Antara Data dan Manusia, Insightika Lab Ajak Generasi Muda Membaca Ulang Media di Indonesia
- Arus informasi di Tanah Air bergerak semakin cepat. Dalam hitungan menit, isu dapat menjadi perbincangan luas diukur dari jumlah klik, engagement, dan tingkat viralitas.
Namun, kecepatan tersebut tidak selalu sejalan dengan kedalaman pemahaman. Data kerap hadir tanpa konteks, sedangkan manusia sebagai subjek sekaligus obyek informasi sering kali tidak mendapatkan ruang yang utuh dalam narasi media.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Innovesia bersama ID Teknologi menggagas Insightika Lab, gerakan kolaboratif yang mengajak generasi muda membaca ulang cara media bekerja di Indonesia.
Program tersebut dirancang sebagai ruang dialog dan eksplorasi yang mempertemukan empati, riset, serta teknologi untuk membangun pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap realitas sosial.
Seri perdana Insightika Lab digelar di Innovesia Cube, Jakarta Selatan, Minggu, (1/2/2026). Workshop ini melibatkan Gen Z dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar tingkat SMA/SMK, mahasiswa, hingga pekerja pemula (first jobber).
Baca juga: Kisah Melani, Kuliah dan Jalankan Bisnis Apotek 24 Jam, Punya Staf Anak Gen Z
Kegiatan tersebut menjadi awal dari rangkaian program yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai komunitas generasi muda di Indonesia.
Insightika Lab yang memadukan pendekatan inovasi berbasis human-centered design dengan pemanfaatan data serta teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Laboratorium media generasi muda
Berbeda dari forum diskusi konvensional, Insightika Lab tidak memosisikan peserta sebagai responden pasif.
Dengan pendekatan riset kualitatif dan human-centered design, peserta diajak merefleksikan pengalaman mereka sebagai konsumen media, memetakan emosi dan tingkat kepercayaan, menguji asumsi yang selama ini dianggap mapan, serta ikut merumuskan ide-ide konten secara kolektif.
Melalui proses tersebut, Insightika memosisikan diri sebagai laboratorium media generasi muda ruang kolektif tempat Gen Z tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi ikut memahami, mengkritisi, dan membentuk ulang standar media ke depan.
Baca juga: Gen Z dan Milenial Korsel Ramai-ramai Daftar Jadi Sopir Bus, Ini Alasannya
Founder Insightika, Fiter Bagus Cahyono, mengatakan, Insightika Lab lahir dari keresahan terhadap dinamika media di Indonesia yang semakin ditentukan oleh viralitas.
“Dalam sejumlah kasus, kekuatan informasi kini diukur dari seberapa viral konten menyebar, bukan dari seberapa kuat data dan pemahaman manusianya. Tak sedikit konten menjadi besar tanpa landasan data yang memadai, dan sebaliknya, banyak data hadir tanpa benar-benar memahami manusia di balik isu,” ujar Fiter dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Menurut Fiter, tantangan tersebut menjadi relevan di tengah bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.
“Gen Z dan early millennial bukan hanya audiens media. Mereka adalah generasi yang akan menentukan standar baru media yang berbasis data, bertanggung jawab secara sosial, dan tetap berangkat dari empati,” kata Fiter.
Peserta dan fasilitator Insightika Lab usai sesi diskusi mengenai peran data dan empati dalam kerja media.
Insightism: Perpaduan data dan insight
Dari proses dialog dan refleksi di Insightika Lab, diperkenalkan sebuah pendekatan yang disebut Insightism. Pendekatan ini diposisikan bukan sebagai ideologi, melainkan sebagai cara pandang dalam membaca dan memproduksi konten media.
Baca juga: Jeff Bezos Wanti-wanti Gen Z, Jangan Buru-buru Bikin Startup, Mending Kerja Dulu
Insightism memandang data dan insight manusia sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Data memberikan validasi dan pijakan objektif, sedangkan insight memberi makna, konteks, dan arah.
Tanpa data, insight berisiko menjadi opini kosong. Sebaliknya, tanpa insight manusia, data mudah menjadi angka dingin yang kehilangan relevansi sosial.
