Harga Bitcoin Hari Ini Anjlok, Arus Keluar ETF dan Kebijakan The Fed Jadi Pemicu
– Harga bitcoin (BTC) kembali tertekan pada Rabu (4/2/2026), melanjutkan koreksi tajam yang terjadi sejak akhir pekan lalu.
Tekanan terhadap aset kripto terbesar di dunia itu dipicu kombinasi faktor makroekonomi global, arus keluar dana dari produk ETF spot bitcoin, serta gelombang likuidasi posisi leverage di pasar derivatif.
Harga bitcoin sempat bergerak di kisaran 72.000 dollar AS hingga 79.000 dollar AS dalam beberapa hari terakhir, sebelum kembali melemah pada perdagangan Rabu.
Baca juga: Bitcoin Tergelincir 3,15 Persen, Pasar Kripto Kembali Dilanda Tekanan
Ilustrasi Bitcoin.
Koreksi tersebut terjadi di tengah volatilitas tinggi di pasar aset berisiko secara global.
Laporan Reuters menyebutkan, gelombang likuidasi di pasar kripto mencapai sekitar 2,5 miliar dollar AS dalam beberapa hari terakhir, berdasarkan data penyedia analitik pasar kripto CoinGlass.
Besarnya nilai likuidasi tersebut menunjukkan tekanan jual yang signifikan, terutama dari posisi dengan leverage tinggi.
Likuidasi besar perparah tekanan harga
Reuters melaporkan, koreksi harga bitcoin memicu penutupan posisi secara paksa (forced liquidation) di sejumlah bursa derivatif kripto. Dalam kondisi pasar yang likuiditasnya relatif tipis, tekanan jual tersebut mempercepat penurunan harga.
Baca juga: Harga Bitcoin Turun ke Level Terendah 16 Bulan, Ini Penyebabnya
Senior research analyst di Kaiko, Adam McCarthy, mengatakan sebagian pelaku pasar memilih menahan diri di tengah ketidakpastian.
“Apa yang kita lihat dalam beberapa bulan terakhir mungkin adalah orang-orang yang mengambil langkah mundur sementara mereka harus menilai kembali kerangka kerja risiko mereka dan bagaimana mereka beroperasi di pasar ini,” ujar McCarthy, seperti dikutip Reuters.
Ilustrasi Bitcoin, mata uang kripto paling bernilai di dunia.
Investor, baik institusi maupun ritel, tengah mengevaluasi ulang strategi manajemen risiko mereka setelah periode reli panjang di pasar kripto sepanjang 2025.
Selain itu, likuiditas yang lebih tipis pada akhir pekan memperburuk pergerakan harga. Ketika sejumlah posisi leverage tersentuh batas margin, tekanan jual terjadi secara beruntun dan menciptakan efek domino.
Baca juga: Sempat Ambles, Harga Bitcoin Hari Ini di Atas 78.000 Dollar AS
Arus keluar ETF spot tekan permintaan
Faktor lain yang turut membebani harga adalah arus keluar dana dari produk ETF spot Bitcoin yang diperdagangkan di Amerika Serikat.
Sejumlah laporan pasar menunjukkan adanya outflow bersih bernilai ratusan juta hingga lebih dari satu miliar dollar AS dalam periode akhir Januari hingga awal Februari 2026.
Arus keluar tersebut mengindikasikan berkurangnya minat jangka pendek investor institusional terhadap eksposur bitcoin melalui instrumen yang teregulasi.
Desk strategist di Wintermute, Jasper de Maere, menyebut penurunan harga bitcoin dipicu kombinasi beberapa faktor besar.
Baca juga: Harga Bitcoin Terkoreksi, Volatilitas Pasar Global Jadi Biang Kerok
“Gabungan dari tiga faktor: pendapatan Magnificent Seven yang mengecewakan yang mematahkan narasi AI, penurunan tajam harga logam mulia, dan ketidakpastian seputar nominasi Kevin Warsh sebagai ketua Fed,” jelas dia.
Pernyataan itu merujuk pada laporan kinerja sejumlah perusahaan teknologi besar AS yang mengecewakan pasar, sehingga memicu aksi jual di saham teknologi dan berdampak pada sentimen aset berisiko, termasuk kripto.
