Harga Bitcoin (BTC) Kembali Anjlok, Pasar Kripto Tertekan
- Harga bitcoin (BTC), aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, kembali mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir.
Pada Senin (2/2/2026), harga BTC turun mendekati 77.000 dollar AS, level yang tidak terlihat sejak April 2025, menghapus sebagian signifikan dari kenaikan yang sempat dicatat pada akhir 2025.
Fenomena ini terjadi di tengah likuidasi besar-besaran, spekulasi perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS), dan gejolak pasar global yang lebih luas terhadap aset berisiko.
Baca juga: Harga Bitcoin Anjlok di Bawah 80.000 Dollar AS, Ini Pemicunya
Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin (BTC) kembali turun tajam hingga menyentuh level di bawah 76.000 dollar AS pada akhir pekan ini.
Berbagai laporan menunjukkan bahwa tekanan itu tidak hanya dialami bitcoin, tetapi menyapu seluruh pasar kripto.
Penurunan harga bitcoin terbaru
Data dari bursa dan sumber pasar menunjukkan tren penurunan harga bitcoin yang berlangsung tajam di akhir Januari dan awal Februari 2026
Pada akhir Januari 2026, BTC sempat diperdagangkan di bawah level 80.000 dollar AS. Pada puncak penurunan bahkan menyentuh sekitar 75.700 hingga 77.000 dollar AS di beberapa bursa utama.
Penurunan ini merupakan bagian dari tren turun yang lebih luas. Harga bitcoin telah melemah sekitar 30 persen sejak mencapai level puncaknya di Oktober 2025.
Baca juga: Harga Bitcoin Turun Terus, Kapan Akan Pulih?
Volume transaksi dan kapitalisasi pasar kripto juga ikut merosot, disertai penurunan tajam pada altcoin seperti Ethereum dan Solana.
Penurunan ini mendekati atau bahkan memecahkan beberapa level teknikal penting, menandakan sentimen pasar yang semakin bearish dalam jangka pendek.
Mata uang kripto paling mahal di dunia, bitcoin (BTC). Harga Bitcoin anjlok ke Rp 1,84 miliar akibat memanasnya perang dagang AS?China.
Penyebab tekanan di pasar bitcoin
Ada sejumlah faktor yang saling berkaitan sebagai penyebab menurunnya harga bitcoin.
1. Likuidasi besar di pasar derivatif
Salah satu faktor langsung yang diperhatikan adalah likuidasi besar di pasar derivatif, yakni posisi leveraged yang dipaksa ditutup oleh bursa ketika harga bergerak tajam melawan taruhan trader.
Baca juga: Bitcoin Ambles 6,10 Persen ke 82.586,97 Dollar AS, Altcoin Ikut Terimbas
Menurut data dari CoinGlass, lebih dari 1,6 miliar dollar AS posisi leveraged terhapus dalam satu periode penurunan volatilitas tinggi, dengan mayoritas berasal dari posisi long (yang berharap harga naik).
Situasi ini mempercepat tekanan jual, karena likuidasi otomatis memicu lebih banyak aksi jual, mendorong harga lebih rendah dan berpotensi memicu reaksi pasar yang lebih luas.
2. Ketidakpastian kebijakan The Fed
Spekulasi seputar perubahan kebijakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor signifikan yang memengaruhi aset berisiko seperti bitcoin.
Reuters melaporkan bahwa kekhawatiran pasar seputar penunjukan calon Ketua The Fed Kevin Warsh, yang dipandang pro-ketat terhadap kebijakan moneter, memicu penurunan aset spekulatif secara luas, termasuk bitcoin.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Bitcoin Kembali Terkoreksi
Ketua The Fed memiliki pengaruh besar terhadap arah suku bunga dan kondisi likuiditas global.
Ekspektasi bahwa kebijakan moneter akan lebih restriktif dapat mengurangi jumlah uang murah yang tersedia untuk investasi pada aset berisiko, termasuk kripto.
Reaksi pasar terhadap penguatan dollar AS atau ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi biasanya membawa aliran modal keluar dari aset berisiko, membuat bitcoin lebih rentan terhadap penurunan.
Ilustrasi bitcoin.
3. Keputusan politik dan risiko geopolitik
Sejumlah laporan dari media dan analis juga menyebut bahwa dinamika geopolitik turut memberi tekanan.