Dalam kerangka Insightism, media tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang terjadi”, tetapi melangkah lebih jauh ke “mengapa ini terjadi” dan “apa dampaknya bagi manusia”.
Pendekatan tersebut dirumuskan dalam tiga prinsip utama: data sebelum kesimpulan, insight sebelum narasi, dan konteks sebelum kecepatan.
Di sisi lain, kolaborasi antara Innovesia dan ID Teknologi menjadi fondasi penting dalam Insightika Lab.
Innovesia membawa keahlian riset berbasis empati dan pemahaman manusia. Adapun ID Teknologi berkontribusi melalui pengalaman panjang dalam pengolahan data dan kecerdasan buatan.
Baca juga: Gen Z Ubah Cara Industri Properti Memandang Layanan Parkir
Chief Executive Officer (CEO) ID Teknologi, Dave Damilan, menilai bahwa teknologi seharusnya berfungsi sebagai penguat pemahaman, bukan pengganti peran manusia.
“Kecerdasan buatan dan data akan kehilangan nilainya jika dilepaskan dari konteks manusia. Teknologi seharusnya membantu membaca pola dan memperkuat validasi, tetapi tetap berpijak pada empati,” tambahnya.
Refleksi mengenai pentingnya keseimbangan antara data dan manusia dituturkan peserta paling muda dalam workshop tersebut.
Keiralene, siswi kelas 2 SMA, menilai bahwa kehadiran data penting untuk membangun kepercayaan, tetapi tidak cukup tanpa cerita manusia di baliknya.
“Kadang aku lihat berita itu ramai banget, tapi setelah dibaca rasanya kosong. Kalau ada data, aku jadi lebih percaya. Tapi aku juga ingin tahu ceritanya dari sisi manusia, bukan cuma angkanya,” ujarnya.
Baca juga: Talkshow Energy Connect 5.0 Soroti Kesiapan Gen Z Masuk Sektor Energi
Ia juga mengaku sering membaca kolom komentar untuk memahami bagaimana sebuah isu berdampak pada banyak orang.
“Dari komentar, aku bisa lihat sudut pandang yang berbeda-beda. Itu membantu aku memahami isu dengan lebih utuh,” kata Keiralene.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa bahkan di tingkat sekolah menengah, generasi muda telah memiliki sensitivitas terhadap kualitas informasi tidak hanya cepat atau viral, tetapi juga valid dan bermakna.
Cara Gen Z memaknai media
Seri perdana Insightika Lab mencatat sejumlah temuan penting. Peserta menilai data sebagai elemen utama dalam memvalidasi berita maupun opini. Konten tanpa rujukan yang jelas cenderung diragukan kredibilitasnya.
Selain itu, kolom komentar dipandang sebagai ruang percakapan kedua yang membantu memahami spektrum opini publik.
Baca juga: Dari Trauma ke Marriage is Scary, Ini 5 Faktor Psikologis Kenapa Milenial hingga Gen Z Takut Nikah
Kepercayaan juga tidak hanya diarahkan pada media arus utama, tetapi turut diberikan kepada media independen yang dinilai lebih dekat dan personal.
Temuan lain menunjukkan bahwa Gen Z cenderung kurang menyukai visual yang terasa artifisial atau dihasilkan AI, serta lebih menghargai konten yang mampu memberikan konteks dibanding sekadar cepat.
Sebagai informasi, Insightika Lab dirancang bukan sebagai program satu kali, melainkan bagian dari gerakan jangka panjang.
Dengan penyelenggaraan rutin di berbagai komunitas Gen Z di Indonesia, inisiatif ini diharapkan dapat berkontribusi pada perubahan lanskap media baik dari sisi konten maupun keberlanjutan model bisnisnya.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, Insightika menawarkan pendekatan yang lebih reflektif. Tidak berlomba menjadi yang paling cepat, tetapi berupaya menjadi yang paling memahami di antara data dan manusia.
Tag: #antara #data #manusia #insightika #ajak #generasi #muda #membaca #ulang #media #indonesia