ATR, “Pesawat Kampung” yang Pimpin Penerbangan Regional di Indonesia
– Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu pasar penting bagi pesawat turboprop.
Kondisi geografis yang terdiri dari ribuan pulau membuat jenis pesawat ini dinilai cocok untuk melayani rute-rute pendek, termasuk ke wilayah terpencil.
Pabrikan pesawat regional Perancis-Italia, ATR (Avions de Transport Régional), bahkan menjuluki produknya sebagai “kampung aircraft”.
Istilah tersebut merujuk pada peran pesawat turboprop dalam menghubungkan kota kecil dan daerah yang belum terjangkau pesawat jet berbadan besar.
"Kampung" aircraft
Managing Director & Head of Region Asia Pacific ATR, Jean-Pierre Clarcin mengatakan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan membuat turboprop menjadi salah satu opsi transportasi udara yang paling sesuai, terutama untuk bandara dengan landasan terbatas dan jarak penerbangan relatif pendek.
Baca juga: Saat ATR Memilih Upgrade, Bukan Membangun Pesawat dari Nol
“Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak pulau dan kota sekunder. Di banyak wilayah seperti Sumatera, Sulawesi, atau Kalimantan, infrastruktur darat belum selalu memadai. Di situlah peran turboprop menjadi sangat penting,” ujar Clarcin kepada jurnalis Kompas.com, Reska K. Nistanto dalam wawancara.
Menurut Clarcin, turboprop ideal untuk melayani rute antar-pulau dengan volume penumpang yang tidak terlalu besar, namun membutuhkan konektivitas cepat. Pesawat jenis ini dinilai lebih efisien untuk jarak pendek hingga menengah dibandingkan mesin jet.
ATR72 Wings Air di bandara Komodo Labuan Bajo (LBJ), Flores.
Clarcin bahkan menyebut ATR sebagai “Kampung aircraft” karena fungsinya yang melayani komunitas kecil dan wilayah terpencil.
“Kami sering menyebutnya sebagai ‘Kampung aircraft’. Pesawat ini menghubungkan komunitas-komunitas yang sebelumnya harus menempuh perjalanan darat atau laut selama berhari-hari. ATR bukan hanya alat transportasi, tapi infrastruktur sosial dan ekonomi,” katanya.
Di Indonesia, operator umumnya mengonfigurasi ATR dengan kursi berkapasitas tinggi (high-density). Fokusnya adalah kecepatan dan efisiensi biaya, bukan layanan premium.
Baca juga: Pesawat Baling-baling ATR Diklaim Cocok Sebagai Pembuka Rute
“Di pasar seperti Indonesia, penumpang mencari alternatif yang lebih cepat dibandingkan bus atau kapal. Mereka tidak mencari produk premium, tapi konektivitas yang efisien dan terjangkau,” ujar Clarcin.
Prediksi "Boom" turboprop
ATR juga memproyeksikan pertumbuhan signifikan di pasar penerbangan regional Indonesia dalam satu dekade ke depan. Clarcin menyebut peningkatan konektivitas domestik, pengembangan bandara kecil, serta integrasi regional sebagai pendorong utama.
“Kami melihat pasar penerbangan regional Indonesia akan tumbuh sangat besar dalam 10 tahun ke depan. Akan ada peningkatan konektivitas domestik dan pengembangan bandara-bandara kecil,” katanya.
Bupati Jember Muhammad Fawait usai menyambut kedatangan pesawat Fly Jaya yang akan melayani penerbangan komersial Jember-Jakarta di Bandara Notohadinegoro Desa Wirowongso Kecamatan Ajung, Jember, Minggu (17/8/2025).
Ia menambahkan, turboprop akan tetap memegang peran penting sebagai pengumpan (feeder) bagi penerbangan jet di kota-kota besar.
“ATR akan terus memainkan peran krusial dalam menghubungkan kota tier 2 dan tier 3 ke hub utama. Ini akan mendukung pertumbuhan maskapai dan memperkuat jaringan domestik,” ujar Clarcin.
Baca juga: Indonesia Jadi Pasar Pesawat ATR Terbesar di Asia Pasifik
Selain pertumbuhan domestik, ATR juga melihat peluang integrasi regional antar-negara Asia Tenggara, mengingat jarak antar-wilayah yang relatif dekat dan cocok dilayani pesawat turboprop.
Operator di Indonesia
Di Indonesia, reputasi ATR sebagai “pesawat kampung” bukan sekadar julukan, melainkan tercermin dari perannya di lapangan.
Pesawat turboprop ini mendominasi penerbangan regional yang melayani rute-rute ke daerah terpencil dengan infrastruktur bandara terbatas, landasan pendek, hingga fasilitas navigasi sederhana.
Maskapai seperti Wings Air memanfaatkan ATR untuk menjangkau kota-kota kecil dan wilayah perintis, sementara Citilink juga mengoperasikan ATR untuk memperkuat konektivitas antarkota sekunder.
Operator baru seperti FlyJaya pun memilih ATR sebagai tulang punggung armadanya.
Kombinasi kemampuan lepas landas di runway pendek, efisiensi bahan bakar, dan kapasitas yang sesuai, membuat ATR menjadi pemain utama dalam jaringan penerbangan regional Indonesia.
Tag: #pesawat #kampung #yang #pimpin #penerbangan #regional #indonesia