Diversifikasi Ekonomi, Arab Saudi Izinkan Ekspatriat Kaya Beli Alkohol
Arab Saudi secara diam-diam mulai mengizinkan warga asing non-Muslim berpenghasilan tinggi untuk membeli alkohol.
Dikutip dari BBC, Jumat (6/2/2026), kebijakan ini menjadi perubahan besar setelah larangan penjualan alkohol diberlakukan selama 73 tahun.
Selama beberapa dekade, kawasan Diplomatic Quarter di Riyadh dikenal sebagai enklave eksklusif yang terpisah dari hiruk-pikuk ibu kota.
LBaca juga: Peluang Ekspor UMKM ke Arab Saudi: Menembus Pasar Haji dengan Produk Khas Indonesia
Ilustrasi alkohol
Kawasan ini dihuni kedutaan besar dan hunian mewah, lengkap dengan jalur pejalan kaki rindang, ruang hijau, serta kafe yang menjadi tempat berkumpul warga Saudi muda dan ekspatriat.
Di dalam sebuah kompleks krem tanpa penanda di kawasan tersebut, berdiri toko kecil yang kini menjadi lokasi uji coba kebijakan sensitif: penjualan alkohol secara terbatas kepada warga asing non-Muslim yang memenuhi syarat tertentu.
Arab Saudi, rumah bagi dua kota suci umat Islam, melarang penjualan alkohol sejak 1952.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir kerajaan ini menggulirkan reformasi sosial dan ekonomi besar-besaran sebagai bagian dari upaya membentuk citra lebih moderat dan ramah investasi.
Baca juga: Arab Saudi Buka Akses Pasar Modal bagi Investor Asing Mulai Februari 2026
Di bawah kepemimpinan putra mahkota Mohammed bin Salman, Arab Saudi membuka kembali bioskop, menggelar festival musik besar, mencabut larangan perempuan mengemudi, serta membatasi kewenangan polisi agama yang sebelumnya sangat berpengaruh.
Ekspansi penjualan alkohol secara legal ini dinilai sebagai eksperimen paling berani sejauh ini.
Hanya untuk ekspatriat tertentu
Toko minuman keras pertama kali dibuka di Riyadh pada Januari 2024, namun aksesnya saat itu terbatas untuk diplomat non-Muslim.
Ilustrasi alkohol.
Aturan baru yang diperkenalkan tanpa pengumuman resmi pada akhir 2025 kini memperluas akses bagi warga asing non-Muslim yang tergolong kaya.
Baca juga: Wacana Ekspor, Bulog Bidik Perusahaan Katering di Arab Saudi
Untuk memenuhi syarat, seorang ekspatriat harus memiliki izin Premium Residency yang biayanya mencapai 100.000 riyal Saudi per tahun atau sekitar Rp 432 juta (asumsi kurs Rp 4.320 per riyal). Alternatifnya, mereka harus menunjukkan penghasilan minimal 50.000 riyal per bulan atau sekitar Rp 216 juta per bulan.
Skema Premium Residency umumnya terbuka bagi eksekutif senior asing, investor, serta profesional dengan keahlian khusus.
Baik pemegang izin maupun non-pemegang izin harus menunjukkan kartu identitas residensi kepada petugas keamanan di pintu masuk. Kartu tersebut mencantumkan status agama dan residensi.
Bagi yang tidak memiliki izin Premium Residency, mereka juga diwajibkan membawa surat keterangan gaji dari perusahaan. Turis asing belum diperkenankan masuk.
Baca juga: 10 Orang Terkaya di Timur Tengah, Pangeran Arab Saudi Nomor Satu
Beberapa pelanggan yang membeli alkohol dari toko tersebut berbicara kepada BBC dengan syarat anonim.
Telepon seluler disegel dalam kantong khusus sebelum pelanggan diperbolehkan masuk. Antrean dapat berlangsung lebih dari satu jam, meski pengalaman di dalam toko disebut relatif lancar.
Seorang ekspatriat Eropa menyebut toko tersebut memiliki stok cukup lengkap dengan harga dua hingga tiga kali lebih mahal dibanding di negara-negara Barat, namun jauh lebih murah dibanding pasar gelap di Arab Saudi.
