Harga Emas Antam Naik Turun, Apa Saja Pemicunya?
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tercatat mengalami fluktuasi tajam pada awal Februari 2026.
Pada Selasa (3/2/2026), harga emas Antam 1 gram tercatat sebesar Rp 2.844.000, turun sekitar Rp 183.000 dari hari sebelumnya.
Sementara itu, level puncak harga emas Antam tercatat pada 29 Januari 2026 mencapai Rp 3.168.000 per gram.
Baca juga: Harga Emas dan Perak Menguat Usai Anjlok, Ini Penyebabnya
Ilustrasi emas Antam, harga emas Antam hari ini, harga Antam hari ini, harga logam mulia Antam. Harga emas hari ini. Antam. Logam mulia.
Pergerakan harga emas di pasar domestik ini mengikuti pergerakan harga spot emas internasional yang mengalami volatilitas besar.
Harga emas spot global sempat jatuh ke level sekitar 4.403 dollar AS per ounce, lalu rebound ke kisaran 4.913 dollar AS per ounce dalam beberapa hari terakhir.
Lalu, faktor apa saja yang menyebabkan harga emas Antam naik dan turun?
1. Harga emas dunia sebagai pengarah utama
Pergerakan harga emas Antam sangat terkait dengan harga emas dunia di pasar spot yang diperdagangkan di pasar internasional dalam denominasi dollar AS per troy ounce.
Baca juga: Preferensi Investasi Logam Mulia Warren Buffett: Perak, Bukan Emas
Perbedaan kecil pada harga emas spot, yang dipengaruhi oleh likuiditas pasar, posisi spekulator, dan likuidasi margin, sering kali langsung diterjemahkan ke harga jual dan buyback di pasar domestik setelah dikonversi ke rupiah dan ditambahkan komponen biaya, pajak, dan spread.
Sebagai ilustrasi, rebound besar pada harga emas spot pada Selasa mendorong reli harga di banyak pasar domestik termasuk pasar emas batangan di Indonesia.
Selain itu, aksi jual besar-besaran di pasar berjangka dan perubahan ekspektasi kebijakan The Fed menjadi pemicu volatilitas harga emas spot, setelah tekanan awal, technical rebound dan pembelian opportunistic mendorong kenaikan intraday.
Emas Antam. Harga emas Antam hari ini. Harga Antam hari ini. Harga emas hari ini.
2. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS
Karena harga emas internasional dinyatakan dalam dollar AS, kurs rupiah menjadi saluran transmisi penting bagi harga emas di dalam negeri.
Baca juga: Kian Diburu, JP Morgan Prediksi Harga Emas Dunia Sentuh 6.300 Dollar AS
Penguatan dollar AS terhadap rupiah membuat harga emas dalam rupiah relatif lebih mahal jika harga spot stabil, sementara pelemahan dollar AS atau penguatan rupiah dapat mereduksi harga dalam rupiah.
Pelaku pasar domestik, termasuk pembeli ritel, memantau paritas dollar AS terhadap rupiah karena konversi kurs langsung memengaruhi harga jual emas per gram.
Pergerakan kurs juga berinteraksi dengan sentimen global, misalnya arus modal, sehingga efeknya bisa cepat dan tajam.
3. Kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga (real yields)
Perbedaan imbal hasil riil (real yields) instrumen berbasis mata uang, khususnya obligasi AS, berpengaruh kuat terhadap daya tarik emas sebagai aset non-imbal hasil (non-yielding).
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok Tajam, Apa Faktor Utamanya?
Ketika ekspektasi penurunan suku bunga global meningkat, biaya peluang memegang emas menurun sehingga permintaan investasi terhadap emas naik. Sebaliknya, kenaikan suku bunga riil memperkuat dollar AS dan menekan harga emas.
Laporan dan komentar analis pasar serta peristiwa terkait calon pimpinan bank sentral, termasuk penunjukan kandidat Ketua bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh telah memicu reaksi cepat pada harga emas dunia di awal Februari 2026.
4. Pembelian oleh bank sentral dan permintaan institusional
Pada periode 2024–2026, beberapa bank sentral terus menambah cadangan emasnya. Ini adalah fenomena yang disebut sebagai pembeli net dalam pasar global.
Ilustrasi emas batangan. Demam Emas Memicu Skandal Penipuan Investasi Emas di China: Perusahaan Gagal Bayar, Uang Rp 24,1 Triliun Tak Bisa Ditarik
Lembaga-lembaga ini berfungsi sebagai pembeli jangka panjang yang menopang permintaan fundamental.
Baca juga: Saat Harga Emas Guncang, Investor Ritel Memilih Tetap Tenang
Proyeksi beberapa bank investasi besar memperkirakan arus pembelian bank sentral dan investor institusional akan menjadi pendorong struktural bagi harga emas pada 2026.
