Hashim: Pemerintah Akan Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir 7 Giga Watt
Pemerintah memutuskan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dengan kapasitas 7 gigawatt. Keputusan itu disebut baru diambil dan menjadi perubahan besar dalam arah kebijakan energi nasional.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan, proyek nuklir tersebut baru saja diputuskan pemerintah. Kapasitas yang disiapkan jauh lebih besar dari rencana sebelumnya.
“Pemerintah juga telah memutuskan untuk memulai proyek tenaga nuklir sebesar 7 giga watt. Ini baru. Ini benar-benar baru,” ujar Hashim dalam Indonesia Economic Summit di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: Peluang Kerja Sama Nuklir RI–AS Dibahas di DPR
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2024–2034, porsi listrik dari nuklir sebelumnya ditetapkan 500 megawatt. Hasjim menyebut arah kebijakan itu berubah seiring waktu.
“Seiring waktu hingga tahun 2034, akan menjadi 7 giga watt tenaga nuklir,” kata Hashim.
Hashim menyampaikan, minat investor asing terhadap proyek PLTN mulai bermunculan. Sejumlah negara disebut tertarik menanamkan modal sekaligus menawarkan teknologi nuklir.
“Sekali lagi, ini menunjukkan komitmen yang kuat terhadap yah, ini bukan solusi berbasis alam, tetapi ini hijau ini katakanlah energi netral karbon,” tutur Hashim.
Selain nuklir, pemerintah tetap menempatkan gas alam sebagai penopang transisi energi. Gas dipandang berperan menjaga pasokan listrik saat peralihan menuju energi rendah emisi.
“Saya pikir, merupakan bahan bakar transisi, tetapi inilah niatnya dan sudah diumumkan,” ucap Hashim.
Baca juga: Hashim Djojohadikusumo Sebut Tambang Ilegal di Indonesia Dibekingi Orang Kuat
Wacana pembangunan PLTN berkapasitas besar sebelumnya juga disampaikan Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo. Ia menyebut pengembangan nuklir akan dilakukan bertahap hingga 2040 dan dimasukkan ke dalam RUPTL.
PLTN berkapasitas 500 megawatt ditargetkan lebih dulu terbangun hingga 2034. Setelah itu, kapasitas nuklir akan ditambah secara signifikan.
“Kemudian antara modeling sektor kelistrikan yang dilakukan Kementerian ESDM dalam hal ini Dirjen Tenaga Listrik dan juga PLN sampai 2040 akan kira-kira ada tambahan lagi sekitar 7 gigawatt nuklir yang akan masuk dalam RUPTL sampai 2040,” kata Darmawan dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (26/8/2025).
Saat itu, rencana tersebut masih berbentuk draf. Pengaturan lebih rinci terkait energi nuklir masih menunggu payung hukum dalam Undang-Undang Ketenagalistrikan yang terpadu.
“Ini memerlukan dukungan politik bahwa ke depan dengan adanya perubahan iklim ini diperlukan energy yang affordable untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang masif,” ujar Darmawan.
Tag: #hashim #pemerintah #akan #bangun #pembangkit #listrik #tenaga #nuklir #giga #watt