“Sebotol whisky Johnny Walker Black Label menghabiskan 124 dollar AS (sekitar Rp 2 juta, dengan asumsi kurs Rp 16.830 per dollar AS). Tapi saya tidak keberatan membayar lebih,” ujar seorang eksekutif perusahaan asal Inggris.
Baca juga: Menperin Berharap Indonesia Bisa Pasok Kebutuhan Bus Arab Saudi
Ilustrasi bendera Arab Saudi, salah satu negara terkuat di dunia.
Pembelian alkohol diatur melalui sistem kuota bulanan berbasis poin yang cukup kompleks, namun disebut cukup longgar sehingga memungkinkan seseorang membeli puluhan liter minuman keras setiap bulan. Diplomat mendapatkan diskon.
Tidak ada pengumuman resmi dari pemerintah. Sejumlah pembeli mengaku mengetahui perubahan kebijakan tersebut dari informasi mulut ke mulut. Nama toko bahkan tidak muncul di peta daring.
“Seorang teman hanya membagikan lokasinya lewat Google Maps,” ujar seorang ekspatriat asal Asia.
Kebijakan ambigu dan bertahap
Sebastian Sons, peneliti senior di lembaga pemikir Jerman Carpo yang fokus pada Timur Tengah, menilai pendekatan pemerintah dilakukan secara hati-hati.
Baca juga: Perdagangan RI-Arab Saudi Capai 3,2 Miliar Dollar AS, Dua Negara Bidik Kerja Sama
“Mereka bersedia melangkah dua langkah ke depan dan satu langkah ke belakang, jika diperlukan, untuk isu-isu sensitif. Dengan alkohol, bisa jadi sama,” ujarnya.
Alkohol dilarang dalam hukum Islam, dan praktik keagamaan tetap kuat di sebagian besar masyarakat lokal.
Namun selama puluhan tahun, alkohol tetap beredar secara tertutup, mulai dari minuman racikan rumahan hingga produk impor yang dikonsumsi di pesta privat, kompleks residensial tertutup, atau rumah-rumah pribadi.
Sebagian besar alkohol bermerek masuk melalui kedutaan yang selama ini memiliki hak impor tanpa batas berdasarkan hak istimewa diplomatik. Sebagian lain beredar lewat pasar gelap dengan risiko produk tak terstandar dan harga tinggi.
Baca juga: Ekspor Produk Olahan Ayam ke 4 Negara, Indonesia Bidik Pasar Arab Saudi
Tekanan ekonomi dan diversifikasi
Perubahan kebijakan ini terjadi di tengah tekanan ekonomi Arab Saudi. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar energi cenderung lesu dan keuangan publik mengetat.
Arab Saudi berupaya menarik lebih banyak wisatawan asing dan ekspatriat berkeahlian tinggi untuk mengembangkan sektor non-migas seperti kecerdasan buatan dan manufaktur.
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menghadiri pertemuan dengan Presiden Rusia di Riyadh pada 6 Desember 2023.
Riyadh juga memangkas sejumlah proyek infrastruktur ambisius, termasuk proyek kota dan resor bernilai triliunan dollar AS di Neom, karena keterbatasan anggaran. Triliunan dollar AS setara dengan puluhan ribu triliun rupiah.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah melonggarkan aturan kepemilikan properti dan investasi pasar keuangan bagi warga asing untuk menarik modal luar negeri.
Baca juga: Indonesia-Arab Saudi Teken Kerja Sama Rp 437,4 Triliun Buat Energi dan Industri
Pada saat bersamaan, kerajaan menggelontorkan miliaran dollar AS untuk pariwisata, hiburan, dan ajang olahraga global guna mendiversifikasi ekonomi dari ketergantungan pada minyak.
Resor mewah dibangun di sepanjang pesisir Laut Merah, terutama menyasar wisatawan Barat.
Pariwisata menjadi pilar utama program Vision 2030. Pada 2024, Arab Saudi menarik hampir 30 juta wisatawan internasional, dengan perjalanan non-keagamaan menyumbang lebih dari separuh total kunjungan, menurut Menteri Pariwisata Ahmed Al Khateeb.
Targetnya adalah 70 juta wisatawan internasional pada 2030.
Baca juga: Danantara Dapat Investasi Rp 162 Triliun dari Raksasa Energi Arab Saudi, Buat Apa?