Kenaikan pembelian cadangan oleh bank sentral tercatat sebagai salah satu faktor yang mengangkat harga sepanjang 2025 dan memasuki 2026.
Beberapa bank investasi memproyeksikan permintaan cadangan sentral dan aliran investasi akan tetap kuat, sehingga mendasari pandangan bullish jangka menengah pada emas.
5. Likuiditas pasar, aturan margin, dan mekanisme perdagangan berjangka
Aksi jual besar yang dipicu kenaikan margin atau perubahan aturan perdagangan, misal pengetatan margin, dapat menyebabkan koreksi tajam di pasar paper gold, lalu merambat ke harga spot.
Baca juga: Harga Emas Turun, Imbas Sentimen The Fed dan Aksi Ambil Untung
Contoh fenomena teknikal semacam ini terlihat pada penurunan drastis yang terjadi sebelum rebound awal Februari 2026, ketika beberapa katup likuiditas dan penyesuaian margin mengakselerasi aksi jual.
Pergerakan seperti ini sering bersifat mekanis dan dapat menyebabkan volatilitas yang tajam pada harga spot, lalu diikuti penyesuaian harga lokal.
6. Pasokan fisik: produksi tambang dan distribusi
Secara jangka menengah hingga panjang, pasokan emas fisik dari tambang memengaruhi keseimbangan pasar.
Meski demikian, penelitian industri menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi tambang relatif lambat dan inelastis dibandingkan dengan perubahan permintaan, maka faktor pasokan seringkali hanya menjadi driver minor dalam fluktuasi jangka pendek.
Baca juga: 3 Pemicu Harga Emas Melonjak dan Penyebabnya Turun
Ilustrasi emas, emas Antam, harga emas Antam, harga Antam. Harga emas hari ini. Harga emas Antam hari ini. Harga Antam hari ini. Harga emas Antam logam mulia. Harga logam mulia Antam.
Di Indonesia, ketersediaan produk emas Antam dan ketersediaan layanan buyback juga memengaruhi spread antara harga jual dan harga buyback yang dirasakan investor ritel.
7. Pajak, regulasi, dan dampaknya pada harga emas domestik
Perubahan aturan fiskal dan pajak dapat mengubah struktur biaya transaksi emas di pasar domestik.
Sejak 2025 pemerintah mengatur PPh Pasal 22 untuk transaksi emas dengan ketentuan tertentu, misalnya ketentuan tarif PPh 0,25 persen untuk pembelian oleh lembaga keuangan/bullion bank dan kewajiban pungutan pajak pada skema tertentu.
Peraturan pajak semacam ini memengaruhi harga jual bersih dan buyback serta dapat memperlebar spread antara harga emas Antam yang dijual ke publik dan harga pembelian kembali atau buyback.
Baca juga: Harga Emas Turun Setelah Reli Panjang, Analis Ungkap Penyebabnya
Dalam konteks 2026, penerapan ketentuan pajak dan penyesuaian aturan perpajakan menjadi bagian dari pertimbangan pelaku pasar.
8. Spread, biaya transaksi, dan mekanisme buyback
Harga emas yang dipublikasikan Antam biasanya mencantumkan harga jual per gram dan harga buyback emas Antam.
Perbedaan (spread) antara harga jual dan buyback dipengaruhi oleh biaya logistik, keamanan, retensi stok butik, serta kebijakan komersial perusahaan.
Pada periode volatile, spread dapat melebar sehingga investor ritel menghadapi risiko selisih jual-beli yang lebih besar jika membeli pada puncak lalu menjual saat harga tertekan.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok di Bawah 5.000 Dolar AS, Perak Merosot 14 Persen
9. Permintaan domestik: perhiasan, tabungan, dan investasi ritel
Di Indonesia permintaan emas datang dari berbagai segmen: perhiasan, investasi (batangan), dan tabungan (misal layanan tabungan emas di Pegadaian dan platform digital).
Kenaikan harga emas dunia sering diikuti peningkatan minat beli dari investor ritel yang melihat emas sebagai lindung nilai inflasi.
Harga resmi emas Antam hari ini.
Program tabungan dan akses online juga memudahkan pembelian sehingga memengaruhi arus permintaan domestik.
10. Sentimen geopolitik dan ketidakpastian sistemik
Konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, dan peristiwa makroekonomi yang menciptakan ketidakpastian pasar cenderung meningkatkan permintaan aset safe-haven seperti emas.
Baca juga: Harga Emas dan Perak Dunia Koreksi Jelang Pengumuman Calon Ketua Fed
Dalam beberapa tahun terakhir tekanan geopolitik dan risiko sistemik menjadi faktor yang mendukung aliran modal ke emas, sehingga setiap eskalasi risiko global sering tercermin pada kenaikan harga spot dan dampaknya ke harga lokal.
Laporan pasar internasional sepanjang 2025–2026 menyorot peran geopolitik sebagai salah satu pendorong permintaan emas.