Paradoks BBM: Harga Turun di Pompa, Produksi Terjun Bebas
Pekerja PT Pertamina (Persero) di wilayah Jawa bagian barat mendukung keandalan rantai pasok energi nasional.(DOK. Humas Pertamina)
15:48
2 Februari 2026

Paradoks BBM: Harga Turun di Pompa, Produksi Terjun Bebas

AWAL Februari 2026 dibuka dengan paradoks yang menarik untuk dicermati oleh publik Indonesia.

Di satu sisi, masyarakat menyambut hangat penurunan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Dex Series.

Di sisi lain, kabar besar datang dari perairan Cilacap: kedatangan satu juta barel minyak mentah dari Aljazair.

Peristiwa ini bukan sekadar rutinitas logistik, melainkan sinyal kuat mengenai posisi Indonesia dalam peta energi global yang kian kompleks.

Penurunan harga di pompa bensin seolah menjadi oase pendek di tengah gurun panjang tantangan produksi minyak domestik yang kian mengkhawatirkan dan penuh tanda tanya.

Kesenjangan antara konsumsi dan produksi di dalam negeri telah mencapai titik yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Baca juga: Lebih Prioritas Mana: MBG atau Penciptaan Lapangan Kerja?

Data menunjukkan kebutuhan kilang nasional kini menyentuh angka lebih dari satu juta barel per hari. Sementara produksi domestik terseok-seok di angka 600.000 barel akibat penuaan sumur-sumur minyak (natural decline) yang mayoritas sudah masuk fase matang.

Angka defisit sekitar 400.000-500.000 barel per hari, yang memaksa kita untuk terus menoleh ke pasar internasional.

Tanpa langkah strategis yang radikal, ketergantungan ini bukan lagi sekadar masalah ekonomi, melainkan ancaman serius terhadap kedaulatan energi nasional.

Maka, narasi "impor" perlu didudukkan kembali pada proporsi yang tepat. Kedatangan satu juta barel minyak dari Aljazair ke Kilang Cilacap akhir Januari lalu, adalah bagian dari strategi bring the barrel home.

Ini bukan sekadar membeli minyak dari pedagang asing, melainkan memulangkan hasil produksi dari ladang minyak di Aljazair yang sahamnya dimiliki Pertamina.

Namun, di balik keberhasilan memulangkan "minyak sendiri" ini, tersimpan kritik tajam: mengapa kita begitu piawai mengelola ladang di negeri orang, sementara eksplorasi di tanah air sendiri seolah berjalan di tempat dan terjebak dalam belenggu birokrasi?

Kegagalan eksplorasi domestik

Keberhasilan di Aljazair seharusnya menjadi cermin retak bagi kebijakan hulu migas di dalam negeri.

Selama satu dekade terakhir, gairah eksplorasi domestik tampak lesu, terjepit di antara ketidakpastian regulasi dan iklim investasi yang kurang kompetitif.

Kita sering membanggakan potensi cadangan di area frontier, terutama di wilayah Indonesia Timur, tapi realisasinya seringkali layu sebelum berkembang akibat hambatan perizinan yang berlapis.

Baca juga: Politik Saling Mengunci di Balik Reformasi Polri

Mengacu pada data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), target produksi satu juta barel seringkali terdengar seperti slogan utopis ketimbang target yang terukur, mengingat temuan cadangan raksasa (giant discovery) baru masih sangat minim.

Ironisme ini kian nyata ketika kita melihat bahwa banyak sumur domestik dibiarkan menua tanpa intervensi teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang masif dan tepat waktu.

Kita seolah lebih nyaman menjadi "pedagang" atau pengelola aset luar negeri daripada menjadi "petani" di lahan sendiri.

Jika ketidakmampuan meningkatkan produksi dalam negeri ini terus berlanjut, maka kemandirian energi Indonesia hanya akan menjadi jargon politik.

Kita memang memiliki minyak di luar negeri. Namun secara fundamental, ketergantungan pada rantai pasok global tetap membuat leher ekonomi kita rentan terhadap gejolak geopolitik dunia yang tidak pernah bisa diprediksi.

Selain itu, masalah spesifikasi teknis kilang menjadi kritik yang tak kalah pedas. Adalah anomali ketika negara dengan cadangan minyak bumi masih bergantung pada impor jenis light crude karena kilang domestik belum sepenuhnya mampu mengolah minyak berat hasil bumi sendiri.

Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) harus dipacu melampaui batas kecepatan normal.

Tanpa sinkronisasi antara karakteristik minyak domestik dengan teknologi kilang, kita akan terus terjebak dalam pola lama: mengekspor minyak mentah berkualitas tinggi milik sendiri dengan harga murah, lalu mengimpor minyak mentah dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan mesin-mesin kilang kita.

Inovasi ketahanan nasional

Solusi jangka panjang tidak bisa hanya bersandar pada keberhasilan memulangkan minyak dari Aljazair.

Indonesia harus berani melakukan diversifikasi energi secara agresif dan konstruktif. Penurunan produksi minyak bumi adalah kepastian alamiah yang tidak bisa dilawan hanya dengan diplomasi meja makan.

Baca juga: Darurat Kompetensi Polri dan Ancaman Negara Ramah Penjahat

Kita perlu mempercepat transisi ke energi baru terbarukan atau memperluas penggunaan biofuel seperti Pertamax Green 95 yang mulai merambah pasar.

Memperkuat ketahanan energi berarti memperkecil porsi minyak mentah dalam bauran energi nasional dan menggantinya dengan sumber daya yang lebih berkelanjutan dan tersedia melimpah di bawah kaki kita sendiri.

Pemerintah harus berani merombak total kebijakan fiskal migas agar lebih menarik bagi investor yang bersedia melakukan eksplorasi berisiko tinggi.

Selain itu, sinkronisasi kebijakan antara ketahanan energi dan perlindungan lingkungan harus diperkuat secara nyata, bukan sekadar pemanis dokumen kebijakan.

Mengutip pernyataan dalam berbagai diskusi kebijakan publik, ketahanan energi bukan sekadar tentang ketersediaan (availability), tetapi juga tentang keberlanjutan (sustainability).

Tanpa adanya reformasi besar-besaran di sektor hulu, maka setiap penurunan harga BBM di SPBU hanyalah kemenangan semu yang menutupi kerentanan fondasi energi kita.

Sebagai penutup, kedatangan minyak Aljazair adalah prestasi taktis yang patut diapresiasi, tapi sekaligus menjadi peringatan keras bagi manajemen energi nasional.

Kita tidak boleh menjadikan kesuksesan di luar negeri sebagai pembenaran atas kegagalan eksplorasi di dalam negeri.

Penurunan harga BBM hari ini adalah buah dari manajemen logistik yang baik. Namun kedaulatan sejati baru akan tercapai saat kita mampu mengoptimalkan setiap tetes minyak di bumi nusantara.

Indonesia harus terus memperkokoh posisinya dalam rantai pasok global, sembari melakukan otokritik tajam dan perbaikan tata kelola di rumah sendiri demi kesejahteraan rakyat yang berdaulat.

Tag:  #paradoks #harga #turun #pompa #produksi #terjun #bebas

KOMENTAR