tidak ada celah sama sekali yang bisa dimanfaatkan untuk masuk,” kata Ferdinan di ICE BSD, Sabtu (7/2/2026).
Baca juga: Penipuan Digital Marak, HIPMI Dorong Pemerintah Sahkan Regulasi Keamanan Siber
Ilustrasi keamanan siber
Adapun pada tahun 2025, capex untuk mendukung transformasi digital dan infrastruktur IT BCA, memiliki komposisi 8 hingga 10 persen dari total capex yang dianggarkan.
Menurut dia, investasi di bidang teknologi informasi, khususnya keamanan siber, bukanlah hal yang murah.
Namun, BCA secara konsisten menyediakan porsi investasi yang signifikan dari total capex perusahaan.
“Kalau kita bicara investasi teknologi IT sekarang, termasuk cyber security, itu tidak murah. Tapi kita sediakan investasinya, kita alokasikan porsi yang cukup signifikan dari capex total BCA,” ujarnya.
Baca juga: OJK Terbitkan Pedoman Keamanan Siber Penyelenggara Perdagangan AKD, Simak Poin-poinnya
Ferdinan menyebutkan, total capex BCA bernilai triliunan rupiah, dengan mayoritas dialokasikan untuk penguatan sistem IT.
Hal ini sejalan dengan tingginya porsi transaksi digital di BCA.
Ilustrasi keamanan siber.
“Capex total BCA itu triliunan. Mayoritas alokasinya pasti ke IT system, karena transaksi BCA itu secara frekuensi 99,8 persen sudah dilakukan secara digital,” jelasnya.
Transaksi digital tersebut mencakup berbagai kanal, mulai dari internet banking, mobile banking, ATM, hingga EDC.
Baca juga: AI dan Keamanan Siber Marketplace
Sementara itu, transaksi manual di kantor cabang jumlahnya sangat kecil dari sisi frekuensi, meski secara nominal masih relatif besar.
“Transaksi yang masih manual, misalnya ke cabang, itu sangat sedikit. Meskipun secara nominal biasanya besar-besar,” kata Ferdinan.
Tingginya ketergantungan pada kanal digital membuat BCA harus memastikan seluruh infrastruktur IT dikelola dengan baik dan aman.
“Konsekuensinya, infrastruktur IT harus terus dimanage dengan baik. Itu sebabnya capex mayoritas dialokasikan ke IT, termasuk keamanan IT dan cyber security. Ini terus kita investasikan untuk memastikan semua aplikasi bisa diakses secara aman oleh masyarakat,” tegas dia.