Timbunan Sampah Capai 189 Ribu Ton Per Hari, Pemerintah Dorong Program Waste to Energy
- MCP dukung strategi nasional WtE sebagai Integrated Waste Movement Partner.
- Penggunaan electric feeder Hiab di Sukabumi tingkatkan efisiensi operasional.
- Solusi alat berat terintegrasi kunci stabilitas ekonomi proyek energi sampah.
Pemerintah terus memperkuat pengembangan program waste to energy (WtE) sebagai bagian dari strategi nasional mengatasi persoalan sampah sekaligus memperkuat bauran energi.
Langkah ini diambil seiring timbunan sampah nasional yang kini menembus lebih dari 189 ribu ton per hari.
Besarnya volume sampah tersebut mendorong pemerintah memandang WtE sebagai solusi jangka panjang. Program ini tidak hanya diarahkan untuk menekan beban lingkungan, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular serta ketahanan energi nasional.
Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, sejumlah proyek WtE dan refuse-derived fuel (RDF) mulai dikembangkan di berbagai daerah. Namun, keberhasilan proyek pengolahan sampah menjadi energi dinilai tidak hanya bergantung pada teknologi pembangkit atau tungku pembakaran.
Aspek krusial lain berada pada sistem penanganan dan pergerakan limbah yang menjadi fondasi operasional fasilitas WtE. Tanpa sistem alat berat yang tepat, proyek berisiko mengalami feeding tidak stabil, downtime tinggi, hingga lonjakan biaya operasional yang memengaruhi kelayakan ekonomi.
Dalam konteks itu, PT Multicrane Perkasa menegaskan peran alat berat sebagai faktor penentu keberhasilan proyek WtE. Perusahaan ini memosisikan diri sebagai integrated waste movement partner untuk mendukung rantai penanganan limbah secara menyeluruh.
Multicrane Perkasa mendukung penanganan limbah mulai dari pre-processing, transfer, feeding, hingga keberlanjutan operasional fasilitas WtE melalui pendekatan sistem yang terintegrasi. Pendekatan ini dinilai penting agar operasional proyek berjalan konsisten dan efisien.
Salah satu pengembangan yang saat ini berjalan adalah proyek WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, serta inisiatif RDF yang telah berjalan sejak Juli 2025. Pengalaman implementasi RDF di tingkat regional, termasuk untuk kebutuhan industri semen di Thailand, menunjukkan kesiapan sistem operasional menjadi faktor kunci keberhasilan.
Dalam konteks feeding limbah, Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa menyebut pihaknya mendorong solusi berbasis crane Hiab 19000 sebagai electric waste feeder. Sistem ini dirancang untuk memastikan aliran limbah ke lini WtE atau RDF berlangsung stabil dan terkontrol.
"Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung agenda pemerintah dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, kami melihat bahwa keberhasilan proyek Waste-to-Energy tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan," ujarnya kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).
Dua unit Hiab telah ditempatkan untuk mendukung operasional proyek di Sukabumi. Sistem feeding berbasis listrik ini dinilai lebih stabil dibanding metode konvensional berbasis excavator diesel, sekaligus menekan biaya operasional dan risiko gangguan teknis.
Sementara itu, untuk kebutuhan transfer dan handling limbah skala menengah hingga besar, Multicrane Perkasa juga menghadirkan material handler Liebherr LH 40 yang dirancang khusus untuk operasi waste duty. Unit ini memungkinkan penanganan limbah curah secara kontinu dan menjaga konsistensi feeding dalam jangka panjang.
“Melalui penempatan dua unit Hiab di Sukabumi serta dukungan material handler Liebherr LH 40, kami berharap dapat membantu memastikan proses penanganan limbah berjalan lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Tag: #timbunan #sampah #capai #ribu #hari #pemerintah #dorong #program #waste #energy