Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 41,05 Miliar Dollar AS Sepanjang 2025
- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencatat surplus sebesar 41,05 miliar dollar AS.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, dengan capaian tersebut, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Dari Januari-Desember 2024 sebesar 31,33 miliar dollar AS.
“Sepanjang Januari sampai dengan Desember 2025, neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar 41,05 miliar dollar AS,” ujar Ateng saat paparan rilis BPS di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Baca juga: Membaca Ulang Angka Inflasi BPS, Lonjakan Harga Emas hingga Bencana Sumatera
Ateng menjelaskan mengatakan, surplus neraca perdagangan sepanjang 2025 tersebut meningkat 9,73 miliar dollar AS dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Secara khusus, pada Desember 2025 neraca perdagangan barang Indonesia mencatat surplus sebesar 2,51 miliar dollar AS. Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan non-migas yang mencatat surplus sebesar 4,60 miliar dollar AS.
Komoditas utama penyumbang surplus non-migas pada Desember 2025 antara lain lemak dan minyak hewan atau nabati , bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Sementara itu, neraca perdagangan migas pada periode yang sama masih mencatat defisit sebesar 2,09 miliar dollar AS, terutama disumbang oleh komoditas minyak mentah dan hasil minyak.
Ateng menjelaskan, secara kumulatif sepanjang Januari hingga Desember 2025, surplus neraca perdagangan terutama ditopang oleh surplus komoditas non-migas yang mencapai 60,75 miliar dollar AS.
Di sisi lain, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar 19,70 miliar dollar AS.
Berdasarkan mitra dagang, tiga negara penyumbang surplus neraca perdagangan terbesar Indonesia sepanjang 2025 adalah Amerika Serikat sebesar 18,11 miliar dollar AS, India sebesar 13,49 miliar dollar AS, dan Filipina sebesar 8,42 miliar dollar AS.
Sebaliknya, tiga negara penyumbang defisit neraca perdagangan terdalam adalah Tiongkok dengan defisit 20,50 miliar dollar AS, Australia sebesar 5,65 miliar dollar AS, dan Singapura sebesar 5,47 miliar dollar AS.
Jika dilihat khusus untuk neraca perdagangan non-migas, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai 21,12 miliar dollar AS, diikuti India sebesar 13,62 miliar dollar AS dan Filipina sebesar 8,33 miliar dollar AS.
Sementara itu, defisit non-migas terdalam berasal dari Tiongkok sebesar 22,17 miliar dollar AS, Australia sebesar 4,88 miliar dollar AS, dan Brasil sebesar 1,76 miliar dollar AS.
Ateng menyebut, dari sisi komoditas, surplus non-migas terbesar sepanjang 2025 berasal dari lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar 34,06 miliar dollar AS, bahan bakar mineral sebesar 28,01 miliar dollar AS, serta besi dan baja sebesar 18,44 miliar dollar AS.
Di sisi lain, defisit non-migas terbesar berasal dari mesin dan peralatan mekanik sebesar 28,48 miliar dollar AS, mesin dan peralatan elektronik sebesar 12,68 miliar dollar AS, serta plastik dan barang dari plastik sebesar 7,70 miliar dollar AS.
Ateng menambahkan, sepanjang Januari hingga Desember 2025 nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar 282,91 miliar dollar AS atau meningkat 6,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara nilai impor mencapai 241,86 miliar dollar AS atau naik 2,83 persen secara tahunan.
Dengan kinerja tersebut, BPS menilai surplus neraca perdagangan Indonesia pada 2025 mencerminkan ketahanan sektor eksternal di tengah dinamika ekonomi global.
Tag: #neraca #perdagangan #indonesia #surplus #4105 #miliar #dollar #sepanjang #2025