“Kami ingin menggandakan kontribusi pariwisata terhadap PDB pada 2030,” ujarnya dalam wawancara dengan BBC pada November 2025.
Arab Saudi dijadwalkan menjadi tuan rumah World Expo 2030 dan Piala Dunia FIFA 2034. Namun beberapa agenda menghadapi penundaan.
Asian Winter Games 2029 yang direncanakan digelar di resor ski Neom ditunda tanpa batas waktu, dengan laporan media menyebut adanya keterlambatan konstruksi.
Upaya diversifikasi tersebut berlangsung ketika harga minyak global berada di kisaran 60 sampai 66 dollar AS per barel atau sekitar Rp 1,009 juta hingga Rp 1,110 juta per barrel. Sebagai perbandingan, pada 2022 harga minyak sempat melonjak di atas 100 dollar AS per barrel setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Baca juga: BI Akan Uji Coba QRIS di China dan Arab Saudi
Harga yang lebih rendah berarti pendapatan negara dari minyak ikut tertekan, sementara penerimaan migas masih menjadi tulang punggung ekonomi Arab Saudi.
Rencana ekspansi dan sektor perhotelan
Pemandangan Pabrik Produksi Sentral Qatif selama pembangunannya di awal tahun 2000-an. Selesai dibangun pada tahun 2004, fasilitas ini, menurut Saudi Aramco (2009), memproduksi 800.000 barel per hari dari peremajaan ladang minyak darat Qatif (pertama kali diproduksi pada tahun 1951) dan ladang minyak lepas pantai Ab Safah (pertama kali diproduksi pada tahun 1966).
Otoritas Saudi dikabarkan juga berencana membuka dua gerai alkohol tambahan, masing-masing di Jeddah di pesisir Laut Merah dan di Dhahran, kota di timur yang menjadi basis perusahaan minyak negara Saudi Aramco.
Kedua toko tersebut diperkirakan akan menerapkan pembatasan serupa: hanya untuk warga asing kaya atau diplomat.
Industri perhotelan telah bersiap menghadapi kemungkinan pelonggaran lebih lanjut, termasuk potensi diizinkannya wisatawan membeli alkohol di masa depan.
Baca juga: RI-Arab Saudi Sepakati Kerja Sama Strategis Mineral, Fokus ke Nikel dan Hilirisasi
Sejumlah grup hotel mulai merekrut bartender dengan keahlian minuman beralkohol, meski layanan tersebut belum disebutkan secara eksplisit.
“Jika aturan berubah, kami ingin bisa bertindak segera,” ujar seorang eksekutif senior dari jaringan perhotelan multinasional.
Sumber industri menyebut destinasi wisata seperti pulau-pulau di Laut Merah dan kota kuno al-Ula di barat laut kerajaan berpotensi menjadi lokasi pertama yang memperluas izin alkohol apabila pembatasan kembali dilonggarkan.
“Alkohol mungkin bukan faktor utama, tetapi tentu bisa membantu menarik lebih banyak wisatawan Barat, terutama yang berkunjung ke pulau-pulau Laut Merah," terang Tim Callen, visiting fellow di Arab Gulf States Institute yang berbasis di Washington DC.
Baca juga: Menperin Sebut Arab Saudi Minat Ikut Proyek Hilirisasi MIND ID dan Vale
Arab Saudi menghadapi persaingan ketat dari Dubai di Uni Emirat Arab (UEA) untuk menarik ekspatriat dan wisatawan. Dubai menawarkan lingkungan sosial lebih liberal dengan akses mudah terhadap alkohol.
Analis menilai Arab Saudi kecil kemungkinan meniru model Dubai. Pendekatan yang lebih mungkin adalah model seperti Qatar, di mana alkohol hanya diizinkan di hotel dan lokasi tertentu.
Bahkan pada Piala Dunia 2022, Qatar membatasi penjualan alkohol di zona penggemar dan hotel bintang lima serta melarangnya di dalam stadion.
Sons memperkirakan Arab Saudi akan mengadopsi pendekatan serupa pada Piala Dunia 2034.
Tag: #diversifikasi #ekonomi #arab #saudi #izinkan #ekspatriat #kaya #beli #alkohol