Ray Dalio: Emas Tetap Aset Teraman di Tengah Ketidakpastian Global
Investor dan pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio.(WIKIMEDIA COMMONS/WEB SUMMIT)
15:36
4 Februari 2026

Ray Dalio: Emas Tetap Aset Teraman di Tengah Ketidakpastian Global

Investor dan miliarder Ray Dalio mengatakan emas tetap menjadi aset teraman dalam lingkungan global yang tidak pasti saat ini.

Pandangan Dalio mengenai emas dilontarkan meskipun terjadi fluktuasi harga yang tajam, karena pemerintah dan investor bergulat dengan meningkatnya utang, ketegangan geopolitik, dan pasar yang bergejolak.

Berbicara di World Government Summit di Dubai, Dalio, pendiri Bridgewater Associates yang merupakan hedge fund terbesar di dunia, mengatakan kepercayaan pada bentuk uang tradisional semakin dipertanyakan, mendorong bank sentral dan investor negara untuk mengakumulasi emas.

Baca juga: Ray Dalio: Dunia di Ambang Perang Modal, Emas Jadi Lindung Nilai Utama

“Uang seharusnya menjadi alat tukar dan penyimpan kekayaan, dan saat ini ada pertanyaan tentang bagaimana uang akan menjadi penyimpan kekayaan,” kata Dalio, dikutip dari Gulf News, Rabu (4/2/2026).

Ia mencatat, sejak runtuhnya sistem moneter berbasis emas pada tahun 1971, pemerintah telah bergantung pada mata uang fiat yang dapat dicetak lebih mudah, yang menyebabkan penumpukan utang yang stabil di seluruh perekonomian.

Meskipun sistem ini telah mendukung pertumbuhan, sistem ini juga meningkatkan risiko keuangan jangka panjang.

Di tengah ketidakpastian yang meningkat, kata Dalio, emas menonjol karena tidak mudah dikendalikan atau didevaluasi oleh satu negara pun.

Baca juga: Harga Emas Terkoreksi, Ray Dalio: Emas Adalah Uang yang Paling Fundamental

Saat ini, emas adalah aset cadangan terbesar kedua yang dipegang oleh bank sentral di seluruh dunia, setelah dollar AS.

Volatilitas tidak melemahkan emas

Ilustrasi emas batangan. Demam Emas Memicu Skandal Penipuan Investasi Emas di China: Perusahaan Gagal Bayar, Uang Rp 24,1 Triliun Tak Bisa DitarikDOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan. Demam Emas Memicu Skandal Penipuan Investasi Emas di China: Perusahaan Gagal Bayar, Uang Rp 24,1 Triliun Tak Bisa Ditarik

Menanggapi volatilitas harga emas baru-baru ini, Dalio memperingatkan agar tidak memandangnya sebagai perdagangan jangka pendek.

Harga emas telah melonjak selama setahun terakhir tetapi juga mengalami penurunan tajam, yang mencerminkan ketidakpastian pasar yang lebih luas.

“Harga emas naik sekitar 65 persen dari tahun lalu, dan turun sekitar 16 persen dari puncaknya, dan saya pikir orang-orang membuat kesalahan dengan berpikir: ‘Apakah harganya akan naik dan turun, dan haruskah saya membelinya?’ Individu mungkin bank sentral atau pemerintah atau dana kekayaan negara harus mengatakan: ‘Berapa persentase portofolio saya yang harus saya miliki dalam emas?’” jelasnya.

Baca juga: Ray Dalio Sarankan Alokasi 15 Persen Emas ke Portofolio Investasi

Diversifikasi yang efektif

Dalio menggambarkan emas sebagai diversifikasi yang efektif, yakni aset yang cenderung berkinerja baik selama periode krisis dan ketidakstabilan, meskipun kinerjanya menurun selama masa-masa yang lebih makmur.

Mempertahankan alokasi yang konsisten, katanya, memungkinkan investor untuk mengelola risiko daripada mengejar keuntungan.

“Yang terpenting adalah melakukan diversifikasi dengan baik,” kata Dalio.

Ia menambahkan bahwa alokasi aset strategis tetap menjadi fondasi ketahanan keuangan jangka panjang.

Baca juga: Ray Dalio Soroti Pergeseran Kekuatan Ekonomi Global, China Tantang Dominasi AS

Pergerakan harga emas dunia sejak awal 2026

Sejak awal 2026, harga emas dunia mengalami reli tajam yang melanjutkan lonjakan besar pada 2025.

Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.Shutterstock/VladKK Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.

Harga spot emas global menembus level 5.000 dollar AS per ounce pada akhir Januari 2026, sebagian karena permintaan safe-haven yang kuat.

Bank investasi dan analis menaikkan target harga 2026 setelah reli tersebut.

Goldman Sachs, misalnya, menaikkan perkiraan harga emas dunia pada akhir 2026 menjadi sekitar 5.400 dollar AS per ounce, sementara beberapa bank besar memproyeksikan target yang lebih tinggi lagi.

Baca juga: Utang AS Membengkak, Ray Dalio Sebut Dunia Hadapi Risiko Mirip 1971

Reli awal tahun ini mencerminkan kelanjutan lonjakan besar yang mencapai sekitar 64 sampai 65 persen sepanjang 2025.

Dorongan utama di balik kenaikan harga emas dunia pada Januari 2026 adalah pertama, kombinasi akumulasi emas oleh bank sentral negara emerging market dan beberapa negara yang mendiversifikasi cadangan.

Kedua, kenaikan permintaan investor ritel dan institusional ke instrumen emas (ETF) sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian geopolitik.

Ketiga, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter atau penurunan suku bunga di masa depan yang menurunkan imbal hasil riil dan meningkatkan daya tarik emas.

Baca juga: Ray Dalio Wanti-wanti Bahaya Obligasi di Tengah Utang AS Rp 594 Kuadriliun

Laporan Reuters mencatat bahwa pembelian bank sentral dan kekhawatiran geopolitik menjadi faktor pendorong utama reli harga emas tersebut.

Akhir Januari 2026 lalu pasar juga mencatat rekor intraday dan kemudian koreksi tajam.

Setelah mencapai puncak akhir Januari 2026, emas mengalami pelemahan signifikan pada akhir Januari–awal Februari karena aksi ambil untung, penguatan dollar AS sementara, dan sinyal ketahanan pasar ekuitas yang mengurangi permintaan safe-haven jangka pendek.

Reuters melaporkan aksi ambil untung yang memicu penurunan lebih dari beberapa persen setelah rekor, dan analis memperingatkan volatilitas tetap tinggi meskipun prospek bullish jangka panjang tetap ada.

Baca juga: Ray Dalio, Miliader yang Peringatkan Bahayanya Utang Terlalu Tinggi

Meski terjadi penurunan singkat pada awal Februari 2026, banyak lembaga riset dan bank besar menilai bull run emas masih utuh karena faktor fundamental, yakni pembelian bank sentral yang berkelanjutan dan kekhawatiran makroekonomi, serta proyeksi kenaikan target harga sepanjang 2026.

UBS, JP Morgan, dan Deutsche Bank termasuk yang mengulangi prospek harga yang jauh lebih tinggi pada akhir tahun, meskipun mereka juga mengingatkan investor tentang kemungkinan fluktuasi jangka pendek.

Tag:  #dalio #emas #tetap #aset #teraman #tengah #ketidakpastian #global

KOMENTAR