Ketidakpastian kebijakan The Fed
Pasar juga merespons perkembangan politik dan kebijakan moneter di AS. Pengumuman terkait nominasi pimpinan baru di bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) memicu penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga dan kebijakan likuiditas.
Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve
Reuters melaporkan, ketidakpastian tersebut mendorong penguatan indeks dollar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi itu umumnya memberikan tekanan pada aset non-yielding seperti emas dan bitcoin.
Baca juga: Harga Bitcoin Terkoreksi, Volatilitas Pasar Global Jadi Biang Kerok
Head of fixed income di Charles Schwab, Jim Ferraioli, mengatakan tekanan harga lebih banyak dipicu faktor eksternal.
“Risiko terbesar terhadap harga pada level ini berasal dari faktor eksternal,” ujarnya.
Penguatan dollar AS membuat aset berdenominasi dollar AS menjadi relatif lebih mahal bagi investor global. Hal ini kerap memicu rotasi dana dari aset berisiko menuju instrumen yang dianggap lebih aman.
Koreksi saham teknologi dan efek rambatan
Selain faktor kebijakan moneter, pasar saham global juga mengalami tekanan. Reuters melaporkan, pelemahan saham-saham teknologi, terutama yang terkait dengan tema kecerdasan buatan (AI), turut menekan sentimen risiko.
Baca juga: Harga Bitcoin Turun Terus, Kapan Akan Pulih?
Sejumlah perusahaan besar di kelompok yang dikenal sebagai Magnificent Seven mencatatkan kinerja yang dinilai mengecewakan pasar.
Kondisi tersebut memicu aksi jual luas di sektor teknologi dan berdampak pada aset kripto yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan korelasi cukup tinggi dengan saham teknologi.
Manuel Villegas Franceschi dari Julius Baer mengatakan struktur pasar telah melemah sejak akhir 2025.
“Struktur pasar telah melemah secara signifikan sejak Oktober,” sebut dia.
Baca juga: Harga Bitcoin Anjlok di Bawah 80.000 Dollar AS, Ini Pemicunya
Menurut dia, kombinasi sentimen negatif di pasar saham dan ketidakpastian makro memperbesar risiko volatilitas di pasar kripto.
Ilustrasi Bitcoin
Dampak volatilitas logam mulia
Dalam periode yang sama, harga emas dan perak juga mengalami pergerakan tajam. Beberapa laporan menyebutkan adanya aksi ambil untung besar di pasar logam mulia setelah reli sebelumnya.
Koreksi tajam di pasar logam mulia tersebut disebut-sebut memicu penyesuaian posisi di berbagai kelas aset, termasuk kripto.
Ketika investor menghadapi tekanan margin di satu pasar, mereka kerap melepas aset lain untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
Baca juga: Bitcoin Ambles 6,10 Persen ke 82.586,97 Dollar AS, Altcoin Ikut Terimbas
Media internasional mencatat bahwa volatilitas lintas aset meningkat secara bersamaan, mencerminkan kondisi pasar global yang sensitif terhadap berita makro dan korporasi.
Tekanan dari sisi teknikal
Selain faktor fundamental, indikator teknikal juga menunjukkan tekanan jual yang kuat. Sejumlah analis pasar menyebut indikator Relative Strength Index (RSI) bitcoin sempat memasuki wilayah oversold dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi tersebut menandakan tekanan jual yang intens, meski secara teknikal juga membuka peluang terjadinya pemantulan jangka pendek.
Namun, posisi opsi dan kontrak derivatif menunjukkan masih adanya ekspektasi penurunan lanjutan di kalangan sebagian pelaku pasar.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Bitcoin Kembali Terkoreksi
Besarnya posisi leverage di pasar derivatif kripto membuat pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap perubahan sentimen.
Volatilitas masih tinggi
Sejumlah analis menilai volatilitas kemungkinan tetap tinggi dalam jangka pendek, seiring pasar menunggu kejelasan arah kebijakan moneter AS dan stabilisasi sentimen di pasar saham global.
Tekanan harga bitcoin dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipicu faktor eksternal dibandingkan isu fundamental internal jaringan kripto itu sendiri.
Tag: #harga #bitcoin #hari #anjlok #arus #keluar #kebijakan #jadi #pemicu