Korban Ghosting Lebih Sulit Move On, Ini Penyebabnya
- Kencan modern di era sekarang bukanlah untuk mereka yang berhati lemah karena ada fenomena bernama "ghosting".
Ghosting adalah ketika seseorang yang dikenal melalui aplikasi kencan atau sedang melakukan pendekatan, tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan dan memutus kontak, meskipun sebelumnya rutin mengobrol dan telah menjalin kedekatan emosional.
Secara psikologis, diabaikan tanpa penjelasan ternyata memicu tekanan mental yang lebih besar, dibandingkan penolakan yang dilakukan secara terang-terangan, disadur dari Best Life, Kamis (5/2/2026).
Baca juga: 5 Zodiak yang Dikenal Jago Ghosting, Siapa Saja?
Jadi korban ghosting lebih menyakitkan
Korban ghosting lebih sulit move on
Riset tahun 2025 menemukan, mereka yang menjadi korban ghosting lebih sulit untuk bangkit alias move on, dibandingkan dengan mereka yang ditolak secara blak-blakan.
Dalam sebuah simulasi kencan daring yang melibatkan hampir 250 mahasiswa, para peserta dipasangkan dengan sosok fiksi bernama Taylor.
Setelah komunikasi yang intens dan dua kali kencan yang berkesan, para partisipan menunjukkan ketertarikan untuk bertemu ketiga kalinya.
Namun, para peneliti membuat prompt bagi Taylor untuk memberikan respons acak, yaitu menerima, menolak, atau melakukan pengabaian.
Baca juga: Ghosting dalam Pertemanan, Apakah Wajar Terjadi?
Taktik ini memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana perasaan seseorang saat menghadapi pengabaian secara langsung, dibandingkan hanya berdasarkan ingatan masa lalu.
“Orang-orang sering mendiskusikan ghosting sebagai cara yang menyakitkan dan menyedihkan untuk mengakhiri suatu hubungan," ungkap kandidat doktor dan penulis utama studi tersebut, Amanda Szczesniak.
Ia melanjutkan, hal tersebut menginspirasi para peneliti untuk mengeksplorasi apa yang membuat pengalaman pembubaran hubungan ini sangat berdampak bagi penerimanya.
Setelah menerima respons atau pengabaian dari Taylor, para peneliti mengukur emosi, harga diri, sampai keinginan partisipan untuk memantau keberadaan Taylor secara daring.
Hasil menunjukkan, baik yang ditolak maupun diabaikan, sama-sama mengalami penurunan harga diri dan peningkatan emosi negatif.
Baca juga: 5 Ucapan yang Melukai Harga Diri Pria
Zodiak yang Hobi Ghosting
Namun menariknya, mereka yang diabaikan tanpa kejelasan tetap merasa terikat secara emosional dengan Taylor, dibandingkan kelompok yang ditolak. Mereka juga merasa lebih tergoda untuk memeriksa media sosial Taylor atau mengirimkan pesan susulan setelah 24 jam.
Penelitian lanjutan menunjukkan hasil serupa
Dalam studi kedua yang melibatkan 141 peserta, ditemukan hasil serupa. Partisipan yang jadi korban ghosting, cenderung lebih sering melakukan tindakan seperti menelepon, mengecek profil aplikasi kencan, sampai mendatangi tempat-tempat yang sering dikunjungi target.
Sebaliknya, mereka yang menerima pesan penolakan yang jelas, justru lebih memilih untuk memutuskan kontak sama sekali.
Baca juga: 7 Tips Melupakan Mantan Tanpa Drama
“Mengingat penelitian masa lalu telah menunjukkan bahwa kontak terus-menerus dengan mantan pasangan menghambat pemulihan setelah putus cinta, terutama bagi mereka yang memiliki penerimaan rendah terhadap perpisahan tersebut, peserta yang di-ghosting berisiko mengalami pemulihan psikologis yang lebih lambat dari pembubaran tersebut,” ungkap Szczesniak.
Ia menambahkan, diabaikan tanpa kejelasan berkaitan erat dengan keterikatan emosional yang berkepanjangan, dan upaya pemantauan media sosial yang terus menerus.
"Ini menunjukkan mengapa penolakan yang jujur merupakan strategi paling efektif untuk menetapkan berakhirnya sebuah hubungan," kata Szczesniak.
Baca juga: Sudah Lost Contact, Bolehkah Berteman dengan Mantan Kembali?
Ghosting adalah istilah kencan sehari-hari yang mengacu pada pemutusan kontak secara tiba-tiba dengan seseorang tanpa memberi penjelasan apapun pada orang yang bersangkutan.
Penyebab ghosting
Menilik dampaknya yang negatif pada korban ghosting, mengapa seseorang melakukan hal tersebut?
Sebagian besar ahli berpendapat bahwa ini berkaitan dengan ketidakmampuan seseorang dalam menjalin komunikasi yang sehat.
“Berbicara dengan seseorang tentang mengapa kamu tidak ingin berada di hidup mereka lagi itu sulit,” kata seorang konselor profesional berlisensi di Shrink Me Not, Heather M. Cain, LPC, LCPC.
“Kebanyakan orang tidak ingin membicarakannya, sehingga mereka lebih memilih untuk melakukan ghosting," lanjut dia.
Baca juga: Kenapa Banyak Orang Pilih Pacar Baru yang Mirip Mantan?
Meskipun awalnya terasa sangat menyakitkan, tindakan ini sebenarnya adalah indikator nyata dari keterampilan komunikasi yang buruk.
"Sebagian besar orang tidak belajar bagaimana menyampaikan perasaan mereka secara efektif. Dan sebagian orang kesulitan dengan mendengarkan tentang bagaimana perilaku mereka memengaruhi perasaan orang lain," ujar Cain.
Di sisi lain, kejadian ini justru menjauhkan dari orang-orang yang tidak mampu mengekspresikan emosi, atau tidak mau menghadapi ketidaknyamanan untuk memberimu penjelasan yang layak.
Namun terkadang, alasannya seseorang melakukan ghosting jauh lebih rumit, seperti masalah kesehatan mental, tragedi pribadi, atau kenyataan bahwa mereka sebenarnya tidak sedang melajang.
Baca juga: 5 Alasan Kamu Tak Perlu Menghubungi Lagi Setelah Di-Ghosting