Prediksi Suram Harga Bitcoin, Fase Terburuk Belum Lewat
- Sejumlah analis memperingatkan bahwa tekanan terhadap harga mata uang kripto (cryptocurrency) Bitcoin belum berakhir.
Sejumlah analis menyebut, tren pergerakan Bitcoin dinilai masih cenderung melemah (fase bearish) dan berpotensi turun ke level 50.000-an dollar AS (sekitar Rp 838,5 juta) dalam beberapa waktu ke depan.
Istilah bearish sendiri merujuk pada kondisi pasar ketika harga aset cenderung turun, sentimen investor negatif, dan pelaku pasar lebih banyak menjual daripada membeli.
Kondisi ini tentu bikin investor “nyesek”. Pasalnya, baru pada Oktober 2025 lalu Bitcoin mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) di level 126.000 dollar AS (kira-kira Rp 2,1 miliar).
Namun, memasuki akhir Januari 2026, harganya sudah merosot ke kisaran 80.000 dollar AS (sekitar Rp 1,34 miliar), lalu kembali tertekan hingga menyentuh area 72.000 dollar AS (sekitar Rp 1,2 miliar) pada sesi perdagangan Selasa (3/2/2026) waktu AS.
Angka tersebut menjadi posisi terendah sejak 6 November 2024, ketika Bitcoin diperdagangkan di kisaran 68.898 dollar AS (sekitar Rp 1,15 miliar) per kepingnya.
Baca juga: Harga Bitcoin Makin Terperosok, Sentuh Angka Terendah Sejak 2024
Bitcoin sempat menembus level 72.884 dollar AS atau sekitar Rp 1,22 miliar (kurs Rp 16.765) pada sesi perdagangan Selasa (3/2/2026) waktu AS. Angka tersebut menjadi posisi terendah sejak 6 November 2024, ketika Bitcoin diperdagangkan di kisaran 68.898 dollar AS (sekitar Rp 1,15 miliar) per kepingnya.
Analis pasar Eric Crown menilai penurunan ini belum selesai. Ia memperkirakan Bitcoin masih bisa turun ke kisaran 55.000 dollar AS hingga 60.000 dollar AS (sekitar Rp 922,5 juta hingga Rp 1 miliar) sebelum akhirnya menemukan titik stabil.
Menurut Crown, pelemahan ini masih tergolong wajar jika dilihat dari siklus besar Bitcoin. Siklus besar merujuk pada pola pergerakan harga Bitcoin yang berulang setiap beberapa tahun, biasanya dipengaruhi oleh peristiwa halving, fase euforia pasar, lalu diikuti fase koreksi tajam.
Dalam siklus ini, lonjakan harga ekstrem hampir selalu diikuti penurunan dalam sebelum pasar kembali pulih.
Pandangan serupa disampaikan Head of Research Galaxy Digital, Alex Thorn. Ia menyoroti data historis yang menunjukkan bahwa ketika Bitcoin sudah turun lebih dari 40 persen dari puncak harga tertingginya, koreksi sering kali berlanjut hingga mendekati 50 persen.
Saat ini, harga BTC anjlok hampir 38 persen dari puncak tertingginya di atas 126.000 dollar AS. Jika menilik dari riwayat sebelumnya, dari rekor 126.000 dollar AS, penurunan 50 persen akan membawa harga Bitcoin ke area sekitar 58.000 dollar AS atau hampir Rp 972,6 juta.
Dalam sejarah BTC, setiap kali pasar masuk fase bearish, harga kerap mendekati harga terendah sebelum akhirnya berbalik arah.
Meski terdengar suram, tidak semua analis memandang kondisi ini sepenuhnya negatif. Level 55.000 dollar AS hingga 60.000 dollar AS justru dianggap sebagian pelaku pasar sebagai zona akumulasi, yakni level harga yang menarik untuk membeli secara bertahap bagi investor jangka panjang.
Namun dalam jangka pendek, pasar kripto diperkirakan masih akan bergerak sangat volatil alias bisa turun atau naik drastis dalam waktu singkat.
