Ray Dalio: Dunia di Ambang Perang Modal, Emas Jadi Lindung Nilai Utama
Ray Dalio batal gabung Danantara, namun belum ada informasi alasan soal Ray Dalio mundur dari Danantara.(WIKIMEDIA COMMONS/WEB SUMMIT)
06:24
4 Februari 2026

Ray Dalio: Dunia di Ambang Perang Modal, Emas Jadi Lindung Nilai Utama

Investor legendaris Ray Dalio memperingatkan bahwa dunia berada di ambang perang modal, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global.

Dikutip dari CNBC, Rabu (4/2/2026), dalam forum World Governments Summit di Dubai, Dalio mengatakan dunia saat ini hampir memasuki wilayah perang modal.

Perang modal, menurut dia, adalah kondisi ketika uang dan modal dipersenjatai melalui embargo perdagangan, pembatasan akses ke pasar modal, hingga penggunaan kepemilikan utang sebagai alat pengungkit.

Baca juga: Harga Emas Terkoreksi, Ray Dalio: Emas Adalah Uang yang Paling Fundamental

Prabowo Beri Bintang Tanda Jasa Utama ke Miliarder AS Ray Dalio.WIKIMEDIA COMMONS/WEB SUMMIT Prabowo Beri Bintang Tanda Jasa Utama ke Miliarder AS Ray Dalio.

“Kita berada di ambang,” kata Dalio.

“Itu berarti belum masuk, tetapi itu berarti kita cukup dekat dengan (perang modal), dan akan sangat mudah untuk melewati ambang batas menuju perang modal, karena ada ketakutan bersama," tutur Dalio.

Ketegangan geopolitik dan risiko sanksi

Dalio menunjuk pada meningkatnya ketegangan baru-baru ini terkait upaya pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk membawa Greenland, wilayah Denmark, di bawah kendali Washington.

Ia memperingatkan adanya kekhawatiran di kalangan pemegang aset berdenominasi dollar AS di Eropa.

Baca juga: Ray Dalio Sarankan Alokasi 15 Persen Emas ke Portofolio Investasi

Ia pun memperingatkan adanya ketakutan di antara para pemegang aset berdenominasi dollar AS di Eropa bahwa mereka dapat dikenai sanksi.

"Dan bahwa mungkin ada ketakutan timbal balik dari pihak AS bahwa mereka tidak dapat memperoleh modal, atau tidak mendapatkan pembelian (dari Eropa),” katanya.

Investor Eropa menyumbang 80 persen dari pembelian obligasi pemerintah AS oleh pihak asing antara April dan November 2025, menurut riset Citi yang dikutip Reuters.

Investor, pendiri, dan Chief Investment Officer Bridgewater Associates Ray Dalio.WIKIMEDIA COMMONS/GRAMEEN AMERICA Investor, pendiri, dan Chief Investment Officer Bridgewater Associates Ray Dalio.

Angka tersebut menunjukkan besarnya peran Eropa dalam pembiayaan defisit AS melalui pasar surat utang.

Baca juga: Ray Dalio Sarankan Investor Masukkan Emas ke Portofolio Investasi

Dalio menekankan, modal memiliki posisi sentral dalam dinamika ini.

“Modal, uang, itu penting,” ucap Dalio.

“Kita melihat kontrol modal terjadi di seluruh dunia saat ini, dan siapa yang akan mengalaminya masih dipertanyakan. Jadi, kita berada di ambang batas, itu tidak berarti kita sedang dalam (perang modal sekarang), tetapi itu berarti itu adalah kekhawatiran yang logis," tuturnya.

Sejak kembali ke Gedung Putih tahun lalu, Trump telah memberlakukan dan kemudian mencabut sejumlah tarif terhadap mitra dagang dan lawan politiknya. Keputusan tersebut memicu volatilitas di pasar keuangan.

Baca juga: Ray Dalio Soroti Pergeseran Kekuatan Ekonomi Global, China Tantang Dominasi AS

Kontrol modal dan preseden sejarah

Dalio menambahkan, secara historis, perang modal ditandai dengan langkah-langkah seperti kontrol valuta asing dan pembatasan arus modal.

