Airlangga Ungkap Alasan Moody's Pangkas Outlook Peringkat Utang RI Jadi Negatif
- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara mengenai penurunan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody's.
Menurutnya, penurunan outlook terjadi lantaran lembaga pemeringkat tersebut belum sepenuhnya memahami kebijakan pembiayaan program-program unggulan pemerintah sehingga menilai program tersebut berpotensi memberi tekanan pada fiskal.
Namun, dia menegaskan penilaian tersebut belum mempertimbangkan secara utuh perubahan strategi pembiayaan pembangunan yang kini tidak lagi sepenuhnya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Outlook negatif itu membutuhkan penjelasan. Dari tentunya dari pemerintah dan juga lembaga baru Danantara. Memang APBN kita tahun ini agak berbeda," ujarnya saat Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) Tahun 2026, Jakarta, Kamis (5/1/2026).
Baca juga: Moodys Pangkas Outlook Indonesia jadi Negatif, Pemerintah Upayakan Debottlenecking
Ilustrasi bunga utangAirlangga menjelaskan, sejumlah program prioritas Presiden Prabowo Subianto seperti makan bergizi gratis hingga koperasi desa dan kelurahan merah putih memang dibiayai melalui APBN.
Namun, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan panjang, pemerintah kini mengandalkan investasi yang dijalankan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
"Ini yang banyak rating agency ataupun di pasar keuangan global belum paham. Jadi ini yang harus kita beri penjelasan. Karena sebetulnya dengan Danantara kita sebetulnya mengunlock dan melakukan reform terhadap stake on enterprise yang selalu mereka minta untuk bisa dipisahkan. Dan ini diminta juga untuk mereka bisa bergerak seperti private sector," jelasnya.
Airlangga menegaskan, secara fundamental kondisi ekonomi Indonesia tetap solid. Rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di bawah 40 persen, jauh di bawah batas undang-undang sebesar 60 persen.
Selain itu, sekitar 70 persen utang pemerintah berdenominasi rupiah sehingga risiko nilai tukar dinilai terkendali. Defisit APBN juga masih terjaga di bawah 3 persen.
Dari sisi peringkat kredit, Airlangga menekankan bahwa Indonesia masih berada pada kategori investment grade. Fitch Ratings dan S&P Global Ratings masing-masing mempertahankan peringkat BBB, sementara Moody’s masih menempatkan Indonesia di level Baa2 meski dengan outlook negatif.
"Jadi ini situasi makronya relatif aman. Dari segi utang korporasi, dari segi lindung nilai terlindungi," tuturnya.
Baca juga: S&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia di BBB, Outlook Stabil
Alasan Moody's turunkan peringkat utang RI
Ilustrasi ekonomi.Sebelumnya, lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Namun peringkat kredit tetap bertahan di level Baa2.
Moody’s menjelaskan penurunan outlook dipicu oleh menurunnya prediktabilitas dan koherensi perumusan kebijakan. Kondisi tersebut disertai komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif sepanjang setahun terakhir.
Moody’s menilai situasi tersebut berisiko melemahkan kredibilitas kebijakan di mata investor. Penilaian itu juga mencerminkan pelemahan tata kelola pemerintahan.
"Ini tercermin dalam peningkatan volatilitas pasar saham dan valuta asing," tulis Moody’s.
Baca juga: Airlangga Ungkap Demutualiasi BEI Gunakan Private Placement atau IPO
Moody’s menilai kelanjutan kondisi tersebut berpotensi mencerminkan lemahnya kekuatan kelembagaan.
Risiko tersebut dinilai dapat menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah terbangun dalam jangka panjang.
Tekanan juga muncul dari penggunaan belanja publik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Langkah tersebut dinilai menimbulkan risiko fiskal meski pemerintah terus mendorong peningkatan penerimaan pajak dan bea cukai.
Baca juga: Moodys Tetapkan Peringkat Kredit Indonesia Stabil, BI: Mencerminkan Keyakinan Dunia Internasional
Tag: #airlangga #ungkap #alasan #moodys #pangkas #outlook #peringkat #utang #jadi #negatif