Baca juga: Trader Kripto Ukraina Ditemukan Meninggal Dunia di Dalam Lamborghini
3 penyebab harga Bitcoin anjlok
ilustrasi harga Bitcoin. Harga Bitcoin terus anjlok. Harga Bitcoin anjlok dan menyeret pasar kripto hingga turun di bawah 3 triliun dollar AS. Aset kripto terbesar ini memasuki bulan terburuk sejak kejatuhan industri kripto pada 2022. Sepanjang November, harga Bitcoin turun sekitar seperempat nilai totalnya.
Lantas, sebenarnya apa yang menyebabkan harga aset kripto bikinan Satoshi Nakamoto pada 2009 ini terjun bebas dalam beberapa waktu belakangan?
Berikut KompasTekno rangkumkan setidaknya tiga faktor utama penyebab harga Bitcoin anjlok pada awal Februari ini.
Pertama, tekanan utama datang dari penguatan signifikan dollar AS. Penguatan ini dipicu oleh ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang makin ketat, terutama setelah Kevin Warsh dinominasikan sebagai calon Ketua The Fed (bank sentral AS) berikutnya oleh Presiden AS Donald Trump.
Trump memilih calon pengganti Jerome Powell itu pada Jumat (30/1/2026). Setelah itu, investor bereaksi dengan sentimen negatif.
Menurut pendiri 10x Research, Markus Thielen, arah kebijakan yang dibawa Warsh berpotensi menjadi kabar buruk bagi kripto karena menekankan disiplin moneter, suku bunga riil yang lebih tinggi, serta pengetatan likuiditas.
Suku bunga riil tinggi itu racun buat aset berisiko, termasuk kripto. Karena salah satu dampaknya adalah membuat dollar AS jadi lebih menarik. Biaya pinjaman menjadi sangat mahal dan imbal hasil menabung menjadi sangat menarik karena daya beli uang meningkat.
Alhasil investor lebih pilih memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, misalnya menyimpan uang di dollar atau obligasi AS.
Kondisi tersebut membuat investor menarik dana dari aset-aset berisiko, termasuk kripto, seperti Bitcoin, Ethereum, dan lainnya. Semakin banyak investor yang jual BTC dalam waktu singkat, harga BTC otomatis terjun bebas.
Baca juga: Pencuci Uang Kripto Digerebek, Polisi Amankan Bitcoin Rp 3 Triliun
Ilustrasi aset kripto. Aturan pajak kripto baru resmi berlaku mulai 1 Agustus 2025.
Faktor kedua adalah molornya kepastian regulasi kripto di AS. Harapan pasar terhadap aturan yang lebih jelas kembali tertunda. Ini membuat banyak pemain besar memilih bersikap defensif dan menahan diri untuk makin terjun ke aset kripto.
Ketiga dan terakhir, tekanan terhadap harga Bitcoin makin diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ini setelah kepala militer Iran melontarkan peringatan soal kemungkinan serangan terhadap Israel.
Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengisyaratkan opsi aksi militer terhadap Iran, yang membuat pasar global kembali waspada.
Situasi ini diperburuk oleh laporan pergerakan militer Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, militer AS mulai memindahkan pasukan dan peralatan, menyusul pernyataan Trump yang mempertimbangkan serangan terhadap Iran.
Dalam kondisi geopolitik yang tidak pasti seperti ini, investor global cenderung masuk ke mode defensif.
Ketidakpastian dianggap sebagai musuh utama pasar, sehingga aset-aset berisiko tinggi seperti kripto menjadi yang pertama dilepas.
Dana investor biasanya dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih aman dan stabil, seperti uang tunai, obligasi pemerintah, serta logam mulia.
Itu dia tiga faktor utama yang bikin harga Bitcoin anjlok pada beberapa waktu belakangan ini, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Decrypt, Fast Company, dan sumber lainnya.
KompasTekno mengimbau bahwa tulisan ini murni sebagai pemberitaan terkini terkait industri kripto, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto. Keputusan investasi sepenuhnya adalah tanggung jawab pembaca.
Baca juga: Inikah Sosok Asli Satoshi Nakamoto Sang Pencipta Bitcoin?
Tag: #prediksi #suram #harga #bitcoin #fase #terburuk #belum #lewat