Baca juga: Pasar Kripto Melemah, Bitcoin Kembali di Bawah Tekanan Jual
Ketidakpastian terkait kebijakan ekonomi AS, termasuk isu tarif dan potensi eskalasi konflik, dapat mengganggu sentimen investor global.
Isu geopolitik ini memperkuat preferensi investor terhadap aset yang dianggap lebih aman, seperti emas, sementara aset digital seperti bitcoin dipandang sebagai investasi berisiko tinggi.
4. Daya tarik aset safe-haven vs aset risiko
Dalam periode volatilitas pasar, investor global cenderung memindahkan modal ke aset safe-haven tradisional, seperti emas, yang dalam beberapa waktu terakhir mencatat kenaikan harga. Ini kontras dengan pergerakan bitcoin yang justru menurun, mengurangi klaim Bitcoin sebagai “emas digital”.
Dampak pasar yang lebih luas
Penurunan harga bitcoin tidak terjadi secara terisolasi. Pasar aset kripto secara umum mencatat tekanan jual hebat, dengan altcoin utama seperti Ethereum dan Solana mengalami koreksi yang bahkan lebih tajam dari bitcoin.
Baca juga: Bitcoin Pimpin Reli, Pasar Kripto Menguat dalam 24 Jam Terakhir
Dampak lebih luas dari penurunan ini meliputi:
1. Penurunan kapitalisasi pasar
Nilai total pasar kripto menyusut signifikan seiring BTC dan altcoin turun tajam.
2. Sentimen investor
Volatilitas yang tinggi meningkatkan ketidakpastian dan risiko bagi investor ritel dan institusional, mendorong beberapa pelaku pasar untuk mengurangi eksposur.
Ilustrasi bitcoin.
3. Likuiditas pasar derivatif
Likuidasi besar mencerminkan pasar derivatif yang sensitif terhadap tekanan harga, memperbesar siklus jual.
Baca juga: Bitcoin Naik 1,8 Persen, Altcoin Ikut Hijau dalam 24 Jam Terakhir
Sejumlah analis juga menyoroti bahwa saat BTC mengalami tekanan teknikal tajam, pasar altcoin yang likuiditasnya lebih rendah justru cenderung turun lebih tajam, memperlebar korelasi negatif antar aset kripto dalam jangka pendek.
Reaksi bursa dan dana kripto
Tidak hanya harga spot yang tertekan, sejumlah dana ETF Bitcoin juga melaporkan arus keluar modal yang signifikan.
Sebagai contoh, dana ETF Bitcoin di AS mencatat penarikan modal yang besar ketika harga turun, sebuah indikator bahwa investor institusional juga melakukan rebalancing portofolio mereka.
Pergerakan arus modal ini memperlihatkan bahwa respons investor terhadap harga tidak semata bersifat teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi risiko dan kebijakan di pasar keuangan global.
Baca juga: Harga Bitcoin Terpuruk dalam 24 Jam, Altcoin Ikut Terseret
Level teknikal kunci dan perhatian pasar
Secara teknikal, area 75.000 hingga 80.000 dollar AS menjadi level support penting yang kini diuji oleh harga bitcoin.
Penurunan di bawah wilayah ini dapat memperkuat momentum bearish jangka pendek, menurut beberapa analis pasar. Sementara resistance kuat di sekitar 90.000 dollar AS kembali menjadi titik perhatian pada rebound yang mungkin terjadi.
Namun, pasar masih menunjukkan volatilitas tinggi, dan level-level ini terikat erat dengan dinamika global, likuiditas pasar, serta ekspektasi kebijakan moneter AS.
Turbulensi dan ketidakpastian
Siklus penurunan harga bitcoin yang terus berlangsung sejak awal 2026 mencerminkan kombinasi faktor makro, teknikal, dan psikologis dalam pasar global yang lebih luas.
Baca juga: BlackRock Soroti Potensi Bitcoin saat Harga Emas Terus Menguat
Tekanan harga, likuidasi leveraged, perubahan ekspektasi kebijakan moneter, serta preferensi investor terhadap aset defensif menjadi bagian dari gambaran besar yang menentukan pergerakan BTC saat ini.
Harga bitcoin yang lagi-lagi menguji level terendah dalam 10 bulan tidak serta merta mencerminkan gambaran fundamental aset itu sendiri, namun lebih merupakan refleksi dari dinamika global yang kompleks, mencakup kebijakan moneter, geopolitik, dan perilaku risiko investor di tengah pasar keuangan yang terus bergolak.
Tag: #harga #bitcoin #kembali #anjlok #pasar #kripto #tertekan