Moody’s Ubah Outlook Kredit Indonesia jadi Negatif, Soroti Risiko Kebijakan hingga Tata Kelola
Moody’s ubah outlook kredit Indonesia jadi negatif karena risiko kebijakan dan tata kelola.
08:36
6 Februari 2026

Moody’s Ubah Outlook Kredit Indonesia jadi Negatif, Soroti Risiko Kebijakan hingga Tata Kelola

 

– Lembaga pemeringkat kredit Moody’s Investors Service mengubah prospek (outlook) peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, Moody’s tetap menegaskan peringkat kredit Indonesia bertahan di level Baa2, satu tingkat di atas ambang batas investment grade.

Penurunan outlook tersebut didorong oleh meningkatnya risiko kebijakan dan tata kelola yang dinilai dapat melemahkan kredibilitas ekonomi Indonesia ke depan. Moody’s menilai prediktabilitas kebijakan mengalami penurunan, tercermin dari proses pembuatan kebijakan yang kurang koheren dan berpotensi menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku pasar.

Dalam laporannya, Moody’s juga menyoroti munculnya risiko tata kelola. Penurunan sejumlah indikator tata kelola dinilai mencerminkan potensi pelemahan institusional, yang pada akhirnya dapat memengaruhi efektivitas perumusan dan implementasi kebijakan ekonomi.

Dari sisi fiskal, Moody’s mencatat adanya risiko strategi fiskal seiring dorongan belanja untuk pertumbuhan ekonomi di tengah basis penerimaan negara yang masih lemah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko pelebaran defisit anggaran.

"Ruang fleksibilitas fiskal dinilai terbatas, sementara perluasan berbagai program sosial berpotensi menambah tekanan pada struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang relatif sempit," bunyi laporan Moody's dikutip Kamis (5/2).

Selanjutnya, ketidakpastian juga muncul dari peran Danantara, Moody’s menilai belum jelasnya tata kelola dan mekanisme pendanaan Danantara berpotensi menciptakan kewajiban kontingen bagi negara, terutama jika dikaitkan dengan pengelolaan aset dan keterlibatan BUMN.

Selain itu, Moody’s menyoroti kemungkinan terjadinya pergeseran rezim kebijakan. Potensi perubahan pada kerangka fiskal dan moneter dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian kebijakan, yang berdampak pada iklim investasi dan stabilitas pasar keuangan.

Ketidakpastian kebijakan tersebut dinilai turut melemahkan daya tarik investasi. Moody’s memperingatkan bahwa kondisi ini dapat menghambat arus investasi baru serta meningkatkan biaya pinjaman.

Hal ini tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar, baik di pasar ekuitas maupun nilai tukar, yang mencerminkan sensitivitas pasar terhadap kredibilitas kebijakan.

Moody’s juga mencatat meningkatnya tekanan sosial-politik. Ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan dinilai berpotensi menimbulkan risiko terhadap stabilitas domestik apabila tidak dikelola dengan baik.

"Meski outlook diturunkan, Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia karena ketahanan ekonomi yang dinilai masih solid," bunyi laporan tersebut.

Adapun alasannya karena pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 5 persen, defisit fiskal dijaga di bawah 3 persen dari PDB, serta rasio utang pemerintah masih lebih rendah dibandingkan negara-negara lain dengan peringkat Baa, dengan catatan disiplin kebijakan tetap terjaga.

Moody’s menyebut terdapat sejumlah faktor yang dapat mendorong perbaikan outlook ke depan. Di antaranya adalah pemulihan kredibilitas kebijakan melalui arah kebijakan yang lebih jelas dan konsisten, penguatan basis penerimaan negara secara berkelanjutan untuk meningkatkan fleksibilitas fiskal, serta peningkatan pertumbuhan struktural melalui daya saing dan pendalaman sektor keuangan.

Sebaliknya, outlook dan peringkat Indonesia berpotensi kembali tertekan apabila terjadi ekspansi fiskal yang tidak didukung reformasi penerimaan negara. Risiko penurunan peringkat juga dapat muncul dari kemerosotan eksternal, seperti pelemahan nilai tukar yang berkelanjutan atau arus keluar modal, serta memburuknya kondisi keuangan BUMN yang berkaitan dengan tata kelola Danantara.

Dalam asesmen terbarunya, Moody’s juga menurunkan penilaian kekuatan ekonomi Indonesia dari “a2” menjadi “a1”, dengan alasan tingkat diversifikasi ekonomi yang lebih rendah dari yang tercermin oleh besarnya ukuran ekonomi nasional, termasuk ketergantungan pada sektor dan komoditas tertentu. Skor akhir Indonesia kini berada di kisaran Baa1–Baa3, dari sebelumnya A2–Baa1.

Editor: Estu Suryowati

Tag:  #moodys #ubah #outlook #kredit #indonesia #jadi #negatif #soroti #risiko #kebijakan #hingga #tata #kelola

KOMENTAR