Ia mengatakan lembaga-lembaga seperti dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) dan bank sentral telah membuat persiapan untuk menghadapi kemungkinan kontrol tersebut.

Menurut Dalio, perang modal di masa lalu berkembang di sekitar konflik besar. Menjelang masuknya AS ke Perang Dunia Kedua, AS memberlakukan sanksi terhadap Jepang sebagai eskalasi dari hubungan yang penuh perselisihan antara kedua negara.

“Kita dapat membayangkan situasi analog di sini, di dunia saat ini, antara China dan Amerika Serikat, atau bahkan telah dihipotesiskan dan dibicarakan oleh para pemimpin di berbagai negara tentang ketergantungan AS dan Eropa, karena kebalikan dari defisit perdagangan adalah modal, bahwa ada ketidakseimbangan modal, dan modal dapat digunakan sebagai senjata perang," papar Dalio.

Baca juga: Utang AS Membengkak, Ray Dalio Sebut Dunia Hadapi Risiko Mirip 1971

Pernyataan tersebut merujuk pada hubungan antara defisit perdagangan dan arus modal, di mana negara dengan defisit perdagangan biasanya menerima aliran modal dari luar negeri.

Ketidakseimbangan ini, menurut Dalio, berpotensi menjadi alat tekanan dalam situasi konflik.

Ilustrasi emas batangan. Demam Emas Memicu Skandal Penipuan Investasi Emas di China: Perusahaan Gagal Bayar, Uang Rp 24,1 Triliun Tak Bisa DitarikDOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan. Demam Emas Memicu Skandal Penipuan Investasi Emas di China: Perusahaan Gagal Bayar, Uang Rp 24,1 Triliun Tak Bisa Ditarik

Emas sebagai diversifikasi di tengah ketidakpastian

Di tengah ketegangan geopolitik dan risiko fragmentasi sistem keuangan global, Dalio menilai emas tetap menjadi lindung nilai utama.

Pada Selasa (3/2/2026), harga emas dan perak menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang masih tentatif setelah aksi jual besar-besaran yang sebelumnya menekan harga logam mulia.

Baca juga: Ray Dalio Wanti-wanti Bahaya Obligasi di Tengah Utang AS Rp 594 Kuadriliun

Ketika ditanya apakah pergerakan harga terbaru seharusnya menimbulkan pertanyaan tentang emas sebagai tempat teraman untuk menyimpan modal, Dalio menjawab, “Harganya tidak berubah setiap hari.”

Ia menambahkan, fokus investor sering kali terlalu terpusat pada fluktuasi harga jangka pendek.

“Harga emas naik sekitar 65 persen dari tahun lalu, dan turun sekitar 16 persen dari puncaknya, dan saya pikir orang-orang membuat kesalahan dengan berpikir, apakah harganya akan naik dan turun, dan haruskah saya membelinya?” kata Dalio.

Menurut dia, pendekatan yang lebih relevan adalah mempertimbangkan porsi emas dalam portofolio secara keseluruhan.

Baca juga: Pamer Momen Diskusi dengan Ray Dalio, Rosan Roeslani: Bahas Langkah Strategis Danantara ke Depan

“Sebaliknya, mungkin bank sentral atau pemerintah atau dana kekayaan negara harus mengatakan, berapa persentase portofolio saya yang harus saya miliki dalam emas (dan) mempertahankan persentase tertentu, karena ini adalah diversifikasi yang sangat efektif untuk bagian portofolio lain yang kurang menguntungkan," ungkap Dalio.

Dalio menekankan fungsi emas sebagai alat diversifikasi, bukan sekadar instrumen spekulatif.

“Karena emas adalah diversifikasi, ketika masa-masa sulit datang, emas berkinerja sangat baik, dan ketika masa-masa baik makmur, kurang begitu, (tetapi) ini adalah diversifikasi yang efektif,” tambah Dalio.

“Saya akan mengatakan hal terpenting adalah memiliki portofolio yang terdiversifikasi dengan baik," sebutnya.

Tag:  #dalio #dunia #ambang #perang #modal #emas #jadi #lindung #nilai #utama

KOMENTAR